Mereka mengira urusan dengan label akan berjalan lewat layar—pesan demi pesan, demo dikirim, lalu menunggu. Tapi seminggu setelah demo terkirim, balasan yang datang justru mengejutkan: ada orang Arunika yang kebetulan akan ke kota mereka, dan ingin bertemu langsung.
Mereka bertemu di sebuah kafe dekat alun-alun, tempat yang menurut Bima "harga kopinya satu gelas bisa buat makan sehari." Mereka datang berempat, gugup, mengenakan baju paling rapi yang mereka punya. Arka memakai kemeja yang sebenarnya milik ayahnya, sedikit kebesaran di bahu.
Orang itu sudah menunggu. Lelaki muda, mungkin awal tiga puluhan, mengenakan kaus polos mahal dan topi rajut. Ia berdiri, tersenyum lebar, menyalami mereka satu per satu.
"Reza," katanya. "A&R di Arunika. Artist and Repertoire—intinya gue yang nyari dan ngembangin musisi. Duduk, duduk. Mau pesen apa? Gue yang traktir."
Bima hampir memesan yang paling mahal sampai Damar menyikutnya.
Reza ramah—terlalu ramah, kalau Arka boleh jujur pada dirinya sendiri. Ia memuji demo mereka, terutama Tangan Kasar. "Pas pertama denger di festival, gue langsung nyatet," katanya. "Vokal lu, Arka, itu jarang. Banyak yang suaranya bagus, tapi suara lu ada lukanya. Itu nggak bisa dilatih. Itu lahir dari sesuatu."
Arka tidak tahu harus berterima kasih atau merasa ditelanjangi. Ia hanya mengangguk.
Reza bicara cepat, penuh istilah. Branding. Single. Streaming. Engagement. Sebagian mereka tangkap dari internet, sebagian membuat mereka mengangguk saja pura-pura mengerti. Senja yang paling banyak bertanya; Damar paling banyak diam, memperhatikan; Bima paling banyak antusias, matanya berbinar di setiap kata "terkenal" dan "gede."
"Jadi gini," kata Reza akhirnya, menyandarkan diri. "Arunika tertarik. Tapi gue jujur ya, label nggak gampang. Kita bukan donatur. Kita investasi. Kalau kita keluarin duit buat produksi, promosi, kita harus yakin balik modal. Makanya gue mau ngenalin kalian dulu, liat kalian serius apa enggak."
"Kita serius, Mas," kata Bima cepat.
Reza tersenyum. "Gue suka semangat lu. Tapi serius itu bukan semangat doang. Serius itu komitmen. Latihan tiap hari. Bikin lagu baru terus. Mau diatur soal jadwal, soal citra. Mau kerja kayak ini pekerjaan, bukan hobi." Ia menatap mereka satu per satu, lalu berhenti di Arka. "Lu yang nentuin di band ini, kan?"
Arka mengernyit. "Kita semua nentuin."
"Hmm." Reza tersenyum tipis, seperti mencatat sesuatu. "Oke. Bagus malah, kalau bener kompak. Tapi nanti kalau udah masuk industri, biasanya label perlu satu yang bisa diajak ngomong. Satu wajah. Itu nanti kita atur."
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat perut Arka tidak enak. Satu wajah. Ia melirik Senja, yang juga menangkapnya, lalu Damar, yang rahangnya mengeras pelan.
Pertemuan itu berakhir hangat. Reza membayar semua, memberi mereka kartu nama, dan berkata akan mengabari soal langkah berikutnya. "Kalian punya sesuatu," katanya di pintu kafe. "Cerita kalian punya sesuatu. Band dari garasi bocor. Itu jual banget. Jaga itu."
Mereka berjalan pulang menyusuri trotoar. Bima tidak bisa berhenti bicara—tentang Reza, tentang label, tentang masa depan. Senja lebih hati-hati. Damar diam.
Arka berjalan paling belakang, memegang kartu nama itu. Jual banget. Dua kata yang menempel seperti getah. Garasi bocor, kemiskinan keluarganya, lagu untuk ayahnya yang sakit—semua itu, di mata Reza, adalah "cerita yang jual."
Ia teringat hari saat seluruh gang menonton video buram dirinya menyanyi, dan ayahnya merasa dipermalukan. Saat itu, cerita keluarganya jadi gosip. Sekarang, cerita yang sama jadi nilai jual.
Ia tidak yakin mana yang lebih membuatnya tidak nyaman.