Amplop itu tidak benar-benar amplop. Hanya sebuah pesan masuk di akun media sosial band yang selama ini hampir tidak pernah dipakai. Senja yang menemukannya, sore itu, saat mereka berkumpul di garasi setelah seminggu lebih libur dari latihan karena ayah Arka baru saja pulang dari rumah sakit.
"Eh, lihat ini," kata Senja, menyodorkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. "Dari kemarin malem masuk, aku baru ngeh."
Arka menerima ponsel itu. Bima dan Damar langsung merapat, menjejalkan kepala dari kiri dan kanan. Layar kecil itu menampilkan beberapa baris yang dingin tapi membuat dada berdesir.
Halo, Senja Terakhir. Kami dari tim Arunika Records. Kami nonton penampilan kalian di Suara Muda kemarin, terutama lagu penutupnya. Ada beberapa hal yang ingin kami obrolin. Boleh minta kontak yang bisa dihubungi?
"Arunika Records," Bima mengeja nama itu seperti mantra. "Itu label beneran, kan? Bukan abal-abal?"
"Yang ngeluarin album band-band indie yang sering muter di radio itu," kata Damar pelan. Ia tidak seheboh Bima, tapi Arka melihat jakunnya naik turun. "Iya, beneran."
Garasi mendadak sunyi. Di sudut, ember biru yang dulu menampung tetesan atap kini duduk kering, sebab atap sudah ditambal ayah Arka. Tapi Arka merasa ada sesuatu yang menetes di dalam dirinya, perlahan, tes, tes, tes—bukan air, melainkan sesuatu yang lebih sulit dinamai. Antara takut dan ingin.
"Kok cuma segini?" tanya Bima akhirnya. "Mereka mau apa? Ngajak rekaman? Kontrak? Bayar?"
"Nggak ditulis," kata Arka. Ia membaca ulang pesan itu untuk ketiga kalinya. Setiap kata terlalu sopan, terlalu halus, dan justru karena itu terasa licin. "Cuma minta kontak."
"Ya udah, kasih aja!" Bima sudah hampir merebut ponsel.
"Bentar." Damar menahan tangannya. "Kita nggak tahu mereka siapa. Bisa aja akun palsu. Bisa aja calo yang ngaku-ngaku label terus minta duit pendaftaran."
Bima terdiam. Senja menggigit bibir. Arka tahu Damar benar—gang tempat mereka tumbuh mengajari mereka untuk curiga pada apa pun yang datang terlalu manis. Tapi ia juga tahu, di mata Bima dan Senja, ada cahaya yang sudah lama tidak ia lihat sejak hari festival yang berakhir di lorong rumah sakit itu.
"Kita cek dulu," kata Arka. "Liat akunnya beneran punya label apa nggak. Liat website-nya. Kalau beneran, baru kita bales."
Mereka menghabiskan setengah jam berikutnya berdesakan di sekitar satu ponsel, menelusuri jejak Arunika Records. Akunnya bercentang, pengikutnya puluhan ribu, foto-fotonya menampilkan band-band yang memang pernah mereka dengar. Semakin lama menelusuri, semakin nyata terasa, dan semakin tidak nyata pula.
"Ini... beneran, Mar," kata Senja, suaranya nyaris berbisik.
Damar mengangguk perlahan. Bahkan ia tidak bisa menyembunyikan getar di suaranya. "Kayaknya iya."
Arka menyandarkan punggung ke tembok garasi yang dingin. Di kepalanya, wajah ayahnya terbayang—ayah yang masih harus istirahat di rumah, yang punggungnya kini lebih sering ditopang bantal daripada beban semen. Tagihan rumah sakit belum lunas. Ibu mulai menerima jahitan tetangga untuk menambal lubang di kas keluarga. Dan sekarang, sebuah pintu—setidaknya terlihat seperti pintu—mendadak terbuka di layar selebar telapak tangan.
"Ka," kata Senja. "Kita bales, nggak?"
Semua mata menatapnya. Lagi-lagi begitu. Arka jarang memerintah, tapi soal yang besar, mereka selalu menunggunya. Ia menarik napas.
"Kita bales," katanya akhirnya. "Tapi hati-hati. Kita kasih kontak, kita denger maunya apa. Belum berarti kita iya."
Bima mengepalkan tangan ke udara, tapi menahannya supaya tidak terlalu heboh. Senja mengetik balasan, membacanya keras-keras dulu supaya semua setuju, baru menekan kirim. Pesan itu terkirim. Centang satu, lalu dua.
Lalu mereka hanya duduk, menatap layar, seakan label itu akan menjawab saat itu juga. Tentu saja tidak.
"Udah, jangan ditungguin," kata Damar sambil tertawa kecil, memecah ketegangan. "Latihan dulu sono."
Mereka tertawa, gugup tapi lega. Arka mengambil gitar tua ayahnya, memetik satu akord. Bunyinya bergema di garasi yang sekarang tidak bocor lagi. Tapi entah kenapa, di balik akord itu, ia merasa ada hujan baru yang sebentar lagi turun—hujan yang tidak akan bisa ditampung ember biru mana pun.