Pada hari kelima, dokter mengizinkan ayahnya pulang. Tapi izin itu datang dengan syarat yang ditulis besar-besar di kepala Arka, lebih besar dari resep obat yang panjang: tidak boleh kerja berat. Tidak boleh mengangkat beban. Tidak boleh terlalu lelah. Tekanan darah harus dijaga. Kontrol rutin. Obat tidak boleh putus.
Mereka membawa ayahnya pulang naik mobil tetangga—Pak Surya, ternyata, yang dengan sukarela meminjamkan mobil pikapnya dan menyetir sendiri, sesuatu yang membuat Arka diam-diam terharu. Pemilik garasi bocor itu, yang selama ini hanya muncul sesekali, datang membantu tanpa diminta.
"Udah, nggak usah sungkan," kata Pak Surya saat Arka berkali-kali mengucapkan terima kasih, sambil membantu memapah ayah Arka ke kursi depan. "Bapakmu yang nambal atap garasi waktu itu, kan? Sekarang giliran saya. Tetangga itu gitu, saling nambal yang bocor."
Di rumah, ibunya sudah membereskan kamar, menggeser tempat tidur agar ayahnya tidak perlu naik tangga apa pun—walau rumah mereka memang tidak punya tangga. Lala memasang gambar buatannya sendiri di dinding kamar, gambar empat orang memegang alat musik dan satu lelaki besar di tengah, dengan tulisan AYAH JAGOAN. Ayahnya tertawa kecil melihatnya, tawa yang membuatnya batuk, dan ibunya buru-buru menyuruhnya berbaring.
Tapi begitu rumah itu kembali tenang, begitu Pak Surya pamit dan tetangga yang menjenguk pulang, kenyataan yang sejak tadi ditunda akhirnya duduk bersama mereka di ruang tamu yang sempit.
Tidak boleh kerja berat.
Itu berarti ayahnya tidak bisa kembali ke proyek. Mandor sudah menelepon—dengan nada simpati, tapi tetap jelas—bahwa pekerjaan kuli tidak bisa menunggu, bahwa ada orang lain yang menggantikan. Penghasilan utama keluarga itu, sumber dari mana semen diangkat dan SPP dibayar dan beras dibeli, berhenti dalam semalam.
"Ibu bisa nerima jahitan lagi," kata ibunya malam itu, saat ayahnya sudah tidur dan hanya Arka yang menemaninya di dapur. Suaranya pelan, berhitung lagi seperti biasa. "Dulu Ibu sering. Sebelum Lala lahir. Mesin jahit masih ada, tinggal diservis." Ia menatap tangannya sendiri. "Nggak banyak, tapi lumayan."
"Aku bantu, Bu," kata Arka.
"Kamu sekolah."
"Aku bisa sambilan. Sore. Malam. Apa aja."
Ibunya menatapnya, dan Arka melihat di mata ibunya pertarungan yang sama: tidak ingin membebani anaknya, tapi tahu beban itu tidak bisa lagi ditampung berdua. Akhirnya ibunya menghela napas.
"Ayah nggak bakal setuju kamu ninggalin sekolah atau musik."
"Aku nggak bakal ninggalin sekolah, Bu. Aku nggak bakal ninggalin band." Arka menatap ibunya. "Tapi aku udah bukan anak kecil yang cuma bisa nonton. Aku bisa nyumbang. Biar sedikit. Itu hak aku juga, Bu, buat bantu keluarga ini."
Ibunya tidak menjawab, tapi tangannya terulur dan mengusap kepala Arka, seperti waktu ia masih kecil. Itu jawabannya.
Malam itu Arka berbaring di kamar yang ia bagi dengan Lala. Adiknya sudah tidur, napasnya teratur. Di tangan Arka, buku lirik lusuh yang sama. Ia membukanya, dan menatap halaman kosong setelah Tangan Kasar.
Beban yang dulu hanya ditanggung ayahnya kini bergeser. Ia merasakannya jelas malam itu—seperti karung semen yang berpindah dari satu punggung ke punggung lain. Punggung ayahnya sudah tidak boleh menyangga. Maka punggung-punggung lain harus belajar. Punggung ibunya, yang akan kembali ke mesin jahit. Dan punggungnya sendiri, yang masih muda, masih sekolah, masih bermimpi—tapi sekarang juga harus mulai menyangga.
Ia tidak menulis lirik malam itu. Tidak ada baris yang datang. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kepalanya terlalu penuh dengan angka, dengan jadwal, dengan rencana, bukan dengan melodi.
Tapi sebelum tidur, ia teringat sesuatu yang lama tertunda. Sebuah janji kecil, yang ia ucapkan di kamar ini juga, berbulan-bulan lalu, kepada sosok kecil yang kini tidur di sebelahnya.
Kak, besok antar Lala beli buku, ya. Bukunya habis.
Iya, Dek. Nanti Kakak usahain.
Ia belum pernah menepatinya. Dunia terlalu sibuk runtuh dan dibangun ulang. Tapi janji itu masih di sana, menunggu, sekecil dan sesabar tetesan dari atap.
Besok, pikir Arka sebelum matanya tertutup. Besok aku tepati.