Tawaran itu datang lewat Bima, seperti biasa.
"Audisi acara TV!" serunya di garasi pinjaman, ponsel diacungkan tinggi-tinggi. "Beneran TV nasional. Namanya Panggung Bintang. Yang lolos masuk babak studio, disiarin se-Indonesia. Hadiahnya gede banget, terus kontrak rekaman beneran!"
Mata Bima berbinar. Bahkan Damar yang biasanya hati-hati ikut tertarik. Audisi diadakan di kota mereka minggu depan—mereka tidak perlu jauh-jauh.
"Kita coba?" tanya Senja, menatap Arka.
Arka ragu. Sesuatu tentang acara itu terasa berbeda dari festival dulu. Tapi melihat wajah ketiga temannya, melihat harapan di sana, ia mengangguk. "Kita coba."
Mereka berlatih keras selama seminggu. Memilih lagu andalan—mereka putuskan membawa Tangan Kasar, lagu yang dulu membuat juri festival terdiam. Mereka menyempurnakan setiap detail, mengukur durasi karena audisi cuma memberi waktu dua menit per peserta.
Hari audisi, gedung tempat acara itu penuh sesak. Ratusan peserta—band, penyanyi solo, grup vokal, bahkan pesulap yang entah kenapa ikut audisi musik. Antrean panjang, nomor urut, panitia yang sibuk berteriak. Senja Terakhir mendapat nomor 247. Mereka menunggu lima jam.
Saat akhirnya dipanggil, mereka masuk ke ruangan ber-AC dengan tiga juri di balik meja. Bukan juri seperti di festival dulu yang menonton dengan saksama. Tiga orang ini terlihat lelah, salah satunya menatap ponsel.
"Senja Terakhir," kata juri tengah, perempuan berkacamata, membaca dari kertas. "Genre?"
"Pop... indie, Bu," jawab Arka. "Lagu original."
"Dua menit. Mulai."
Mereka mulai. Tanpa soundcheck, tanpa pemanasan. Drum Bima sedikit terlalu keras di ruangan kecil itu. Tapi Arka menemukan pijakannya cepat, dan ketika ia sampai ke bait Tangan Kasar yang biasanya membuat orang merinding—
"Cukup." Juri tengah mengangkat tangan. Baru satu menit. "Terima kasih."
Mereka berhenti. Senja masih menahan akord terakhir di keyboard, lalu melepasnya, bingung.
Juri laki-laki di kanan, yang dari tadi main ponsel, akhirnya bicara. "Suaranya oke. Lagunya... terlalu sendu. Acara kita butuh yang lebih energik, yang bisa bikin penonton joget. Yang kayak gini susah dijual."
"Tapi lagunya kuat," kata juri perempuan, agak membela. "Cuma memang nggak cocok format acara."
Juri ketiga hanya menggeleng. "Next."
Itu saja. Tidak ada babak studio. Tidak ada se-Indonesia. Mereka keluar dari ruangan dalam waktu kurang dari tiga menit, melewati antrean ratusan peserta lain yang masih menunggu dengan wajah penuh harap—wajah yang sama dengan mereka beberapa jam lalu.
Di parkiran, tidak ada yang bicara. Bima menendang kerikil. Senja memeluk casing keyboard-nya. Damar menatap langit yang mulai gelap.
"Terlalu sendu," gumam Bima akhirnya, menirukan juri. "Lagu yang bikin festival hening, dibilang terlalu sendu."
"Beda acara, beda selera," kata Damar pelan, tapi suaranya juga kecewa.
Arka diam. Ia memegang gitar ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ada keraguan lama yang merayap kembali. Suara yang dulu sering ia dengar: kita belum siap. Mungkin Tangan Kasar memang hanya cocok di garasi, di alun-alun kota kecil, bukan di layar nasional. Mungkin mereka memang hanya band gang yang kebetulan beruntung sekali.
"Ka," kata Senja, melihat wajahnya. "Jangan dipikirin omongannya."
"Aku nggak mikirin omongannya," kata Arka, meski itu setengah bohong. "Aku cuma... mikir, mungkin yang kita punya emang nggak buat semua orang."
"Emang nggak," sahut Damar tiba-tiba, dan ada ketegasan di suaranya yang jarang muncul. "Tangan Kasar bukan buat orang yang pengen joget. Itu buat orang yang punya bapak kayak bapak lu, Ka. Yang nyangga dunia diem-diem. Mungkin nggak banyak yang kayak gitu di acara TV. Tapi yang ngerti, mereka ngerti banget."
Arka menatap Damar. Pelan-pelan, sesuatu di dadanya yang tadi mengkerut, sedikit melonggar.
Mereka pulang naik angkot, berdesakan, dengan alat musik di pangkuan. Lampu kota lewat di jendela. Audisi itu gagal. Tapi di tengah kekecewaan, ada benih pertanyaan yang baru—pertanyaan yang akan mereka bawa pulang dan tidak bisa mereka hindari: untuk apa sebenarnya mereka bermusik?