Pagi berikutnya, di lorong yang sama, di kursi besi yang sama, Arka melihat ibunya memegang selembar kertas dengan tangan gemetar.
Ia baru pulang sebentar tadi subuh untuk mandi dan ganti baju, lalu kembali. Senja sudah pulang semalam, dipaksa pulang oleh Arka—"Kamu sekolah besok, Sen, jangan ngeyel"—tapi ia datang lagi pagi ini membawa roti dan susu kotak untuk Lala. Damar dan Bima mengirim pesan setiap beberapa jam, menanyakan kabar. Dunia di luar lorong putih ini masih berjalan, masih berbicara tentang festival, tentang Best Original Song, tentang Senja Terakhir yang namanya disebut di panggung. Tapi di dalam lorong ini, dunia menyusut jadi satu lembar kertas di tangan ibunya.
"Bu?" Arka duduk di samping ibunya. "Itu apa?"
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia membalik kertas itu agar Arka bisa melihat. Rincian biaya. Kamar perawatan. Obat. Pemeriksaan jantung. Tindakan. Deretan angka yang Arka baca, dan setiap angka itu membuat dadanya makin sesak.
"Ini baru sampai hari ini," kata ibunya pelan. "Belum termasuk kalau Ayah harus dirawat lebih lama. Belum tindakan lanjutan kalau jantungnya—" Ia tidak menyelesaikan.
Arka menatap angka di bagian bawah kertas itu. Jumlah totalnya lebih besar dari gaji ayahnya selama berbulan-bulan. Lebih besar dari apa pun yang pernah ada di rumah mereka.
"Kita... kita ada simpanan?" tanya Arka, walau ia tahu jawabannya.
Ibunya menggeleng. "Yang ada cuma buat makan dan SPP kamu sama Lala. Itu pun ngepas." Ia melipat kertas itu, seolah dengan melipatnya angka-angka itu jadi lebih kecil. "Ada BPJS, Alhamdulillah, jadi nggak semua harus kita bayar. Tapi tetap ada yang nggak ditanggung. Obat-obat tertentu. Kamar. Yang ini." Ia mengetuk salah satu baris.
Arka teringat sesuatu, dan untuk sekejap ada cahaya kecil. Festival. Hadiah.
"Bu, kemarin band kami dapet penghargaan. Best Original Song. Ada hadiahnya."
Wajah ibunya sedikit cerah. "Berapa, Nak?"
Dan di situlah cahaya itu meredup. Karena Arka tidak benar-benar tahu. Best Original Song bukan juara utama. Hadiah utama—uang besar dan kontrak label—itu untuk juara satu, band kota sebelah. Penghargaan mereka adalah penghargaan kehormatan. Ada hadiah uangnya, ya, tapi Damar sudah memberi tahu semalam dengan hati-hati: jumlahnya tidak sebesar yang mereka bayangkan dulu saat berlatih di garasi. Dan uang itu pun tidak cair seketika—harus lewat panitia, lewat verifikasi data band, lewat transfer yang katanya "diproses dalam beberapa minggu ke depan."
"Ada hadiahnya, Bu," kata Arka, memilih kata-kata dengan hati-hati, tidak ingin memberi harapan yang akan ia rampas sendiri sebentar lagi. "Tapi... bukan yang besar. Dan cairnya nggak langsung. Beberapa minggu, katanya."
Ibunya mengangguk pelan, dan Arka melihat sesuatu padam sedikit di matanya. Bukan kekecewaan pada Arka—ibunya tidak pernah begitu—tapi kelelahan yang lebih dalam. Kelelahan orang yang sudah terlalu sering berhitung dan selalu kurang.
"Nggak apa-apa, Nak," kata ibunya, mengusap punggung tangan Arka. "Itu pun udah bantu. Nanti pas cair, kita pakai buat obat Ayah. Sisanya... Ibu pikirin nanti."
Arka menatap lantai. Selama berminggu-minggu, di garasi, ia dan teman-temannya berlatih dengan satu bayangan: kalau menang, hidup akan berubah. Hadiah akan menutup SPP, akan membantu keluarga, mungkin akan jadi pintu ke sesuatu yang lebih besar. Bayangan itu yang membuat mereka kuat menahan lelah.
Tapi kenyataan, seperti biasa, lebih membumi dari bayangan. Penghargaan itu nyata, kehormatan itu nyata, suara yang sampai ke ayahnya itu nyata. Tapi tidak ada satu pun dari itu yang bisa langsung membayar baris-baris angka di kertas yang dilipat ibunya.
Lagu bisa menyentuh ribuan hati. Tapi lagu tidak bernyanyi di kasir rumah sakit.
Arka berdiri. "Bu, aku cari kerja. Aku bisa bantu—"
"Kamu sekolah, Nak." Nada ibunya tegas, walau lembut. "Ayah pesen itu berkali-kali. Tugas kamu sekolah dan musik. Biar urusan ini Ibu sama Ayah yang—" Ia berhenti, sadar betapa kosongnya kalimat itu sekarang, dengan ayahnya terbaring di balik pintu.
Mereka berdua diam. Di balik pintu, mesin yang menggambar garis hijau berdetak pelan, teratur. Tes. Tes. Tes. Seperti tetesan dari atap garasi yang dulu. Seperti detak yang tidak mau berhenti.
Arka menatap pintu itu. Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa kemenangan kemarin dan masalah hari ini bisa hidup berdampingan, di lorong yang sama, di hati yang sama. Bahwa bersuara di panggung tidak membatalkan beban di rumah. Keduanya nyata. Keduanya miliknya.