Reza menelepon lagi, dan kali ini kabarnya membuat darah Arka berdesir. Arunika belum jadi menyodorkan kontrak yang membingungkan itu—Reza mengakui, setengah meminta maaf, bahwa "tim legal mungkin agak galak nulisnya." Tapi sebagai gantinya, ia menawarkan langkah yang lebih lunak: kalau band bisa membuat satu lagu baru, satu single yang segar, Arunika bersedia membiayai rekamannya di studio sungguhan, sebagai uji coba sebelum komitmen lebih besar.
"Lagu baru yang fresh ya," kata Reza. "Yang masih kalian banget, tapi yang bisa nempel di kuping orang banyak. Gue percaya sama lu, Arka. Lu bisa nulis."
Seharusnya itu kabar baik. Studio gratis. Kesempatan tanpa kontrak yang menjerat. Tapi begitu Arka menutup telepon, ada beban baru yang langsung menindih pundaknya: ia harus menulis lagu. Lagu yang dipesan. Lagu dengan tenggat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka tidak bisa menulis.
Malam-malam berikutnya, ia duduk dengan buku liriknya terbuka, pensil di tangan, dan halaman itu tetap kosong. Atau lebih buruk—penuh, lalu dicoret, lalu penuh lagi, lalu dicoret lagi. Setiap baris yang ia tulis terasa palsu. Terlalu dipaksakan. Terlalu mencoba.
"Yang masih kalian banget tapi nempel di kuping orang banyak," gumamnya, mengulang kata-kata Reza. Dua hal yang, semakin ia memikirkannya, semakin terasa saling tarik. Lagu-lagunya yang dulu—Lampu Jalan, Gang Sempit, Tangan Kasar—lahir bukan karena ia ingin menempel di telinga siapa pun. Mereka lahir karena ia tidak punya tempat lain untuk meletakkan apa yang ia rasakan. Mereka jujur karena tidak punya penonton.
Sekarang, untuk pertama kalinya, ia menulis sambil membayangkan orang banyak mendengarkan. Membayangkan Reza menilai. Membayangkan apakah ini "nempel" atau tidak. Dan bayangan itu mencekik setiap kata sebelum sempat hidup.
Di latihan, ia mencoba menutupinya. "Lagu barunya masih digarap," katanya tiap kali ditanya. Bima makin tidak sabar. Senja memperhatikan, dengan tatapan yang Arka kenal—tatapan yang dulu membuatnya merasa terlihat sampai ke dalam.
"Ka," kata Senja suatu sore, setelah yang lain pulang. "Kamu lagi buntu, ya?"
Arka tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.
"Lagu kelima ini beda dari yang lain," lanjut Senja pelan. "Yang lain kamu nulis buat kamu sendiri. Yang ini kamu nulis buat label. Buat orang lain. Itu yang bikin susah, kan?"
Arka menatap buku liriknya yang penuh coretan. Bagaimana Senja bisa selalu tahu.
"Aku takut," kata Arka akhirnya, mengakuinya bahkan pada dirinya sendiri untuk pertama kali. "Takut lagunya nggak bagus. Takut Reza kecewa. Takut kalau aku gagal nulis satu lagu ini, kesempatan kita ilang, terus aku ngecewain kalian semua." Ia menelan ludah. "Bima butuh uang ini. Aku juga. Semua gantung sama satu lagu yang nggak mau keluar dari kepalaku."
Senja diam sejenak. Lalu ia duduk di sebelah Arka, di bangku reyot gudang pinjaman, di bawah ember biru yang kini menjaga dari atas amplifier.
"Inget nggak waktu lagu Tangan Kasar?" kata Senja. "Kamu nulisnya bukan karena pengen menang festival. Kamu nulisnya karena kamu pengen ayah kamu tahu kamu lihat dia. Lagunya jadi kuat justru karena kamu nggak mikirin orang lain pas nulisnya."
Arka mengangkat wajahnya.
"Mungkin masalahnya bukan kamu nggak bisa nulis," kata Senja. "Mungkin kamu lagi nulis buat alasan yang salah. Lupain dulu Reza, lupain label, lupain 'nempel di kuping'. Tulis aja yang lagi beneran kamu rasain sekarang. Apa yang lagi mberatin kamu?"
Arka memandangi ember biru di sudut, lalu memandangi gudang pinjaman yang bukan garasi mereka, lalu teringat ayahnya yang tak boleh kerja, ibunya yang menjahit sampai larut, dan retak halus dengan Bima yang belum sembuh.
Apa yang lagi mberatin dia. Daftar itu panjang. Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, pensil di tangannya terasa ingin bergerak.
Tapi ia tidak menulis malam itu. Belum. Ia hanya menutup buku liriknya pelan, dan berkata, "Makasih, Sen."
Senja tersenyum. "Aku ada," katanya. Tiga kata lama itu, lagi.
Di luar, malam turun di atas gang. Tidak ada hujan, tidak ada tetesan di ember biru. Tapi di dalam diri Arka, sesuatu mulai menetes pelan—bukan beban kali ini, melainkan baris pertama dari lagu yang belum lahir. Tes. Tes. Tes.