Senja mengirim file itu jam dua pagi, dan judulnya cuma "coba2.m4a" tanpa keterangan apa-apa.
Arka mendengarkannya di kamar, dengan earphone supaya tidak membangunkan Lala. Ia mengira itu rekaman latihan, atau ide aransemen untuk lagu lama. Tapi yang keluar dari earphone adalah sesuatu yang belum pernah ia dengar: melodi piano yang asing, dan di atasnya, suara Senja menyanyi.
Bukan suara Senja yang mengisi harmoni di belakang Arka. Ini Senja yang bernyanyi sendiri, lead, membawa lagu yang ia tulis sendiri.
Liriknya tentang seorang anak perempuan di rumah yang rapi, yang punya semua hal kecuali izin untuk memilih sendiri. Tentang harapan yang dipasang seperti kerangka besi sejak kecil, yang dari luar terlihat seperti hadiah tapi dari dalam terasa seperti kandang. Tentang ingin disayang bukan karena nilai, tapi karena ada.
Arka memutarnya tiga kali.
Esoknya di garasi pinjaman, Senja menunggu reaksinya dengan cara yang Arka tahu betul—pura-pura sibuk dengan keyboard, tapi melirik tiap beberapa detik.
"Aku denger lagumu," kata Arka.
Senja berhenti memencet tuts. "Dan?"
Arka memilih kata-katanya. Ada bagian dalam dirinya—bagian yang tidak ia banggakan—yang merasa aneh. Selama ini ia penulis lirik band. Suaranya yang membawa lagu. Lagu-lagu mereka adalah lukanya, dijadikan musik. Mendengar Senja menulis lukanya sendiri, dengan suaranya sendiri, terasa seperti seseorang masuk ke ruangan yang selama ini ia kira hanya miliknya.
Tapi bagian itu kecil, dan ia menolaknya.
"Itu bagus, Sen," katanya, dan ia bersungguh-sungguh. "Bukan bagus yang basa-basi. Itu lagu yang harus dinyanyiin. Liriknya—aku nggak bisa nulis kayak gitu. Karena itu bukan ceritaku. Itu cerita kamu."
Senja menarik napas, seperti ia sudah menahannya sejak semalam. "Aku takut kamu mikir aku ngambil-ngambil panggung."
Bima, yang menguping sambil membersihkan stik, menyeletuk, "Lah, emang panggung punya siapa?"
Pertanyaan polos itu menggantung di garasi, dan entah kenapa menyelesaikan banyak hal.
"Kita masukin ke set," kata Arka. "Kamu yang nyanyi. Aku yang main gitar di belakang. Bima, Damar, kalian bangun di sekitar suaranya."
Damar mengangguk. "Band yang bagus itu bukan band satu suara. Band yang bagus itu yang tiap orangnya bisa maju pas gilirannya, terus mundur lagi pas bukan."
Latihan sore itu berbeda. Untuk pertama kalinya, Arka berdiri sedikit di belakang, gitarnya menjadi pondasi bukan pusat. Ia memperhatikan Senja membawa lagunya sendiri, dan ada sesuatu yang membuat dadanya hangat—bukan iri, tapi semacam bangga, dan mungkin sesuatu yang lebih dari itu yang tidak ia beri nama.
Mereka memainkannya pertama kali di Titik Koma minggu berikutnya. Arka memperkenalkan, "Lagu ini bukan dari aku. Ini dari Senja. Dengerin, ya." Lalu ia mundur.
Senja, yang biasanya di balik keyboard, berdiri dengan mikrofon. Tangannya gemetar sedikit—Arka melihatnya, ingat rasa itu, gemetar pertama kali membuka diri lewat lagu. Tapi suaranya, begitu keluar, tidak gemetar. Ruangan kafe yang biasanya setengah memperhatikan menjadi diam total.
Di pojok ruangan, dua remaja perempuan saling pandang, lalu menggenggam tangan. Lagu Senja tentang kandang yang terlihat seperti hadiah ternyata adalah cerita banyak orang.
Turun panggung, mata Senja berkaca. "Mereka dengerin," katanya, suara hampir tidak terdengar.
"Tentu aja," kata Arka. "Karena kamu jujur. Kayak yang dulu kamu bilang ke aku."
Senja tertawa, mengusap matanya. "Aku ngomong gampang ya dulu. 'Tulis yang jujur.' Baru sekarang aku ngerti seberapa serem ngelakuinnya."
Arka mengangguk. Ia ingat ketakutan menulis Tangan Kasar, ketakutan membiarkan ayahnya mendengar luka yang ia jaga rapat. Sekarang ia menyaksikan Senja menjalani ketakutan yang sama, dan menang atasnya.
Band mereka tidak lagi satu suara. Dan anehnya, kehilangan posisi sebagai satu-satunya suara itu, bagi Arka, tidak terasa seperti kehilangan. Terasa seperti garasi yang dindingnya didorong sedikit, jadi lebih luas, cukup untuk lebih dari satu orang berdiri di tengah.