Pak Surya jarang masuk ke garasinya sendiri. Selama ini ia hanya pemilik yang baik hati—seorang lelaki tua yang membiarkan empat anak SMA memakai bekas bengkelnya untuk latihan, asal mereka tidak merusak apa pun dan pulang sebelum terlalu malam. Karena itu, ketika sore itu pintu garasi terbuka dan sosok Pak Surya berdiri di sana dengan wajah yang tidak biasa, semua langsung berhenti bermain.
"Maaf ganggu, Nak-nak," kata Pak Surya. Ia memegang kunci motor di tangan, memutar-mutarnya gugup. "Bentar aja."
Arka meletakkan gitarnya. "Iya, Pak. Ada apa?"
Pak Surya melihat sekeliling garasi—ke amplifier murah yang mereka beli patungan, ke ember biru di sudut, ke noda lama oli di lantai yang sudah jadi bagian dari tempat ini. Ada sesuatu di matanya yang membuat Arka langsung tahu kabar itu tidak baik.
"Begini," kata Pak Surya akhirnya. "Anak Bapak yang di kota, yang kerja kantoran itu, mau Bapak pindah ke sana. Tinggal sama dia. Katanya Bapak udah terlalu tua tinggal sendiri."
Senja, yang berdiri di belakang keyboard, ikut menegang. Damar meletakkan bass-nya pelan.
"Terus rumah ini... sama garasinya, mau dijual," lanjut Pak Surya. Ia mengucapkannya cepat, seperti melepas plester dari luka. "Udah ada yang naksir. Tetangga sebelah mau perluas warungnya."
Garasi itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Arka mendengar Bima menarik napas tajam.
"Kapan, Pak?" tanya Arka. Suaranya terjaga, tapi di dalam, sesuatu meluruh.
"Belum pasti. Sebulan, dua bulan. Tergantung urusan surat-surat." Pak Surya tersenyum, tapi senyumnya sedih. "Bapak nggak enak sama kalian. Di sini kalian latihan dari—berapa, dua tahun? Bapak suka denger suara kalian dari rumah. Apalagi yang lagu soal bapaknya itu." Ia menatap Arka. "Bapak nggak ngerti musik. Tapi yang itu, Bapak ngerti."
Arka tidak tahu harus menjawab apa. Tenggorokannya seperti tersumbat.
"Bapak cuma mau ngabarin dari sekarang," kata Pak Surya. "Biar kalian nggak kaget. Kalau ada apa-apa, kalau dapet tempat baru, jangan sungkan. Bapak doain band kalian jadi orang." Ia menepuk pintu garasi pelan, seperti mengelus punggung anjing tua. "Ya udah, Bapak permisi. Lanjut aja latihannya."
Ia pergi, menutup pintu, meninggalkan empat orang yang tiba-tiba kehilangan suara.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Bima yang biasanya paling cerewet hanya menatap lantai. Senja duduk di kursi keyboard, jemarinya menggantung di atas tuts tanpa menyentuh.
"Jadi kita bakal kehilangan garasi," kata Bima akhirnya, suaranya tidak percaya. "Tempat kita."
"Belum, Bim," kata Damar, tapi suaranya pun tidak yakin. "Masih sebulan dua bulan."
"Terus abis itu kita latihan di mana?" Bima berdiri. "Di rumah siapa? Rumah gue petak. Rumah Arka lebih petak. Rumah lu, Mar, nggak ada ruang. Yang ada cuma rumah Senja, dan—" Ia berhenti, melirik Senja, lalu menelan kata-katanya.
"Dan apa?" tanya Senja, datar.
"Nggak apa-apa," kata Bima cepat.
Tapi semua tahu apa yang hampir ia ucapkan. Rumah Senja yang enak, yang luas, yang orang tuanya mendukung. Bayang-bayang lama itu, retak kelas yang dulu hampir membubarkan mereka, sekejap menampakkan diri lagi sebelum cepat-cepat dikubur.
Arka mengangkat tangannya, pelan. "Sudah. Jangan ribut. Kita belum sampai ke situ."
Ia berjalan ke sudut garasi, ke ember biru yang kering, dan menatapnya. Di tempat ini, ia pertama kali menemukan suaranya. Di tempat ini, ayahnya menambal atap diam-diam. Di tempat ini, mereka berempat retak dan menyembuhkan diri. Kehilangan garasi bukan cuma kehilangan tempat. Itu seperti kehilangan akar.
"Mar," kata Arka tanpa menoleh. "Yang dari label kemaren, udah bales?"
Damar mengeluarkan ponsel, memeriksa. "Belum."
Arka mengangguk pelan. Dua pintu sedang bergerak bersamaan—satu menutup, satu mungkin membuka. Dan ia belum tahu mana yang lebih ia takuti.
"Ya udah," katanya. "Sekarang kita masih punya tempat ini. Selama masih punya, kita pakai sebaik-baiknya." Ia mengambil gitarnya kembali, lalu memandang teman-temannya. "Dari awal. Hujan Bulan Tiga."
Lagu tentang atap yang bocor itu mengisi garasi yang justru sekarang sudah tidak bocor lagi. Tapi liriknya tidak pernah terasa sejujur sore itu.