Video Tangan Kasar versi rekaman studio menembus angka yang tidak pernah mereka bayangkan—puluhan ribu, lalu terus naik. Senja yang mengunggahnya, dengan visual sederhana: foto garasi bocor lama, ember biru, lirik berjalan di layar. Orang-orang membagikannya. Sejenak, semua terasa seperti mimpi yang bekerja.
Lalu komentar-komentar itu datang.
Sebagian besar baik. Tapi otak manusia, Arka belajar malam itu, tidak adil—seratus pujian bisa terhapus oleh satu hinaan, dan hinaan itu yang menempel.
"vokalnya pas-pasan, fals di reff."
"jualan kemiskinan. garasi bocor, ayah sakit, biar dikasihanin. murahan."
"band karbitan. viral doang gara-gara cerita sedih. musiknya biasa aja."
Komentar terakhir, yang menyayat paling dalam, datang dari akun dengan banyak pengikut: "Lagu tentang ayah miskin itu udah klise. Eksploitasi keluarga sendiri buat konten. Kasihan ayahnya, dipajang lukanya buat viral."
Arka membaca itu jam satu pagi, dan ia tidak bisa tidur lagi.
Eksploitasi keluarga sendiri. Itu kalimat yang persis pernah ia takutkan, persis luka lama. Ia ingat ayahnya, dulu, di depan rumah, suara bergetar memegang ponsel: kamu jual cerita keluarga buat lagu kamu? Mereka sudah berdamai dari luka itu, ayahnya sudah mengerti. Tapi sekarang ribuan orang asing menuduhnya hal yang sama, dan tuduhan dari orang yang tidak tahu apa-apa entah kenapa membuka jahitan lama.
Di grup band, ternyata semua terjaga.
Bima: gue pengen bales akun itu. tangan gue gatel.
Damar: jangan, Bim.
Senja: aku nggak bisa tidur. komen yang soal jualan kemiskinan itu... nyakitin banget.
Esok paginya, mereka berkumpul. Bima paling marah—egonya, biasanya tebal, ternyata punya retak halus. "Gue mau klarifikasi," katanya. "Bikin video, jelasin kalau lagu itu beneran, bukan jualan."
"Terus apa?" tanya Damar tenang. "Mereka percaya? Orang yang mau benci, dikasih penjelasan apa pun bakal cari celah baru. Lu nggak bisa menangin perang sama orang yang nyari ribut."
Senja menatap Arka, yang dari tadi diam. "Ka, yang paling kena kamu. Itu lagu kamu. Itu ayah kamu. Kamu gimana?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia memikirkannya semalaman, dan ia sampai pada sesuatu.
"Komentar yang bilang vokal gue fals," katanya akhirnya, "itu bener. Gue emang kadang fals. Gue nggak pernah ngaku jadi penyanyi sempurna. Yang itu gue terima, malah berguna, gue bisa latihan."
Ia menarik napas.
"Tapi yang bilang gue jualan kemiskinan, eksploitasi ayah gue—itu gue tahu salah. Dan gue tahu salahnya bukan karena gue marah. Tapi karena cuma gue, ayah gue, sama kalian, yang tahu lagu itu lahir gimana. Mereka nggak ada di garasi. Mereka nggak lihat bokap gue muter video itu tiap malam sambil nangis. Mereka nggak lihat dia naik ngetuk pintu kamar gue, ngembaliin buku, bilang 'maaf, Ka, Ayah salah.'"
Garasi pinjaman hening.
"Kalau gue klarifikasi," lanjut Arka, "gue ngebuktiin ke orang asing. Tapi yang gue butuh buktiin udah kebukti—ke bokap gue. Dia bangga sekarang. Itu yang penting. Bukan kolom komentar."
Damar mengangguk pelan. "Jadi kita diemin aja?"
"Kita nggak diemin," kata Arka. "Kita lanjut main. Itu jawaban paling keras. Orang yang benci pengen kita berhenti, pengen kita rapuh. Cara kita ngalahin mereka bukan dibales—tapi besok kita masih naik panggung, masih nulis lagu, masih jadi kita. Mereka bakal capek duluan."
Bima menghela napas panjang, marahnya kempes. "Susah ya, nggak bales."
"Susah," aku Arka. "Tapi inget Dinda. Inget orang-orang yang lagu kita bantu. Mereka nggak nulis sebanyak yang benci, tapi mereka lebih nyata. Kita main buat mereka, bukan buat yang benci."
Malam itu Senja menonaktifkan notifikasi komentar. Bukan untuk lari, tapi untuk berhenti membiarkan suara paling nyaring jadi suara yang paling mereka dengar. Mereka tetap membaca pesan dari yang setia, tetap membalas Dinda dan yang sepertinya. Yang lain, mereka biarkan lewat seperti hujan yang menetes di atap—tes, tes, tes—sampai akhirnya reda sendiri.