Ayah Arka masih belum boleh kerja berat. Dokter bilang jantungnya butuh istirahat panjang, dan tubuh yang bertahun-tahun dipaksa mengangkat beban itu kini menagih utangnya. Maka sebagian besar hari, ayahnya duduk di kursi depan rumah, memandangi gang, atau membantu Ibu memilah jahitan. Tangannya yang dulu kapalan oleh semen sekarang kapalan oleh hal-hal kecil—dan itu membuatnya gelisah, sebab ia lelaki yang tidak terbiasa diam.
Arka mendatanginya malam itu, membawa ponsel berisi foto dokumen kontrak. Ia ragu cukup lama di ambang pintu. Dulu, urusan musik adalah hal yang ia sembunyikan dari ayahnya. Sekarang, ia justru datang membawanya.
"Yah," kata Arka, duduk di sebelahnya. "Boleh minta tolong?"
Ayahnya menoleh. Wajahnya lebih kurus dari sebelum sakit, tapi matanya hidup. "Tumben kamu minta tolong Ayah. Kenapa?"
Arka menceritakan semuanya—Arunika, Reza, demo, lalu kontrak yang tidak mereka mengerti. Ia menyodorkan ponsel, memperlihatkan foto-foto dokumen itu. Ayahnya mengambil ponsel itu, mengernyit, lalu mengeluarkan kacamata baca tua yang sebelahnya retak.
Lelaki itu membaca pelan, mengeja huruf-huruf kecil di layar, bibirnya bergerak tanpa suara. Lama. Arka menunggu, menahan napas, takut ayahnya akan bilang ini terlalu rumit, atau lebih buruk, menyuruhnya menjauh dari semua ini.
Tapi ayahnya tidak begitu. Setelah lama, ia meletakkan ponsel di pangkuannya dan menatap gang yang gelap.
"Ayah nggak ngerti istilah-istilahnya, Ka," katanya jujur. "Master, royalti, itu Ayah nggak tahu. Tapi Ayah ngerti satu hal."
"Apa, Yah?"
"Ayah dulu pernah tanda tangan surat kayak gini. Bukan soal musik. Soal kredit motor." Ayahnya tersenyum pahit. "Orangnya manis, ngomongnya enak, bilang ringan, bilang nggak apa-apa. Ayah percaya. Eh, pas di tengah jalan, baru ketahuan ada bunga ini, denda itu, yang ditulis kecil di bawah, yang Ayah nggak baca. Hampir Ayah kehilangan motor itu—motor yang sekarang masih kamu pakai bonceng adikmu."
Arka diam. Ia tahu motor itu. Ia tidak pernah tahu ceritanya.
"Yang Ayah pelajarin," lanjut ayahnya, "kalau ada orang yang buru-buru pengen kamu tanda tangan, dan dia yang paling pinter di ruangan, dan dia yang nulis suratnya—kamu jangan tanda tangan sebelum ada orang lain yang juga pinter di pihak kamu. Yang bisa jelasin ke kamu kalimat yang dia harap kamu lewatin."
"Tapi kita nggak punya orang kayak gitu, Yah."
Ayahnya menatapnya lama. "Ayah juga bukan orang kayak gitu. Ayah cuma kuli yang pernah ketipu." Ia mengembalikan ponsel ke tangan Arka. "Tapi Ayah tahu satu hal soal kamu, Ka. Lagu yang kamu tulis itu—Tangan Kasar—itu jujur. Kamu nulis dari hati. Jangan kamu kasih hati kamu ke orang yang ngitungnya pakai persenan, sebelum kamu ngerti betul mereka mau ngapain sama itu."
Sesuatu menghangat di dada Arka. Inilah ayah yang dulu melarangnya, yang merasa dipermalukan, yang kini justru menjadi penjaga di pintu mimpinya.
"Jadi Ayah bilang jangan?" tanya Arka.
"Ayah nggak bilang jangan." Ayahnya menggeleng. "Ayah bilang, jangan buru-buru. Cari orang yang ngerti, suruh dia baca. Kalau ternyata bener-bener bagus buat kalian, ya jalanin. Tapi kalau ada yang janggal—dan Ayah ngerasa ada yang janggal di surat ini—kamu harus berani bilang nggak. Walaupun susah. Walaupun takut kehilangan kesempatan."
Arka mengangguk. Untuk sesaat, ia merasa ayahnya bukan lagi lelaki sakit di kursi depan rumah, melainkan benteng. Bukan benteng yang menghalangi, tapi yang melindungi.
"Makasih, Yah," katanya pelan.
Ayahnya menepuk lututnya. "Sana, tidur. Besok sekolah." Lalu, saat Arka beranjak, ia menambahkan, suaranya lebih lembut, "Ka. Ayah bangga kamu dateng ke Ayah buat ini. Dulu kamu sembunyiin semua. Sekarang kamu bawa pulang." Ia menelan sesuatu. "Itu artinya banyak buat Ayah."
Arka berhenti di ambang pintu, tidak menoleh, karena takut ayahnya melihat matanya. "Iya, Yah," katanya. Lalu masuk.