~Eps. 4~
Fatir pun menuju kekamar Nandita. Fatir mengira Nandita sedang menangis. Ternyata, Nandita sedang sibuk dengan komputer-nya.
"Aku mengira kamu sedang menangis?" ungkap Fatir.
"Duduklah!" ajak Nandita. Menarik kursi untuk Fatir.
"Aku benar-benar tak bisa menebak isi dalam kepalamu itu." Fatir pun duduk dikursi yang disediakan Nandita.
"Aku memang selalu bertengkar dengan pria tua itu," ketus Nandita.
"Dia Ayahmu!" ujar Fatir.
"Bukan. Dia adalah pamanku." Nandita kembali menatap monitor-nya.
"Ada apa sebenar-nya. Kenapa kamu dan Ayahmu tak bisa akur?" tanya Fatir. Masih penasaran dengan kehidupan Istri-nya.
"Saat aku kecil. Aku selalu ingin bermain bersama anak-anak seumuranku. Tapi, dia hanya melarangku. Dia hanya memintaku belajar , belajar dan terus belajar. Kata-nya demi masa depanku. Dia ingin aku menjadi orang yang sukses seperti diri-nya. Tapi, dia tak sadar bahwa dia telah menghancurkan hidupmu. Sampai aku besar hanya mendengar dan melakukan keinginan-nya. Aku bahkan lupa rasa-nya berbahagia. Aku terbiasa sendiri. Aku tak pernah memiliki teman apalagi pacar. Yang aku fikirkan hanya karir dan pekerjaan. Selebih-nya, bagiku itu tak berguna. Bahkan aku merasa lebih banyak membenci daripada menyukai," jelas Nandita.
"Mulai sekarang. Aku akan memperlihatkan padamu. Betapa indah-nya hidup ini," ungkap Fatir lalu memegang tangan Istri-nya.
"Aku benar-benar tak memerlukan itu," ungkap Nandita. Lalu melepas tangan Fatir dari tangan-nya.
Mengambil tas-nya. Dan keluar dari kamar. Fatir pun berbaring dikasur Nandita. Melihat setiap sudut kamar Istri-nya.
"Wanita ini. Benar-benar misterius. Aku menyukai-nya," ucap Fatir sambil tersenyum.
Nandita pun melewati ruang tamu begitu saja.
"Nandita! Mau kemana kamu? Tidak baik meninggalkan suami sendiri," teriak sang Ayah.
"Dia bukan anak kecil yang harus ditemani setiap waktu," pekik Nandita. Lalu keluar rumah. Dan masuk kedalam mobil-nya.
Seharian dilalui Nandita dengan bekerja dibutik-nya. Dia sama sekali tak memikirkan suami-nya.
***
Sementara itu Fatir sedang duduk bersama mertua-nya.
"Maafkan, Nandita Nak!" sahut Ayah Nandita.
"Nggak papa kok, Ayah!" jawab Fatir.
"Dia memang seperti itu. Ini semua karena kesalahan Ayah-nya," tambah Ibu Nandita, sedih.
"Jangan menyalahkan Ayah. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Putri-nya." Fatir mencoba menenangkan Ibu mertua-nya.
"Aku akan menemui Nandita dibutik-nya," ungkap Fatir lalu menuju keluar rumah. Dan melajukan mobil-nya kebutik Nandita.
Melihat Fatir datang. Seluruh pegawai Nandita kegirangan.
"Ibu bos. Suami anda datang," ucap Pegawai dibutik Nandita.
"Siapkan kopi untuk-nya," pinta Nandita.
Lalu duduk disofa yang tersedia dibutik-nya. Fatir pun duduk didekat Nandita.
"Aku bosan dirumah," sahut Fatir kepada Nandita.
"Bersantailah disini." Nandita pun hendak berdiri.
"Eh... Boleh kita pergi jalan-jalan sebentar?" ajak Fatir.
"Aku ada pekerjaan. Aku selesai dulu." Nandita pun kembali menyusun beberapa gaun.
Fatir pun mendekati Nandita. Melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Nandita. Betapa cantik Istri-nya itu. Sama sekali Fatir tak melihat cacat ditubuh Istri-nya.
Fatir pun tersenyum pada Nandita. Melihat Fatir tersenyum pada-nya Nandita pun mendekati Suami-nya. Dan memegang lengan Suami-nya. Lalu tersenyum. Dan menarik Fatir keruang ganti baju.
"Bisa kamu menolongku?" tanya Nandita.
"Tentu," balas Fatir.
"Lepas kemejamu," pinta Nandita.
Fatir pun terkejut. Berfikir Nandita ingin melakukan hubungan suami-istri dibutik-nya.
"Tapi ini..." ungkap Fatir canggung.
"Tapi apa. Aku akan membantumu," ucap Nandita. Lalu membuka kancing baju suami-nya.
Fatir hanya bisa menelan ludah. Peluh terlihat jelas didahi-nya. Melihat Nandita sedang membuka kancing kemeja-nya. Jari yang indah sedang sibuk membuka kancing baju Fatir satu persatu. Fatir pun mulai mendekati wajah Nandita. Hendak mencium-nya. Namun, Nandita tak sengaja menghindar dan kebelakang Fatir. Melepas kemeja Suami-nya. Fatir pun tersenyum. Nandita pun duduk menghadap didepan Fatir. Fatir hanya bisa menelan ludah saat Nandita berada didepan kaki-nya.
"Apa dia ingin membuka celanaku?" batin Fatir. Sambil menggigit bibir bawah-nya. Hasrat-nya mulai menggebuh. Perlahan Nandita membuka tali pinggang yang dikenakan Fatir. Nafas Fatir pun semakin tak karuan. Dia pun memegang kepala Istri-nya. Nandita pun mendongakkan kepala melihat Suami-nya. Wajah Nandita sangat mempesona. Fatir pun tidak tahan lagi ingin mencium bibir Indah Nandita. Dia pun menarik Nandita berdiri dihadapan-nya. Nandita mengerutkan dahi-nya.
"Ada apa Dok. Apa anda sakit? Kenapa dahi anda penuh dengan keringat?" tanya Nandita. Lalu mengambil tissu yang tersedia diruangan itu. Dan melap keringat Suami-nya. Kemudian tangan satu-nya menarik tali pinggang Fatir.
"Nandita! Aku mencintaimu," ungkap Fatir lalu memegang belakang Nandita. Dan mencium-nya. Nandita pun terkejut. Fatir pun memeluk Nandita. Dan ingin membuka rest gaun yang dikenakan Nandita. Nandita pun mendorong Fatir.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nandita, dengan raut wajah kesal.
"Kamu yang meminta-nya. Kenapa kamu marah," jawab Fatir.
Nandita pun tertawa.
"Kamu salah faham ternyata. Aku hanya ingin meminta tolong menjadi model untuk tali pinggang terbaruku. Aku liat tubuhmu cukup atletis. Jadi, itu bisa membantuku." Nandita tersenyum lalu mengambil kotak yang berisi tali pinggang produk terbaru-nya.
Fatir pun tertawa. Karena ternyata Nandita hanya ingin menjadikan-nya model untuk produk terbaru-nya. Nandita pun memasang tali pinggang untuk Suami-nya.
"Celanamu cukup bagus. Jadi, tidak usah diganti," ujar Nandita masih tersenyum manis. Fatir sangat senang bisa membantu Istri-nya. Setelah memasang tali pinggang. Nandita pun membawa Fatir keruang pemotretan.
"Bergaya santai saja, seperti ini." Nandita memperagakan kepada suami-nya.
Fatir pun mengikuti-nya.
"Suami Ibu bos sangat tampan. Bos akan betah dikamar dengan tubub seperti itu," bisik pegawa Nandita.
Nandita hanya tersenyum. Lalu kembali mendekati Fatir. Dan merapikan rambut Suami-nya.
"Peluk..." ucap kameramen tanpa mengeluarkan suara kepada Fatir. Fatir pun tersenyum . Lalu menarik pinggang Istri-nya. Hingga mendekat dari-nya.
"Boleh aku mempunyai foto bersama istriku," bisik Fatir. Nandita pun mengangguk.
Dan berbalik kearah kamera. Fatir memegang pinggang Nandita.
"Bukan seperti ini. Tapi begini..." Nandita menarik tangan Suami-nya . Melingkari perut-nya.
Lalu tersenyum didepan kamera. Fatir pun tersenyum . Kamera mengambil foto mereka berdua.
Setelah berfoto. Dan menyelesaikan pemotretan. Fatir dan Nandita pun masuk kedalam kamar ruang ganti. Nandita pun membuka tali pinggang.
"Kok nggak bisa dilepas?" tanya Nandita.
"Biar aku coba," sahut Fatir membantu Nandita melepas tali pinggang itu. Namun sangat susah.
"Diamlah. Aku akan melepas-nya," ucap Nandita. Dan salah seorang pegawai masuk kedalam ruang ganti. Dan melihat Nandita jongkok menghadap dikaki suami-nya.
"Apa Ibu bos melakukan itu?" batin Pegawai itu.
"Aduh... Sakit..." racau Fatir saat Nandita memaksa melepas tali pinggang itu.
"Ini tidak bisa kalau tidak kuat. Nandita tidak bisa keluar," ucap Nandita.
Membuat pegawai itu semakin salah faham.
"Ibu bos menghisap itu," batin Pegawai Nandita masih memandangi Nandita yang sibuk dengan didepan kaki suami-nya.
Fatir pun memegang kepala Nandita. Karena kesakitan.
"Aku seperti-nya memasang terlalu kuat," ucap Nandita.
"Pelan-pelan saja. Nggak papa lama keluar-nya," ujar Fatir masih meringis kesakitan.
"Aku banyak pekerjaan. Ini harus cepat." Nandita pun memaksa kunci tali pinggang itu terlepas. Hingga melukai tangan-nya.
"Auuhhh....." teriak Nandita. Fatir pun segera memegang tangan Nandita. Dan melihat jari Nandita berdarah.
"Seharus-nya kamu tidak memaksa-nya. Aku akan coba melepas-nya sendiri," ujar Fatir lalu mencoba melepas tali pinggang-nya.
Pegawai itu pun tertawa. Karena telah salah faham.
"Ternyata melepas tali pinggang," ucap pegawai itu lalu keluar dari ruang ganti.
Fatir pun berhasil melepas tali pinggang-nya.
."apa kamu punya kotak obat?" tanya Fatir.
Nandita pun mengangguk. Dan keluar dari ruang ganti. Fatir pun memakai kemeja-nya. Dan mengikuti Nandita. Disofa Fatir pun mengobati tangan Nandita. Dia mengingat pertemuan pertama-nya dengan Nandita. Namun, Nandita sama sekali tak mengingat-nya.
"Berikan tabku," perintah Nandita.
Pegawai-nya pun memberi Nandita tablet tab-nya.
"Tidak bisakah kamu berhenti bekerja," tanya Fatir saat selesai mengobati jari Nandita.
"Hanya ini yang bisa menemaniku," ungkap Nandita.
"Sekarang aku ada. Lalu apa guna-nya aku," ujar Fatir.
"Baiklah. Ayo kita jalan-jalan," ajak Nandita. Lalu menaruh tablet-nya.
Mereka pun pergi berjalan-jalan diteman kota. Disana banyak pedagang kaki lima. Dan berbagai macam makanan.
"Apa kamu ingin mencoba beberapa gorengan," tanya Fatir.
"Aku tak suka dengan makanan berminyak," jawab Nandita.
"Cobalah dulu," ajak Fatir. Membeli beberapa tusuk gorengan. Nandita pun mencoba memakan-nya.
"Hmm... Ternyata enak. Selama ini aku hanya makan salad," jawab Nandita.
Fatir pun membersihkan mulut Nandita.
"Terimah kasih," ucap Nandita.
"Kita duduk disana. Tak baik buat lambungmu jika makan sambil berdiri," pinta Fatir.
"Baiklah," Nandita pun mengikuti Fatir.
"Nandita! Apa kamu mau mencoba untuk mengenal kebahagiaan?" tanya Fatir.
"Apa masih bisa?" tanya Nandita ragu.
"Bisalah. Kebahagiaan tidak mengenal umur," jawab Fatir.
"Baiklah," jawab Nandita sambil meneruskan makan-nya.
"Kamu tidak mau?" tanya Nandita. Fatir pun membuka mulut-nya. Dan Nandita menyuap Suami-nya.
Itu adalah kali pertama untuk Nandita berjalan-jalan sambil mencoba beberapa makanan dipinggir jalan.
"kamu pasti menikmati hidupmu," ungkap Nandita.
"Tentu, hidup hanya sekali. Dan nyawa sangat berharga. Jadi, selagi kita masih hidup kenapa tidak mencoba hal yang membuat kita bahagia," tutur Fatir.
"Bagus-nya. Bisa memilih hal yang kamu sukai," lirih Nandita.
"Jangan banyak mengeluh. Belum terlambat kok. Aku pastikan hari-harimu kedepan akan selalu bahagia," ungkap Fatir.
Nandita pun mengangguk. Fatir sangat bahagia melihat Nandita tersenyum manis.
Fatir sangat ingin membahagiakan Nandita. Dan berusaha membuka perasaan Nandita untuk-nya.
***
Setelah berjalan-jalan. Mereka pun pulang kerumah.
"Aku mandi dulu ya," ucap Nandita lalu masuk kedalam kamar mandi dikamar-nya. Fadil pun melihat beberapa foto Istri-nya. Begitu banyak foto disana. Tapi tak ada satu pun yang terlihat senyuman didalam-nya. Fatir pun mulai memahami bahwa Istri-nya adalah wanita yang kesepian . Dan sangat membutuhkan teman untuk menghibur-nya. Dan mengajarkan kebahagian untuk-nya.