Bima tidak datang latihan selama dua hari, dan Bima tidak pernah tidak datang. Pesannya di grup pendek-pendek, "ada urusan," "besok ya," dan itu sendiri sudah seperti alarm, karena Bima biasanya mengirim sepuluh pesan untuk satu hal.
Arka yang mendatanginya. Rumah Bima di blok yang lebih baik dari gang Arka—ayahnya pegawai, ibunya guru—tapi sore itu rumah yang rapi itu terasa tegang dari pintu pagar.
Bima keluar, matanya sembap, dan mereka duduk di teras sambil ayahnya, terlihat dari jendela, sengaja tidak keluar.
"Bokap mau gue berhenti," kata Bima, tanpa basa-basi, memutar stik di tangannya yang sekarang terlihat seperti kebiasaan gugup bukan main-main. "Berhenti ngeband. Fokus kuliah. Dia bilang drum nggak bakal ngasih makan."
Arka diam. Ia tahu kalimat itu. Ia pernah mendengarnya, dengan kata-kata yang nyaris sama, dari mulut ayahnya sendiri di proyek itu.
"Dia nemuin nilai gue," lanjut Bima. "Sama kayak lu semua kemarin. Tapi buat bokap gue, ini bukan soal nilai doang. Dia bilang—" suara Bima tersendat, "—dia bilang gue kayak om gue. Adiknya. Yang dulu ngeband, nggak kelar kuliah, sekarang hidupnya berantakan, sering minjem duit. Bokap gue takut gue jadi kayak dia."
Arka mengerti sekarang. Bukan musiknya yang ditakuti ayah Bima. Tapi bayangan—bayangan adik yang gagal, yang ditumpangkan ke anaknya.
"Lu inget nggak," kata Arka pelan, "dulu pas bokap gue ngelarang gue?"
Bima mengangguk. "Inget. Gara-gara lagu Tangan Kasar bocor."
"Iya. Tapi yang gue baru ngerti belakangan: bokap gue ngelarang bukan karena benci musik. Dia ngelarang karena takut. Takut gue kecewa kayak dia dulu. Takut gue ngejar sesuatu, terus jatuh, terus nyesel. Larangan itu cara dia ngelindungin gue—cara yang salah, tapi niatnya lindungin."
Bima menatapnya. "Terus lu ngapain?"
"Gue nggak ngapa-ngapain pakai omongan. Gue nulis lagu. Gue tunjukin ke dia—lewat liriknya—kalau gue ngeliat dia. Kalau musik buat gue bukan lari, tapi cara gue nanggung. Yang ngubah dia bukan gue ngeyel. Tapi dia ngerti gue serius, dan gue ngerti dia."
Mereka diam. Di jendela, bayangan ayah Bima bergeser, mungkin mendengarkan.
"Masalahnya," kata Bima, suaranya kecil, "gue bukan lu, Ka. Gue nggak bisa nulis lagu yang bikin orang nangis. Gue cuma mukulin drum. Gue cuma yang banyak bacot, yang bikin orang ketawa. Apa yang bisa gue tunjukin?"
Arka menatap temannya lama. Bima yang ceria, yang banyak omong, yang selalu jadi pengukur semangat grup. Bima yang menabuh lebih kencang saat penonton tidak mendengarkan, Bima yang jadi MC dadakan dan membuat ruangan asing terasa seperti rumah.
"Lu salah," kata Arka. "Drum lu itu yang bikin lagu kita punya jantung. Tanpa lu, Lampu Jalan cuma melodi sedih. Lu yang bikin orang ngangguk-ngangguk, yang bikin badan mereka gerak sebelum kepala mereka ngerti. Dan lu yang bikin kita ketawa pas kita semua hampir nyerah. Itu bukan 'cuma'."
Bima menunduk. Stik berhenti berputar.
"Tunjukin ke bokap lu," lanjut Arka, "bukan kalau lu bakal jadi rockstar. Itu janji yang lu sendiri belum tahu. Tunjukin kalau lu masih bisa kuliah dan ngeband. Kalau lu nggak bakal jadi om lu—bukan karena lu berhenti musik, tapi karena lu tanggung jawab. Itu beda."
Bima mengangkat wajahnya. Ada sesuatu yang mulai pulih di matanya. "Lu jadi bijak banget ya akhir-akhir ini. Nyebelin."
Arka tersenyum tipis. "Gue belajar dari bokap gue. Mahal belajarnya."
Sebelum pulang, Arka berhenti di depan jendela, di mana ayah Bima berdiri, tidak lagi sembunyi. Ia membungkuk sopan. "Om," katanya, "Bima drummer terbaik yang saya kenal. Dan dia anak yang baik. Maaf kalau band kami bikin Om khawatir. Kami nggak mau Bima berhenti sekolah. Kami cuma mau dia nggak berhenti jadi dirinya."
Ayah Bima tidak menjawab. Tapi ia mengangguk, sekali, pelan. Dan saat Arka berjalan keluar gang, ia mendengar pintu rumah Bima terbuka, dan suara ayah Bima memanggil anaknya masuk—bukan untuk memarahi, dari nadanya, tapi untuk bicara.