Masalahnya dimulai dari hal yang seharusnya menggembirakan: untuk pertama kalinya, satu manggung membayar mereka uang sungguhan. Bukan toples receh. Sebuah acara ulang tahun komunitas sepeda menyewa mereka, dan di akhir malam, panitia menyerahkan amplop berisi lima ratus ribu.
Lima ratus ribu. Di garasi pinjaman, amplop itu tergeletak di tengah mereka seperti benda asing.
"Bagi empat?" tanya Bima. "Berarti seratus dua puluh lima ribu per orang."
"Tunggu," kata Senja. "Tapi kemarin transport pakai uang siapa? Aku yang nalangin bensin sama parkir. Sembilan puluh ribu."
"Terus senar gitar gue putus pas manggung," sahut Bima. "Gue beli baru pakai uang gue. Itu masuk hitungan nggak?"
Dan begitulah, dalam lima menit, kegembiraan berubah jadi kekikukan. Uang—yang selama ini tidak pernah ada jadi tidak pernah jadi masalah—begitu ada, langsung membuka celah-celah halus yang tidak pernah mereka sadari.
Damar, yang baru benar-benar kembali setelah rehatnya, mengamati dari sudut. Arka melihatnya menahan diri, sengaja tidak melompat jadi penengah seperti dulu. Belajar, pikir Arka. Damar belajar tidak memanggul semuanya.
Yang membuat retak terasa nyata adalah hal kecil. Beberapa hari kemudian, Bima nyeletuk di Titik Koma, setengah bercanda, "Eh, yang manggung kemarin itu kan rame gara-gara lagu Tangan Kasar. Berarti yang paling narik kan Arka. Harusnya Arka bagiannya lebih, dong?"
Ia bercanda. Tapi candaan kadang adalah pikiran yang dilemparkan untuk dilihat reaksinya. Garasi pinjaman jadi sunyi.
"Maksud lu," kata Senja pelan, "lagu gue yang kemarin gue nyanyiin nggak narik orang?"
"Bukan gitu, Sen, gue cuma—"
"Atau bass gue, drum lu, itu cuma tempelan?" suara Damar, biasanya tenang, ada tegangnya.
Arka mengangkat tangan. "Stop. Semua." Mereka diam. Arka menatap amplop kosong yang tadi berisi uang, lalu menatap teman-temannya.
"Ini yang bikin band bubar," katanya. "Bukan musik. Bukan ego soal lagu. Tapi ini—uang yang nggak dibicarain jelas. Gue pernah baca, kebanyakan band bubar bukan gara-gara musiknya jelek. Tapi gara-gara duit dan nggak ngomong jujur soal duit."
Ia mengambil buku tulis—bukan buku lirik, buku biasa. "Kita bikin aturan. Sekarang. Sebelum ini jadi masalah beneran. Biar nggak ada yang nyimpen sebel diem-diem."
Mereka membuat aturan, malam itu, ditulis tangan, ditandatangani empat orang seperti kontrak Reza yang dulu mereka tolak—tapi kali ini kontrak mereka sendiri. Setiap pemasukan dicatat. Pengeluaran band—transport, senar putus saat manggung, sewa studio—diganti dulu dari kas bersama sebelum sisanya dibagi. Dibagi empat, sama rata, siapa pun yang menarik penonton.
"Sama rata?" tanya Bima, masih ragu. "Tapi kalau emang Arka yang—"
"Sama rata," potong Arka tegas. "Karena begitu kita mulai ngitung siapa lebih berharga, kita selesai. Lagu gue nggak ada artinya tanpa drum lu. Suara Senja nggak utuh tanpa bass Damar. Kita band, bukan Arka dan tiga pengiring. Kalau gue mau jadi solois, gue udah terima tawaran Reza dari kemarin."
Bima menunduk. "Maaf, ya. Gue ngelantur tadi. Gue cuma... gue lihat duit, terus otak gue rusak bentar."
"Wajar," kata Damar, dan ketenangannya kembali, tapi kali ini ketenangan yang ia pilih, bukan yang dibebankan. "Uang emang bikin otak orang rusak bentar. Makanya kita catet. Biar yang ngomong bukan otak yang rusak, tapi catetan yang jelas."
Mereka membuka kas pertama mereka: sebuah toples bekas—mengingatkan pada toples kafe—dengan tulisan spidol "KAS SENJA TERAKHIR." Sisa uang setelah dikurangi transport dan senar Bima, dibagi empat, sama rata. Tidak banyak. Tapi adil. Dan keadilan, malam itu, terasa lebih berharga daripada jumlahnya.
Sebelum bubar, Senja memasukkan dua puluh ribu dari bagiannya kembali ke toples. "Buat kas," katanya. "Biar kalau ada yang senarnya putus lagi, nggak usah nalangin sendiri."
Satu per satu mengikuti. Bahkan Bima, yang tadi memulai keributan, memasukkan paling banyak, mungkin karena merasa bersalah, mungkin karena mengerti.
Arka memandangi toples itu, kas band mereka yang pertama, dan teringat ember biru di atas amplifier di sudut ruangan. Dua wadah. Yang satu menampung air bocor di garasi asal mereka, pengingat dari mana mereka berasal. Yang satu menampung uang receh, pertanda ke mana mereka pergi. Di antara keduanya, ada empat orang yang baru saja belajar bahwa persahabatan tidak otomatis tahan terhadap uang—ia harus dijaga, dibicarakan jujur, ditulis dengan jelas, supaya tetap utuh.