Keesokan sorenya, mereka membahasnya di garasi—tempat yang sebentar lagi mungkin bukan milik mereka, tapi untuk saat ini masih jadi rumah. Arka menceritakan kata-kata ayahnya. Jangan buru-buru. Cari yang ngerti. Berani bilang nggak.
Damar mengangguk sepanjang Arka bicara. Senja memeluk lututnya, berpikir. Tapi Bima, sejak awal, sudah gelisah. Ia memutar stik drumnya cepat-cepat, tanda ia menahan sesuatu.
"Jadi kita tolak?" tanya Bima akhirnya, suaranya lebih tinggi dari biasanya.
"Bukan tolak, Bim," kata Damar sabar. "Kita nggak buru-buru. Kita cari orang yang bisa bantu baca dulu."
"Cari di mana? Kita nggak punya kenalan pengacara, nggak punya kenalan orang musik. Sampai kapan kita nyari? Sebulan? Setahun?" Bima berdiri. "Sementara label nungguin. Reza udah bilang kalau kita lama, mereka bisa cari band lain."
"Biarin aja kalau mereka cari band lain," kata Arka pelan.
Bima menoleh tajam. "Gampang banget lu ngomong gitu, Ka."
Garasi mendadak menegang. Arka mengangkat wajahnya. "Maksud lu?"
"Maksud gue—" Bima menarik napas, dan kata-kata yang ia tahan akhirnya tumpah. "Buat lu mungkin ini cuma soal idealisme. Tapi buat gue, ini duit. Lu tahu nggak kondisi rumah gue? Bokap gue tukang servis kulkas, dan sekarang orang lebih milih beli baru daripada servis. Kalau kita dapet kontrak, dapet bayaran, itu artinya banyak buat gue. Gue nggak punya waktu nunggu sampai kita 'siap'."
Hening. Bima jarang bicara serius. Justru karena itu, kata-katanya menusuk dalam.
"Bim," kata Senja pelan, "kita semua butuh uang. Arka malah lebih—"
"Gue tahu Arka lebih susah," potong Bima, suaranya melunak tapi masih bergetar. "Justru itu gue heran. Lu yang paling butuh, Ka, tapi lu yang paling ngerem. Kenapa?"
Arka menatap temannya lama. Ia mengerti Bima. Ia tahu betul rasa lapar akan uang, lapar yang membuatmu mau menandatangani apa pun yang menjanjikan kelegaan. Tapi justru karena ia tahu rasa lapar itu, ia tahu betapa berbahayanya membiarkannya memutuskan.
"Karena aku pernah liat ayahku tanda tangan sesuatu pas dia lagi butuh banget," kata Arka pelan. "Dan dia hampir kehilangan motor yang sekarang kita pakai. Orang yang paling butuh, Bim, itu yang paling gampang ditipu. Karena dia paling pengen percaya."
Bima terdiam. Stik di tangannya berhenti berputar.
"Gue nggak bilang kita nolak label," lanjut Arka. "Gue bilang kita harus ngerti dulu apa yang kita tanda tangan. Kalau ternyata bagus, kita ambil. Gue juga butuh uang itu, Bim. Mungkin lebih dari lu. Tapi gue nggak mau kita jual lagu kita murah cuma karena kita takut nungguin."
Damar menambahkan pelan, "Senar yang ditarik terlalu kencang itu putus, Bim. Tapi yang terlalu kendor juga nggak bunyi. Kita cuma lagi nyari tegangan yang pas."
Bima menatap ketiga temannya bergantian. Ada perang di wajahnya—antara akal sehat yang ia dengar dan kebutuhan yang ia rasakan di rumah. Akhirnya ia menjatuhkan diri kembali ke bangku drum, menghela napas panjang.
"Ya udah," katanya, suaranya capek. "Tapi kalau gara-gara kita kelamaan, terus kesempatan ini hilang, jangan salahin gue."
"Nggak ada yang bakal nyalahin lu, Bim," kata Senja lembut.
Bima tidak menjawab. Ia mulai menabuh pelan, ketukan yang lambat dan murung, beda dari biasanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka berbaikan di rumah Senja dulu, ada retak halus di antara mereka—retak yang tidak meledak, tapi diam-diam menganga.
Arka memperhatikannya, dan ia tahu, retak kecil yang dibiarkan bisa tumbuh jadi jurang. Tapi malam ini, ia belum punya jembatannya.