Mereka hampir lupa.
Itu yang Arka rasakan ketika menatap jadwal manggung di layar ponselnya: tiga kafe dalam dua minggu, satu acara ulang tahun komunitas sepeda, dan satu lagi yang Bima belum jelaskan asal-usulnya. Semuanya bagus. Semuanya membayar, meski kecil. Tapi pagi itu, saat ia membuka foto-foto lama di galeri dan menemukan satu gambar buram—mereka berempat berdesakan di garasi Pak Surya, ember biru di sudut, atap menetes—ada sesuatu yang terasa hilang.
"Gue mau ke garasi lama," kata Arka tiba-tiba, di tengah obrolan grup tentang setlist.
Bima mendongak dari ponselnya. "Garasi Pak Surya? Buat apa? Kita kan latihannya di garasi pinjaman sekarang."
"Cuma pengen ke sana. Sebentar."
Damar menatapnya, lalu mengangguk pelan, seperti biasa. "Gue ikut."
Sore itu mereka berjalan kaki menyusuri gang yang dulu mereka lewati setiap hari. Rumah-rumah petak masih sama. Bu Tini masih menyapu teras sambil melirik mereka, tapi kali ini tidak ada bisik-bisik—hanya tatapan yang Arka sudah belajar abaikan. Gang itu mengantar mereka ke garasi di ujung, pintu seng yang catnya makin pudar, gembok yang sudah berkarat.
Pak Surya keluar dari rumahnya yang bersebelahan, kaus oblong dan sarung. "Wah, anak-anak band. Tumben."
"Boleh masuk sebentar, Pak?" tanya Arka. "Cuma mau lihat-lihat."
Pak Surya tertawa kecil, mengambil kunci dari kantong sarungnya. "Masuk aja. Itu kan dulu istana kalian."
Pintu seng terbuka dengan derit yang Arka kenal sampai ke tulang. Bau oli menyergap, bercampur debu dan lembap. Di dalam, garasi kosong. Kursi rotan reyot masih ada, tergeletak miring. Bekas tempelan poster di tembok. Sudut tempat ember biru dulu menampung tetesan kini lowong—ember itu sudah mereka angkut ke gudang pinjaman waktu pindah dulu, dan sekarang duduk di atas amplifier di markas baru. Tapi bekasnya masih ada di sini: lingkaran tipis di lantai semen, tempat air bocor dulu menggenang.
Arka berdiri di sudut kosong itu, menatap lingkaran samar di lantai. "Di sini dulu ember birunya," katanya pelan.
Bima ikut melihat. "Untung kita bawa, ya. Coba kalau ketinggalan, udah dibuang Pak Surya kali."
"Nggak berani gue buang kalaupun ketinggalan," sahut Pak Surya dari ambang pintu. "Bapaknya Arka yang nambal atap itu pesen, jangan diapa-apain garasinya. Biar kalau anak-anak balik, masih kayak dulu."
Arka terdiam. Ia menatap atap, ke tambalan seng yang ayahnya pasang berbulan-bulan lalu. Tidak ada tetesan sekarang. Kering. Tapi anehnya, justru keringnya itu yang membuat dadanya sesak.
"Coba inget-inget," kata Damar, duduk di kursi rotan yang langsung berderit, "dulu kita main di sini, atap bocor, listrik kadang mati, ampli suka dengung. Tapi nggak ada yang ngeluh."
"Karena dulu kita nggak punya apa-apa selain ini," kata Senja, memandang sekeliling garasi tua itu. "Sekarang kita punya jadwal manggung, punya sedikit duit, punya... apa namanya, branding kata Bima."
"Bukan gue yang ngomong branding, itu Reza dulu," protes Bima.
Arka menatap sudut kosong tempat ember itu dulu berada. Ia ingat bunyinya—tes, tes, tes—yang dulu jadi metronom alami latihan mereka, yang membuat Damar bilang ketukannya lebih konsisten daripada Bima. Ember itu sekarang di gudang pinjaman, di atas ampli, menjaga dari sudut. Tapi rumah aslinya tetap di sini.
"Untung kita masih nyimpen ember itu," kata Arka, lebih ke diri sendiri. "Biar kita nggak lupa kita dari mana. Tiap kali kita ngerasa udah jago, udah keren, kita lihat ember itu. Biar inget dulu kita main di tempat yang bocor."
Hening sebentar. Lalu Pak Surya, dari pintu, berkata pelan, "Bagus kalau gitu. Tapi janji satu hal."
"Apa, Pak?"
"Kalau kalian udah gede nanti—manggung di mana-mana, terkenal—jangan malu sama gang ini. Jangan malu sama garasi bocor ini."
Arka menatap lelaki tua itu, dan untuk sesaat ia melihat ayahnya di sana. Senyum yang menutupi entah apa, punggung yang mulai membungkuk.
"Janji, Pak," kata Arka.
Mereka keluar, mengunci kembali garasi, dan berjalan pulang lewat gang yang sama. Tapi langkah mereka terasa berbeda. Seperti orang yang baru menemukan kembali sesuatu yang nyaris hilang di tengah jadwal dan tawaran dan ambisi. Bukan ember itu—ember itu sudah aman di markas baru—tapi alasan kenapa mereka menyimpannya.