Tiga hari ayahnya dirawat, dan setiap hari sepulang sekolah Arka langsung ke rumah sakit, masih dengan seragam, tas di punggung. Senja sering menumpang sampai persimpangan sebelum berpisah ke arah rumahnya yang lebih enak, dan setiap kali ia menawarkan ikut, dan setiap kali Arka bilang tidak usah, dan setiap kali Senja tetap mengirim pesan malamnya: gimana ayahmu hari ini?
Hari ketiga, kondisi ayahnya membaik. Garis hijau di mesin lebih stabil. Dokter berkata jantungnya melemah karena kelelahan menahun dan tekanan darah yang lama tidak terkontrol, tapi belum sampai harus tindakan besar—asal istirahat, asal tidak kerja berat lagi, asal teratur minum obat. Kata-kata itu melegakan dan membebani di saat yang sama. Tidak kerja berat lagi. Bagi keluarga yang seluruh penghasilannya berasal dari punggung yang mengangkat semen, kalimat itu sama beratnya dengan semen itu sendiri.
Sore itu, saat Arka masuk, ia mendapati Lala sudah di sana, duduk di tepi ranjang, dan ayahnya sedang setengah duduk, disangga bantal. Mereka sedang berbicara, dan begitu melihat Arka, Lala terdiam dengan ekspresi anak kecil yang tahu ia baru saja membocorkan sesuatu.
"Ka," kata ayahnya. Suaranya sudah lebih kuat dari kemarin. "Sini."
Arka mendekat. "Ada apa, Yah?"
Ayahnya menatapnya lama, dan di mata lelaki itu ada sesuatu—haru, dan rasa bersalah yang dalam. "Lala cerita," katanya. "Soal kamu. Soal hari festival itu."
Arka melirik Lala, yang menunduk.
"Lala bilang," lanjut ayahnya, suaranya mulai bergetar, "kamu udah tahu Ayah pingsan, dari pesan ibumu, pas kamu mau naik panggung. Bener?"
Arka diam sejenak, lalu mengangguk.
"Dan kamu tetap naik." Ayahnya menelan ludah. "Kamu nyanyi empat lagu, di depan ribuan orang, sambil tahu bapakmu lagi di rumah sakit, nggak tahu hidup atau—" Ia tidak menyelesaikan. Tangannya yang kasar menutupi matanya sebentar.
"Ayah yang nyuruh, Yah," kata Arka pelan. "Ibu nulis pesan Ayah. 'Suruh Arka nyanyi. Ayah dengerin dari sini.' Aku nyanyi karena Ayah minta."
"Iya." Ayahnya menurunkan tangannya, dan pipinya basah. "Ayah minta. Tapi Ayah baru ngerti sekarang seberat apa yang Ayah minta. Ayah nyuruh anak Ayah naik panggung sambil nahan kabar bapaknya sekarat. Ayah pikir Ayah ngelindungin mimpi kamu. Tapi Ayah malah naruh beban yang—" suaranya pecah, "—yang nggak seharusnya ditanggung anak seumur kamu."
Arka duduk di kursi plastik, dan ia merasa matanya panas. "Aku nggak nyesel, Yah."
"Gimana kamu bisa nyanyi dalam keadaan kayak gitu?" Ayahnya menatapnya, benar-benar bertanya, ingin mengerti.
Arka memikirkannya. Bagaimana ia bisa? Tangannya gemetar, suaranya nyaris patah di lagu pertama, dunia hampir runtuh di belakang panggung. Tapi lalu—
"Aku bayangin Ayah dengerin," katanya akhirnya. "Aku berhenti mikirin ribuan orang itu. Aku cuma mikir satu orang. Aku nyanyi buat Ayah, ke arah rumah sakit, biar suaranya nyampe ke sini. Itu yang bikin aku bisa." Ia tersenyum lewat air mata. "Jadi sebenernya, Ayah yang bikin aku kuat di panggung, Yah. Bukan beban. Ayah jadi alasan aku nggak ambruk."
Ayahnya menatapnya lama sekali. Lalu lelaki itu mengulurkan tangan, dan Arka menyambutnya, dan ayahnya menariknya ke pelukan—canggung, dengan selang infus dan kabel-kabel di antara mereka, tapi nyata, lebih nyata dari pelukan pertama mereka di kamar dulu.
"Anak Ayah," bisik lelaki itu di bahu Arka, suaranya hancur. "Anak Ayah bersuara."
Lala, di tepi ranjang, ikut menangis, lalu memeluk keduanya, tidak mau ketinggalan. Untuk beberapa saat mereka bertiga begitu, di kamar putih yang berbau karbol, dengan mesin yang menggambar garis hijau di samping mereka, berdetak teratur.
Saat mereka melepas, ayahnya menyeka mata dengan punggung tangannya yang berselang infus. "Mana hadiahnya? Yang Best Original Song itu. Ayah pengen lihat."
Arka tertawa kecil, basah. "Belum dikasih, Yah. Cuma diumumin di panggung. Sertifikatnya nanti dikirim. Hadiah uangnya juga beberapa minggu lagi."
"Pas dikasih, taruh di rumah ya. Yang keliatan." Ayahnya bersandar kembali ke bantal, lelah tapi puas. "Biar Bu Tini lewat, biar dia lihat. Anak gang kita dapet penghargaan dari juri label di alun-alun kota."
Arka tersenyum. Di luar jendela kamar, senja turun lagi, merah di balik gedung-gedung. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya sejak pesan itu masuk di belakang panggung, senja itu tidak terasa seperti perpisahan. Terasa seperti hari yang akhirnya boleh berakhir dengan tenang.