Dokumen itu datang lewat surel, dalam lampiran berformat PDF yang dibuka Senja di laptop kakaknya. Judulnya panjang, penuh kata-kata yang terdengar resmi dan dingin: Perjanjian Kerja Sama Artis. Belasan halaman. Huruf-huruf kecil.
Mereka berkumpul di rumah Senja—satu-satunya tempat dengan meja cukup besar dan koneksi internet stabil—mengelilingi laptop seperti mengelilingi sesuatu yang berbahaya.
"Coba baca keras-keras," kata Bima.
Senja membaca. Tapi semakin ia membaca, semakin sedikit yang mereka pahami. Kalimat-kalimatnya berkelok, dipenuhi istilah yang tidak satu pun dari mereka tahu artinya. Royalti. Master. Publishing. Eksklusivitas. Recoupment. Term tiga tahun dengan opsi perpanjangan sepihak.
"'Pihak Kedua menyerahkan hak master atas seluruh karya selama masa kontrak kepada Pihak Pertama,'" baca Senja, lalu mendongak. "Master itu apa, ya?"
"Kayaknya rekaman aslinya," kata Damar ragu. "Tapi kalau diserahin... berarti lagunya bukan punya kita lagi?"
"Masa?" Bima mengernyit. "Kan kita yang bikin."
"Ini ada lagi," kata Senja, menunjuk layar. "'Seluruh biaya produksi dan promosi dianggap sebagai pinjaman yang harus dikembalikan dari pendapatan artis sebelum artis menerima bagiannya.'" Ia mengangkat wajah, pucat. "Jadi... duit yang mereka keluarin buat kita, itu utang kita? Kita baru dibayar setelah utangnya lunas?"
Garasi—bukan, ruang tamu Senja—mendadak terasa berat. Bahkan Bima diam.
Arka mengambil laptop, men-scroll perlahan. Ia tidak mengerti kebanyakan kata-katanya, tapi ia mengerti satu hal dari nada keseluruhannya: dokumen ini ditulis untuk melindungi pihak yang membuatnya, bukan mereka. Setiap kalimat seperti pintu yang hanya bisa dibuka dari satu sisi.
"Ada angka berapa kita dapet?" tanya Bima akhirnya, mencari satu hal yang ia mengerti: uang.
Senja men-scroll, mencari. "Di sini... 'pembagian pendapatan, dua puluh persen untuk artis.' Dua puluh persen."
"Dua puluh persen dari semua?" Bima bertanya, separuh berharap.
"Dua puluh persen setelah utang produksi lunas," koreksi Damar pelan.
Mereka terdiam lama. Di luar jendela, sore mulai turun. Arka memandangi layar yang penuh huruf kecil itu, dan untuk pertama kalinya, kesenangan dari pesan label minggu lalu terasa berubah jadi sesuatu yang lain. Bukan pintu. Lebih seperti jaring.
"Kita nggak ngerti ini," kata Arka akhirnya, menutup laptop. "Dan kalau kita nggak ngerti, kita nggak boleh tanda tangan."
"Tapi ini kesempatan, Ka," kata Bima, suaranya hampir memohon. "Kalau kita nolak, mereka bisa cari band lain. Kapan lagi ada label ngajak kita?"
"Lebih bahaya tanda tangan yang kita nggak ngerti, Bim, daripada nunggu," kata Damar. "Bokap gue pernah ketipu surat utang. Sekali tanda tangan, abis. Yang nulis suratnya lebih pinter dari kita."
Bima ingin membantah, tapi tidak menemukan kata. Senja menatap dokumen yang sudah tertutup itu seperti menatap pertanyaan yang tak terjawab.
"Kita butuh orang dewasa," kata Senja akhirnya. "Yang ngerti ginian. Yang bisa jelasin ke kita."
"Orang tua lu, Sen?" tanya Bima.
Senja menggeleng pelan. "Papa mama aku ngerti dunia kantor, tapi nggak ngerti dunia musik. Mereka malah bakal nyuruh aku berhenti aja kalau lihat ini."
Hening lagi. Empat remaja, satu dokumen belasan halaman, dan tidak satu pun dari mereka yang punya peta untuk membacanya. Inilah yang tidak pernah diajarkan di garasi: bahwa membuat lagu yang jujur itu satu hal, dan mempertahankan lagu itu dari orang-orang yang lebih pandai bermain kata adalah hal yang sama sekali berbeda.
Arka menatap teman-temannya. Di kepalanya, sebuah nama muncul—nama orang yang dulu hampir melarangnya bermusik, lalu jadi yang paling mendukungnya. Orang yang tahu betul bagaimana janji manis bisa menipu orang kecil.
"Aku tahu siapa yang harus kita ajak baca," katanya.