Sabtu pagi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Arka tidak pergi ke proyek dan tidak pergi ke garasi.
Ia bangun pagi, membantu ibunya menyiapkan sarapan dan obat ayahnya, lalu mengetuk pundak Lala yang masih meringkuk di kasur.
"Dek. Bangun. Hari ini Kakak antar beli buku."
Lala membuka mata, mengerjap, lalu duduk tegak dalam sekejap. "Beneran, Kak?"
"Beneran. Cepetan mandi."
Lala melonjak dari kasur dengan semangat yang membuat Arka tertawa kecil. Janji yang ia ucapkan berbulan-bulan lalu—saat malam itu Lala bergumam setengah tidur, saat uang di celengannya tinggal beberapa ribu, saat ia bilang nanti Kakak usahain dengan hati yang tahu ia belum tentu bisa—akhirnya, hari ini, bisa ia tepati.
Bukan karena uangnya tiba-tiba banyak. Hadiah festival belum cair. Justru sekarang keluarga mereka lebih sulit dari sebelumnya, dengan ayah yang tidak boleh bekerja. Tapi semalam Arka menghitung. Ia menyisihkan sebagian kecil dari uang yang ia tabung diam-diam selama berminggu-minggu kerja proyek—uang yang harusnya untuk senar gitar baru, untuk keperluannya sendiri. Tidak banyak. Tapi cukup untuk beberapa buku tulis dan satu buku pelajaran yang Lala butuhkan.
Mereka berjalan kaki ke toko buku di dekat pasar, melewati gang sempit, melewati rumah-rumah petak, melewati garasi Pak Surya yang pintunya tertutup. Lala memegang tangan kakaknya, melompat-lompat kecil di trotoar yang retak.
"Kak," kata Lala di tengah jalan, "tadi malam Lala denger Ayah sama Ibu ngomong. Soal uang. Kita susah ya, Kak, sekarang?"
Arka menatap adiknya. Dulu, refleksnya adalah menutupi. Tersenyum, bilang tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Senyum yang ia tulis di buku liriknya, senyum yang menutupi luka, senyum yang ia warisi dari ayahnya. Selama ini ia mengira melindungi orang berarti menyembunyikan dari mereka.
Tapi ia sudah belajar, dengan cara yang keras, bahwa menyembunyikan tidak selalu melindungi. Lagu Tangan Kasar lahir karena ia berhenti menyembunyikan. Ayahnya kembali padanya karena kejujuran, bukan karena dinding. Maka kali ini ia memilih jalan yang lain.
"Iya, Dek," katanya pelan. "Kita lagi susah. Ayah nggak boleh kerja berat dulu, jadi pemasukan kita berkurang."
Lala mengangguk serius, mencerna. "Terus gimana?"
"Kita bantuin Ibu. Ibu mau jahit lagi. Kakak mau cari kerja sambilan. Lala juga bisa bantu."
"Lala bisa apa?"
Arka berjongkok agar sejajar dengan adiknya, di tengah gang. "Lala bisa belajar yang rajin pakai buku yang kita beli hari ini. Itu udah bantu banget. Biar nanti Lala pinter, biar nanti Lala yang gantian jagain kita semua." Ia mengacak rambut adiknya. "Deal?"
Lala tertawa. "Deal!"
Di toko buku, Lala memilih dengan hati-hati, sadar bahwa setiap rupiah penting, dan itu membuat dada Arka sesak sekaligus bangga—adiknya yang masih kelas empat sudah belajar berhitung dengan cara yang seharusnya tidak perlu dipelajari anak seumurnya. Mereka membeli tiga buku tulis dan satu buku pelajaran. Lala memeluk buku-buku itu ke dadanya seperti memeluk harta karun.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Arka bergetar. Grup band.
Senja: Ka, ayahmu udah pulang ya? Gimana?
Damar: Kita kangen latihan, Ka. Tapi santai aja, kita tungguin lu.
Bima: Ka, sertifikat Best Original Song-nya udah dikirim ke panitia katanya. Bentar lagi bisa diambil!
Arka menatap layar, lalu menatap adiknya yang berjalan di sampingnya, memeluk buku-buku baru, wajahnya berseri. Di belakang mereka, gang sempit membentang, dan di ujungnya, rumah dari dinding bata yang catnya mengelupas—rumah yang dulu ia sebut cuma dinding, bukan tempat pulang.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat pulang. Bukan karena tembok-temboknya berubah. Tapi karena di dalamnya ada ayah yang masih hidup, ibu yang masih berjuang, adik yang masih bisa tertawa memeluk buku.
Ia mengetik balasan singkat.
Arka: Ayah udah pulang, makasih semua. Aku masih ada urusan keluarga beberapa hari. Tapi minggu depan kita latihan lagi. Ada banyak yang harus kita omongin. Soal lagu. Soal masa depan. Soal langkah selanjutnya.
Ia menekan kirim, lalu memasukkan ponsel ke saku. Senja terakhir kemarin sudah lewat. Hari ini matahari pagi, dan ada babak baru yang menunggu—babak di mana ia bukan lagi sekadar anak yang menumpahkan beban ke lagu, tapi anak yang mulai menyangga, sama seperti ayahnya, dengan caranya sendiri.
"Kak," kata Lala, menggandeng tangannya lagi. "Makasih ya udah nepatin janji."
Arka tersenyum. Kali ini senyumnya tidak menutupi apa-apa.
"Sama-sama, Dek," katanya. "Ayo pulang."