Damar adalah orang yang tidak pernah dikhawatirkan siapa pun, dan justru karena itu, tidak ada yang menyadari ia sedang kelelahan.
Ia yang menengahi setiap pertengkaran. Ia yang membaca kontrak Reza paling teliti. Ia yang menjelaskan trigonometri saat mereka belajar bersama, ia yang menghitung jam studio supaya tidak kebablasan, ia yang menahan Bima saat tangannya gatal ingin membalas komentar jahat. Bass-nya jadi pondasi tiap lagu, dan kehadirannya jadi pondasi tiap orang. Damar yang tenang. Damar yang bijak. Damar yang selalu ada.
Sampai suatu sore ia tidak ada.
"Gue rehat dulu, ya," tulisnya di grup. "Beberapa minggu. Maaf."
Tidak ada penjelasan. Dan dari Damar, yang selalu menjelaskan segalanya dengan tenang, ketiadaan penjelasan itu lebih mengkhawatirkan daripada penjelasan apa pun.
Arka yang menyusulnya. Ia menemukan Damar di rumahnya, duduk di teras, bass tergeletak di kursi sebelah, tidak disentuh.
"Lu kenapa, Mar?" Arka duduk di sampingnya. Tidak basa-basi. Mereka tidak butuh basa-basi.
Damar diam lama. Lalu, "Gue capek, Ka."
"Capek latihan?"
"Bukan." Damar menatap bass-nya. "Capek jadi yang selalu waras. Yang nahan, yang nengahin, yang ngitung, yang mikir panjang pas yang lain udah pengen meledak. Tiap ada masalah, semua noleh ke gue. 'Mar gimana?' 'Mar tenangin Bima.' 'Mar baca kontraknya.' Gue nggak pernah... gue nggak pernah dapet giliran buat jadi yang berantakan."
Arka terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu. Ia begitu sibuk dengan bebannya sendiri—ayah, sekolah, lagu—sampai ia menganggap Damar sebagai konstanta, sesuatu yang selalu di sana, tidak butuh diperhatikan justru karena ia tidak pernah meminta perhatian.
"Pas gue ngerti masalah Bima sama bokapnya," lanjut Damar, "pas gue nengahin lu sama Senja dulu, pas gue mikirin keuangan band—gue selalu jadi yang ngurusin orang lain. Gue lupa ngurus diri gue sendiri. Dan kemarin gue sadar, gue nggak inget terakhir kali gue main bass buat seneng. Bukan buat band, bukan buat tugas. Cuma buat gue."
"Kenapa lu nggak ngomong dari dulu?" tanya Arka pelan.
Damar tersenyum kecil, getir. "Karena kalau gue ngeluh, siapa yang nengahin gue? Gue yang biasanya nengahin. Gue takut kalau gue jatuh, kalian bingung. Jadi gue tahan."
Kalimat itu menampar Arka, karena ia mengenalinya. Itu kalimatnya sendiri, dulu. Aku takut Ayah mikir aku ngeluh. Menyimpan semua, menumpahkannya cuma lewat lagu—atau, dalam kasus Damar, tidak menumpahkannya sama sekali, hanya menelannya, sampai habis.
"Mar," kata Arka. "Lu inget waktu gue nutup diri, keluar dari band, mojok sendirian? Lu yang bilang ke Senja, 'pas dia nutup diri itu dia paling butuh kita.' Lu inget?"
Damar mengangguk.
"Itu juga buat lu. Lu nggak harus selalu jadi yang waras. Lu boleh berantakan. Kita gantian. Sekarang giliran kita yang nengahin lu."
Mereka tidak menyelesaikan apa pun sore itu. Tidak ada solusi ajaib. Tapi Arka tidak memaksa Damar batal rehat. "Ambil minggu lu," katanya. "Tapi jangan ngilang. Beda rehat sama ngilang. Lu rehat dari ngurusin kita. Tapi lu tetep temen kami. Kita tetep dateng, bukan buat narik lu balik, tapi biar lu nggak sendirian pas berantakan."
Selama dua minggu, Damar tidak latihan. Tapi mereka tidak membiarkannya sendiri. Bima menyeretnya nonton bola. Senja mengiriminya lagu-lagu bass lama yang bagus, tanpa pesan apa-apa, cuma supaya Damar ingat kenapa ia jatuh cinta pada alat itu. Arka sesekali mampir, kadang membawa gitar, kadang tidak, kadang cuma duduk diam.
Pada minggu ketiga, Damar datang sendiri ke garasi pinjaman, bass di punggung. Ia tidak bilang "gue balik." Ia cuma duduk, mencolokkan kabel, dan mulai memainkan garis bass—bukan dari lagu mereka. Sesuatu yang baru, sesuatu yang ia mainkan untuk dirinya sendiri.
Yang lain tidak berkomentar. Mereka cuma masuk, satu per satu, mengikuti. Bukan menarik Damar kembali ke peran lamanya. Tapi membangun sesuatu di sekitar suara yang akhirnya ia mainkan untuk dirinya.