Reza menelepon hari Kamis, dan suaranya seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban "iya" di ujung lidah.
"Gimana, sudah dibaca kontraknya?" tanya Reza. "Tim legal kami siap bikin penyesuaian. Cuma butuh tanda tangan kalian—dan karena ada yang di bawah umur, wali. Gampang. Minggu depan bisa kita kelarin."
Arka memegang ponsel di tengah-tengah keempat mereka, di garasi pinjaman, speaker menyala. Mereka sudah sepakat: keputusan ini diambil bersama, di-loudspeaker, tidak ada yang bicara sendiri di belakang.
"Bang Reza," kata Arka. "Kami mau ngomong jujur."
Hening sebentar di seberang. "Oke. Saya suka jujur."
"Kami belum mau teken."
Kali ini hening lebih panjang. Bima meringis. Senja menggigit bibir. Damar mengangguk pelan, mendukung.
"Boleh saya tahu kenapa?" suara Reza datar sekarang, profesional, lapisan ramahnya menipis sedikit.
Arka sudah menyiapkan ini. Mereka membahasnya tiga malam, di garasi pinjaman, sambil belajar dan berdebat bergantian. Ayah Arka ikut menimbang, membaca kontrak dengan kacamata baca murah, menandai kalimat-kalimat yang ia tidak suka dengan pulpen. Curiga pada janji manis, kata ayahnya. Yang gampang dijanjiin, gampang ditarik.
"Karena kami masih sekolah," kata Arka. "Karena lagu yang abang minta belum jadi, dan kalau kami paksain sekarang, jadinya bohong. Dan karena—" ia melirik teman-temannya, "—kami baru ngerti, kalau kami teken sekarang, kami jadi punya abang. Belum tentu kami punya diri kami sendiri."
Senja menambahkan, condong ke ponsel, "Kami nggak nolak label, Bang. Kami cuma butuh tumbuh dulu. Manggung sendiri. Bikin lagu yang beneran kami, bukan yang dikejar tenggat. Kalau setahun lagi abang masih lihat kami, kita ngomong lagi."
Suara Reza tidak langsung menjawab. Lalu, ada helaan napas—bukan marah, tapi kecewa yang ditahan.
"Kalian tahu nggak," kata Reza akhirnya, "berapa banyak band yang ngantri di posisi kalian? Yang bakal teken tanpa baca?"
"Tahu, Bang," kata Damar, tenang. "Tapi mereka bukan kami."
Tawa pendek terdengar dari seberang—getir, tapi ada hormat di dalamnya. "Lu yang bass itu, ya? Yang paling jarang ngomong. Tapi kalau ngomong, paling ngena."
Damar tidak menjawab, hanya tersenyum kecil.
"Ya sudah," kata Reza. "Saya nggak bisa nahan orang yang nggak mau ditahan. Cuma saya kasih tahu satu hal, dan tolong dengerin baik-baik: kesempatan kayak gini nggak selalu balik. Industri ini pelupa. Hari ini kalian rame karena cerita garasi bocor itu manis. Bulan depan ada cerita baru. Kalian yakin?"
Arka menatap teman-temannya satu per satu. Bima yang tadi ragu kini mengangguk mantap. Senja menggenggam tepi keyboard-nya seperti menggenggam keputusan. Damar diam, tapi diamnya kali ini adalah persetujuan. Di sudut ruangan, ember biru menatap balik, jimat dari tempat mereka berasal.
"Yakin, Bang," kata Arka.
"Kalau gitu," suara Reza melembut lagi, lapisan ramahnya kembali, tapi kali ini terasa lebih tulus karena tidak lagi menjual apa-apa, "saya hormatin. Beneran. Jarang ada anak SMA yang berani nolak buat alasan yang bener. Simpan nomor saya. Dan satu lagi—lagu Tangan Kasar itu, jangan kalian jual murah ke siapa pun. Itu emas. Saya tahu emas waktu lihat."
Telepon ditutup. Garasi hening sejenak. Lalu Bima meledak, "GILA. Kita baru aja nolak label." Suaranya antara takut dan bangga.
"Kita baru aja milih jalan yang lebih susah," koreksi Damar.
"Sama aja serunya," kata Bima.
Senja tertawa, lega, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Arka sebentar—gestur yang biasa di antara mereka sekarang, tidak lagi canggung. "Kamu nggak takut?" tanyanya pelan.
Arka memandangi ember biru. Ia memikirkan ayahnya yang menandai kontrak dengan pulpen, yang berkata pilih yang bisa kamu pertanggungjawabin, bukan yang paling kinclong. Ia memikirkan garasi bocor yang sebenarnya, beberapa gang dari sini, yang masih menunggu mereka.
"Takut," akunya. "Tapi takut yang bener. Bukan takut salah. Takut karena ini penting."
Malam itu mereka tidak latihan. Mereka jalan kaki ke warung mi di ujung gang, patungan, makan sambil ribut soal apa pun kecuali musik. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tidak ada tenggat yang mengejar. Hanya empat orang yang baru saja memilih jalan mereka sendiri, dan tidak tahu ke mana, dan untuk sekarang, itu terasa cukup.