Wali kelas memanggil Arka ke meja guru saat jam istirahat, dan dari cara Bu Ratih melipat kertas ulangan itu, Arka sudah tahu isinya sebelum ia membaca angka di pojok atas.
"Lima puluh dua," kata Bu Ratih, meletakkan kertas itu di depannya. "Matematika. Kamu yang biasanya tujuh puluh ke atas, Ka."
Arka menatap angka merah itu. Ia ingat malam ulangan itu—pulang dari sewa studio jam sebelas, lirik di kepala lebih kencang daripada rumus, dan ia tertidur di atas buku sebelum sempat menghafal apa pun.
"Saya akan perbaiki, Bu."
"Bukan cuma matematika." Bu Ratih membuka map. "Fisika turun. Sejarah kamu malah nggak ngumpulin tugas. Ibu nggak buta, Ka. Ibu tahu band kamu lagi rame. Bagus. Tapi sebentar lagi kamu kelas tiga, dan itu taruhannya gede. Ujian akhir, kuliah, kalau kamu mau kuliah."
Kata terakhir itu menggantung. Kalau kamu mau kuliah. Seolah Bu Ratih ragu Arka punya pilihan itu sama sekali.
Sore harinya di garasi pinjaman—rumah kosong milik paman Damar yang belum laku dijual—Arka mendapati ia bukan satu-satunya yang kena. Senja datang dengan wajah ditekuk, melempar tasnya ke kursi.
"Mama nggak ngizinin aku latihan minggu ini," katanya. "Sama sekali."
Bima berhenti memutar stik. "Lah, kenapa?"
"Nilaiku." Senja duduk, menarik lutut ke dada. "Aku dapet C di kimia. Buat Mama, C itu kayak kiamat kecil. Tadi malam ribut. Papa diem aja, tapi diemnya yang bikin aku tahu dia kecewa."
Arka menatapnya. Selama ini ia mengira rumah Senja adalah tempat yang aman, tempat tanpa tekanan. Ia tahu sekarang itu tidak sepenuhnya benar. Tekanan Senja bentuknya beda—bukan SPP nunggak, tapi harapan yang dipasang tinggi sejak ia masih kecil.
"Mereka takut," kata Senja, suaranya lebih pelan. "Mama bilang, 'Musik itu hobi, Sen. Hobi nggak bayar masa depan.' Aku pengen bantah, tapi... aku lihat nilaiku, dan aku nggak punya argumen."
Damar yang dari tadi diam meletakkan bass-nya. "Kita kebanyakan, ya," katanya. Bukan pertanyaan. "Latihan tiap hari, manggung weekend, ngejar lagu buat Reza. Kita lupa kita masih sekolah."
Garasi sementara itu hening. Di sudut, ember biru duduk di atas amplifier bekas—mereka membawanya dari garasi Pak Surya, jimat yang ikut pindah. Tetapi tidak ada atap bocor di sini, jadi ember itu kering, hanya pengingat.
"Aku nggak mau berhenti," kata Bima, tiba-tiba serius dengan cara yang jarang. "Tapi gue juga nggak mau bokap gue dapet surat panggilan gara-gara gue."
Arka memikirkan ayahnya, yang baru pulang dari rumah sakit beberapa minggu lalu, yang sekarang tidak boleh kerja berat. Ayah yang berkata tugas kamu nyanyi. Tapi ayahnya juga orang yang dulu menyuruhnya fokus sekolah. Dua suara ayahnya, dari dua waktu yang berbeda, sama-sama benar.
"Kita atur ulang," kata Arka akhirnya. Semua menoleh. "Latihan dikurangi. Tiga kali seminggu, bukan tiap hari. Yang sisa, kita belajar. Bareng kalau perlu, di sini, biar nggak ada yang ketinggalan."
Senja mengangkat wajahnya. "Mama kamu—maksudku, gimana ngeyakinin orang tua?"
"Kita tunjukin nilainya naik." Arka mengambil buku liriknya, tapi kali ini ia meletakkannya, dan menggantinya dengan buku matematika yang kusut di dasar tas. "Mereka nggak akan percaya omongan. Mereka percaya angka. Jadi kita kasih angka."
Bima mengerang. "Gue benci kalau lu bener."
Mereka tertawa, tapi tawa yang lelah. Sore itu, untuk pertama kalinya, garasi pinjaman tidak dipenuhi suara gitar dan drum, melainkan suara pensil dan keluhan tentang integral. Damar menjelaskan trigonometri dengan sabar; ternyata ia diam-diam paling pintar di antara mereka. Senja menghafal reaksi kimia dengan menyanyikannya pelan, kebiasaan musisi yang tidak bisa ia matikan.
Saat maghrib, Senja mengirim foto buku catatannya ke ibunya—bukti ia belajar. Balasannya datang lambat, satu kalimat: ya sudah, pulang sebelum gelap. Tidak hangat, tapi tidak menutup pintu. Senja menunjukkannya ke Arka dengan senyum tipis.
"Selangkah," katanya.
"Selangkah," Arka mengangguk.
Di luar, langit kota berubah jingga. Arka memandangi teman-temannya yang berkemas, buku-buku terselip di antara alat musik. Ia tahu ini bukan kemenangan, hanya gencatan senjata sementara antara dua dunia yang sama-sama menariknya. Tapi untuk sekarang, gencatan senjata sudah cukup.