Akun itu pertama kali muncul di kolom komentar video kafe yang diunggah Senja—video buram dari ponsel, Tangan Kasar dimainkan live di Titik Koma. Namanya cuma "dnd_17," fotonya kosong.
"lagu ini muter di kepala gue terus seminggu ini. makasih ya. nggak tau aja kalian nyelamatin hari gue."
Senja yang menunjukkannya ke yang lain, di garasi pinjaman, sambil tersenyum aneh. "Ada yang nulis ginian," katanya.
Mereka membaca bergantian. Bima, yang biasanya menganggap remeh, diam lebih lama dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, dnd_17 berkomentar lagi di video yang lain. Lalu lagi. Selalu ada, di tiap unggahan, kadang panjang kadang cuma "hadir." Pelan, dari satu akun, muncul yang lain. Orang-orang yang tidak mereka kenal mulai menulis nama band mereka di bio, menyanyikan potongan lirik di video pendek, bertanya kapan mereka manggung lagi dan di mana.
Mereka punya penonton. Bukan ribuan euforia alun-alun yang berteriak lalu lupa esoknya. Tapi belasan, lalu puluhan, yang kembali. Yang setia.
Suatu malam di Titik Koma, set sudah selesai, dan seorang remaja perempuan berkacamata mendekat dengan ragu. Tangannya menggenggam buku tulis.
"Permisi," katanya, suaranya nyaris hilang di keramaian kafe. "Aku dnd_17. Maksudku—aku yang sering komen. Dinda."
Arka mengenali nama akun itu. Mereka semua mengenalinya. Dinda. Dari layar jadi orang sungguhan, berdiri di depan mereka, gemetar.
"Aku cuma mau bilang langsung," kata Dinda, dan kata-katanya keluar terburu seperti sudah lama dilatih. "Tahun lalu aku... aku lagi nggak baik-baik aja. Beneran nggak baik-baik aja. Terus aku nemu lagu kalian, yang Lampu Jalan itu. Yang liriknya 'pulang sendiri lewat gang gelap, tapi langkah ini punya tujuan.' Aku—" Suaranya pecah. "Aku dengerin itu tiap malam pas paling gelap. Dan aku masih di sini. Jadi makasih. Beneran makasih."
Hening di antara mereka berempat. Bima, si banyak omong, untuk sekali ini tidak punya kata. Senja menutup mulutnya. Arka merasa tenggorokannya tercekat.
Lagu Lampu Jalan ditulisnya bertahun-tahun lalu, di malam ia pulang sendirian dari sekolah karena tidak punya ongkos angkot, melewati gang gelap, takut, tapi memaksa kaki terus melangkah. Ia menulisnya untuk dirinya sendiri, untuk menemani ketakutannya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan lagu itu akan menemani ketakutan orang lain, di malam-malam yang tidak pernah ia tahu.
"Boleh minta tanda tangan?" Dinda menyodorkan buku tulisnya, malu-malu. "Maaf aku nggak punya yang lebih bagus."
Mereka tertawa kecil—tanda tangan, mereka yang main untuk toples receh di kafe lantai dua. Tapi mereka menandatanganinya, satu per satu. Arka menulis di bawah namanya, "Terus melangkah ya, Din. Gangnya gelap tapi nggak selamanya."
Dinda menggenggam buku itu seperti barang berharga, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu pergi, menghilang ke dalam malam kota.
Mereka berempat duduk diam di sudut kafe yang sudah mulai sepi.
"Kita pernah mikir," kata Damar akhirnya, pelan, "buat apa kita main di tempat kayak gini. Toples receh, sembilan orang, tangga sempit. Reza bilang industri pelupa, kesempatan nggak balik."
Ia diam sebentar.
"Tapi tadi itu," lanjutnya, "satu orang yang masih hidup gara-gara lagu kita. Itu nggak ada di kontrak mana pun."
Arka mengangguk. Ia memikirkan ayahnya, yang dulu bertanya berapa peluang menangnya di proyek itu, ratusan band ikut. Ia memikirkan jawabannya dulu—sebesar apa pun peluangnya kecil, aku tetap mau coba. Ternyata yang ia kejar bukan menang. Yang ia kejar adalah satu orang seperti Dinda, di suatu tempat, di malam paling gelapnya, yang butuh suara untuk menemani langkah.
Malam itu mereka pulang tanpa banyak bicara. Tapi tidak ada yang merasa lelah. Toples cuma cukup buat bensin. Dan itu, malam itu, terasa seperti lebih dari cukup.