Ember biru sudah duduk di atas amplifier garasi pinjaman ketika Arka menyadari ada satu orang yang selama ini tidak pernah ia tulis.
Ibu.
Ia menulis untuk ayahnya—Tangan Kasar mengubah segalanya. Ia menulis untuk gang, untuk dirinya, untuk hujan yang menetes. Tapi ibunya, perempuan yang setiap pagi bangun paling awal dan tidur paling akhir, yang menambal celana seragam Lala dengan benang yang warnanya tidak sama, yang menahan tangis di depan dapur lalu tersenyum saat Arka pulang—ibunya tidak pernah ada di lagu mana pun.
Arka menyadarinya pada suatu sore, ketika ia pulang dan mendapati ibunya sedang menghitung uang receh di meja, memisahkannya ke amplop-amplop kecil. Satu untuk SPP Lala. Satu untuk listrik. Satu untuk obat ayah yang sekarang harus rutin. Tangan ibunya bergerak cepat, terlatih, dingin oleh kebiasaan.
"Bu," kata Arka, "biar Arka bantu. Manggung kemarin dapet—"
"Simpen buat senar gitar kamu," potong ibunya tanpa mendongak. "Sama beli makan kalau latihan sampe malem. Ibu masih bisa."
Itu kalimat yang selalu sama. Ibu masih bisa. Diucapkan dengan nada yang membuat Arka tidak berani membantah, tapi juga membuat dadanya perih.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Lala mendengkur halus di sebelahnya. Arka mengambil buku lirik, membuka halaman kosong, dan menatap kegelapan. Bagaimana menulis tentang seseorang yang tidak pernah mengeluh? Ayahnya punya mimpi yang terkubur—itu kuat, itu jelas. Tapi ibunya tidak pernah bicara soal mimpi. Seolah ibunya tidak punya, atau sudah lama melupakannya.
Lalu ia teringat satu hal kecil. Tahun lalu, saat ia masih kecil, ibunya pernah menyanyi di dapur. Lagu lama, entah apa, sambil mengaduk sayur. Suaranya tidak bagus, sering fals, tapi ada di sana. Lalu suara itu hilang. Entah kapan ibunya berhenti menyanyi.
Pagi harinya, di garasi pinjaman, ia membawa kerangka lagu.
"Lagu baru?" Senja langsung antusias, menyalakan keyboard.
"Belum jadi," kata Arka. "Liriknya masih setengah. Tapi ini... tentang ibuku."
Bima yang biasanya ribut langsung diam. Damar meletakkan bass-nya, menunggu.
Arka memetik nada pembuka. Lebih lembut dari Tangan Kasar, lebih hangat. Tidak ada amarah di dalamnya, hanya sesuatu yang teduh. Ia bernyanyi setengah suara, masih mencari:
"...dia nggak pernah cerita mimpinya ke mana, dia simpen suaranya di dasar panci, biar kami kenyang, biar kami nggak dengar dia capek..."
Senja menutup mulutnya. Lagi. Seperti dulu, di garasi bocor.
"Bagian dia simpen suaranya di dasar panci itu," kata Damar pelan, suaranya serak, "itu... gila, Ka."
"Ibuku dulu suka nyanyi," kata Arka, masih menatap senar. "Terus berhenti. Aku nggak tahu kapan, nggak tahu kenapa. Mungkin pas hidup makin susah, dia mikir nyanyi itu mewah. Jadi dia diem."
Mereka menggarap lagu itu seharian. Senja menemukan piano yang seperti dapur pagi—hangat, sederhana, sibuk tapi tenang. Damar memberi bass yang seperti pondasi, ada tapi tidak menonjol, seperti ibu. Bima nyaris tidak memukul drum, hanya brush halus, takut merusak.
Sore itu, lagu itu punya judul: Suara di Dasar Panci.
"Kapan mau dinyanyiin ke ibu kamu?" tanya Senja saat mereka berkemas.
Arka terdiam. Pertanyaan yang sama dengan dulu, soal ayahnya. Dan ia ingat bagaimana lagu ayahnya pertama kali bocor lewat video buram dan nyaris menghancurkan segalanya.
"Nggak lewat panggung dulu," kata Arka. "Nggak lewat orang lain. Aku mau dia denger langsung. Dari aku."
Malam itu, setelah Lala tidur, Arka membawa gitar tua ayahnya ke ruang tamu. Ibunya masih duduk di sana, menjahit. Arka duduk di depannya, gugup seperti anak SMP.
"Bu," katanya. "Arka bikin lagu. Boleh Arka nyanyiin?"
Ibunya mendongak, heran. "Buat festival lagi?"
"Bukan. Buat Ibu."
Tangan ibunya berhenti menjahit. Arka memetik nada pertama, dan menyanyi—untuk satu pendengar, di ruang tamu sempit, di rumah yang dulu ia sebut cuma dinding. Saat ia sampai ke bait tentang suara yang disimpan di dasar panci, ibunya meletakkan jahitan, dan tangan yang biasa menghitung receh itu menutupi wajahnya.
Ketika lagu selesai, ibunya tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Lalu, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia berkata, "Ibu kira nggak ada yang merhatiin."
"Arka merhatiin, Bu," kata Arka. "Dari dulu."
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, di dapur sebelah, terdengar ibunya bersenandung pelan saat mencuci gelas sebelum tidur. Lagu lama yang sama. Suara yang akhirnya kembali dari dasar panci.