Tawaran itu datang dari arah yang sama sekali tak terduga—bukan dari label, melainkan dari seorang mahasiswa bernama Galih yang menonton mereka di Suara Muda. Ia ketua panitia acara pentas seni di kampusnya, dan ia ingat betul lagu penutup band garasi yang membuat penonton festival terdiam.
"Acaranya kecil, sih," kata Galih saat menemui mereka. "Pensi kampus, di aula. Penontonnya paling tiga ratusan. Tapi kita bisa bayar. Nggak banyak—lima ratus ribu buat satu set, empat lagu. Mau?"
Bima nyaris berteriak iya sebelum Damar menyikutnya lagi. Tapi kali ini Damar pun tidak menahan senyumnya. Lima ratus ribu. Untuk mereka, itu bukan angka kecil. Itu nyata.
"Mau, Mas," kata Arka, dan untuk sekali ini ia membiarkan dirinya tersenyum lebar.
Bayaran pertama. Bukan hadiah festival yang belum cair, bukan janji label yang berbelit. Uang nyata, dari orang yang ingin mendengar mereka bermain. Malam itu di grup band ramai sekali, penuh tawa dan rencana, dan untuk sementara retak antara mereka kemarin terlupakan.
Hari pentas tiba. Aula kampus jauh lebih besar dari garasi, dengan panggung sungguhan, sound system sungguhan, dan operator sungguhan yang—untuk pertama kalinya dalam hidup mereka—mengatur suara mereka lewat mixer. Saat soundcheck, suara Arka keluar dari speaker besar, jernih dan bulat, jauh berbeda dari ponsel di kamar Damar. Ia hampir tidak mengenali suaranya sendiri.
Tapi profesional bukan berarti mulus. Mereka kikuk. Mereka tidak tahu di mana harus berdiri agar tidak menutupi satu sama lain. Bima memukul terlalu keras karena gugup, dan operator mixer harus berteriak dari belakang, "Drum-nya kekencengan, Mas, agak pelan!" Senja salah mencabut kabel keyboard saat memindahkannya, dan suaranya mati di tengah lagu kedua selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun.
Tapi penonton mahasiswa itu baik. Mereka bertepuk tangan, ada yang bernyanyi mengikuti reff Lampu Jalan yang mereka temukan dari video festival. Dan ketika Arka membawakan Tangan Kasar di penutup, aula yang tadinya ribut perlahan menjadi tenang. Tidak sesunyi festival, tapi cukup untuk membuat Arka tahu—lagu itu sampai. Lagi.
Selesai manggung, di belakang panggung, Galih menyerahkan amplop berisi uang. Lima lembar seratus ribuan. Bima memegangnya seperti memegang sesuatu yang suci.
"Bayaran pertama kita," kata Bima, suaranya bergetar, kali ini bukan oleh gugup. "Beneran kita dibayar buat main musik."
Mereka berempat menatap amplop itu. Lima ratus ribu, dibagi empat, tidak akan mengubah hidup siapa pun. Tapi yang berubah bukan jumlahnya. Yang berubah adalah artinya. Mereka bukan lagi anak-anak yang main di garasi bocor. Untuk pertama kalinya, ada orang yang menganggap suara mereka layak dibayar.
"Kita bagi gimana?" tanya Bima.
"Sama rata," kata Arka cepat. "Seratus dua puluh lima ribu sisanya buat kas band. Buat beli senar, kabel, atau apa pun yang rusak."
Mereka setuju. Tapi saat membagi uang itu di trotoar di bawah lampu jalan, Arka memperhatikan sesuatu—Bima memegang bagiannya sangat erat, dan matanya jauh, seperti sudah menghitung untuk apa uang itu di rumahnya. Damar membagi pelan-pelan, hati-hati, mencatat di ponsel. Senja menerima bagiannya dengan agak ragu, seakan ia tidak yakin layak menerimanya sama dengan yang lain.
Uang yang sedikit itu, Arka sadar, membawa beban yang tidak sedikit. Tapi malam itu, untuk sementara, ia memilih untuk hanya bahagia. Ia menggenggam bagiannya, dan saat pulang, ia menyelipkannya ke tangan ibunya—untuk tagihan obat ayah.
Ibunya menatap uang itu, lalu menatap Arka, dan tidak berkata apa-apa. Tapi mata ibunya berkaca. Itu cukup.