Tenggat dari Pak Surya semakin dekat. Surat-surat penjualan rumahnya sudah hampir beres, dan suatu sore ia datang lagi, kali ini membawa kardus untuk mulai mengemasi barang-barangnya. Garasi yang selama dua tahun jadi dunia mereka kini terasa seperti rumah yang ditinggal pelan-pelan.
"Bapak kasih waktu sampai akhir bulan ya, Nak," kata Pak Surya. "Setelah itu, yang punya baru mau rombak."
Mereka harus mencari tempat. Bima sudah bertanya ke sana-sini tanpa hasil. Rumah-rumah di gang terlalu sempit. Sewa ruang latihan di pusat kota terlalu mahal—per jam saja sudah memakan separuh bayaran pentas mereka. Untuk beberapa hari, band itu seperti kehilangan tanah pijak.
Solusinya datang dari Damar. Pamannya punya bekas gudang di belakang rumah, tempat menyimpan barang dagangan yang sekarang sudah pindah. Kosong, berdebu, agak lembap, tapi cukup luas dan—yang terpenting—gratis, asal mereka membersihkannya sendiri dan tidak latihan terlalu malam.
"Cuma pinjaman," Damar mengingatkan. "Kalau paman gue butuh, kita harus angkat kaki. Tapi sementara ini, lumayan."
Mereka menghabiskan satu hari Minggu penuh membersihkan gudang itu. Menyapu debu yang menumpuk bertahun-tahun, mengelap dinding, memindahkan barang-barang tua ke pojok. Bima menemukan sarang tikus dan berteriak seperti perempuan, membuat yang lain tertawa sampai sakit perut. Senja membawa kipas angin bekas dari rumahnya. Arka membawa amplifier dan alat-alat dari garasi lama, satu per satu, dengan motor ayahnya.
Saat hampir semua sudah pindah, Arka kembali ke garasi Pak Surya untuk yang—mungkin—terakhir kalinya. Tempat itu sudah hampir kosong. Hanya tersisa noda oli di lantai, bekas tempel poster di tembok, dan di sudut, ember biru.
Ia mengambil ember itu. Plastiknya sudah getas, warnanya pudar, ada retak halus di bibirnya. Ember yang dulu menampung tetesan atap bocor, tes, tes, tes, yang menjadi metronom tak sengaja di lagu-lagu awal mereka. Ember yang ayahnya jadikan saksi diam saat menambal atap.
"Lu bawa ember itu?" tanya Bima saat Arka tiba di gudang baru dengan ember di tangan.
"Iya," kata Arka.
"Buat apa? Kan udah nggak bocor. Gudang ini juga nggak bocor."
Arka tidak menjawab langsung. Ia meletakkan ember biru itu di atas amplifier, di sudut gudang baru, di tempat yang bisa dilihat dari mana saja.
"Biar kita inget," katanya akhirnya.
Senja yang mengerti lebih dulu. Ia tersenyum, mendekat, dan ikut memandangi ember itu. "Inget dari mana kita mulai."
"Iya." Arka mengangguk. "Tempat boleh ganti. Tapi kita harus tetep inget, dulu kita main pas atap bocor, pas alat rusak, pas nggak ada yang nonton. Kalau nanti—" ia ragu sebentar, "—kalau nanti label, panggung gede, segala macem, dateng, kita jangan lupa ember biru ini."
Bima memandangi ember tua itu, lalu, tidak biasanya, ia mengangguk pelan tanpa bercanda. "Ya udah. Ember biru ikut kita."
Damar menepuk amplifier di bawah ember itu. "Markas baru, jimat lama."
Sore itu mereka latihan pertama kali di gudang pinjaman. Akustiknya berbeda—lebih kering, lebih mati, tanpa gema seng yang dulu jadi ciri khas suara mereka. Butuh penyesuaian. Tapi saat Arka membuka Lampu Jalan dan suaranya mengisi ruang baru itu, dengan ember biru duduk di sudut seperti menjaga, ia merasa sesuatu yang penting tetap ikut pindah bersama mereka.
Rumah bukan tempat, ia teringat lirik lamanya sendiri. Rumah itu cuma dinding. Yang membuatnya rumah adalah siapa yang ada di dalamnya, dan apa yang mereka bawa.
Mereka membawa ember biru. Mereka membawa satu sama lain. Itu cukup.