Penolakan audisi itu menggantung di garasi pinjaman selama tiga hari.
Latihan tetap jalan, tapi ada yang berbeda. Bima memukul drum lebih malas. Senja sering berhenti di tengah lagu, menatap kosong. Damar lebih banyak diam dari biasanya. Dan Arka—Arka merasa setiap kali ia membuka mulut untuk menyanyi, suara juri itu kembali: terlalu sendu, susah dijual.
Pada hari ketiga, di tengah latihan yang macet, Bima tiba-tiba meletakkan stiknya keras-keras.
"Gue mau tanya jujur," katanya. "Kita ngeband ini buat apa, sih?"
Hening. Pertanyaan yang selama ini melayang, akhirnya diucapkan.
"Maksud lu?" tanya Senja.
"Maksud gue," kata Bima, "kita udah berapa lama? Manggung kafe dibayar receh. Audisi TV ditolak. Festival menang tapi duitnya udah abis buat rumah sakit bapaknya Arka. Kita ini mau ke mana? Beneran mau jadi musisi? Atau cuma main-main yang kebablasan?"
Suaranya tidak marah. Justru itu yang membuat semua orang diam. Bima yang biasanya paling semangat, paling ceria, sekarang bertanya dengan nada yang lelah.
"Gue bukan mau berhenti," lanjut Bima cepat, melihat ekspresi yang lain. "Gue cuma... capek ngerasa kita lari di tempat. Bokap gue udah mulai nanya, kapan gue serius. Kapan gue mikirin masa depan beneran."
Arka menatap Bima, lalu menatap ember biru di atas amplifier. Pertanyaan itu bukan pertanyaan Bima saja. Itu pertanyaannya juga, pertanyaan mereka semua, yang selama ini disembunyikan di balik jadwal manggung dan latihan.
"Aku mau jawab," kata Arka pelan. Semua menoleh. "Tapi nggak pake teori. Pake yang aku alamin sendiri."
Ia mengambil gitar ayahnya.
"Waktu ayahku larang aku main musik dulu, tiga hari aku nggak ke garasi. Kalian inget? Aku ngerasa kayak mati. Bukan karena nggak bisa terkenal. Tapi karena nggak bisa naruh apa yang ada di dadaku ke mana-mana. Semua numpuk di dalam, nggak ada jalan keluar." Ia menatap mereka satu per satu. "Buat aku, musik bukan soal menang audisi atau masuk TV. Musik itu satu-satunya cara aku ngomong jujur. Tanpa itu, aku balik jadi anak yang nutup semua, yang senyum padahal hancur."
Garasi sunyi. Tetesan dari atap—garasi pinjaman ini juga sedikit bocor di pojok—jatuh ke lantai. Tes. Seperti pengingat.
"Aku nggak ngeband buat terkenal," kata Senja, suaranya pelan tapi mantap. "Aku ngeband karena di sini, aku ngerasa kebagi sama orang. Di rumah, orang tuaku sayang, tapi mereka nggak ngerti musikku. Di sini, kalian ngerti. Itu aja udah cukup buat aku."
Damar mengangguk. "Gue paling realistis di antara kalian. Gue tahu peluang kita jadi musisi beneran itu kecil. Tapi gue tetep di sini. Tahu kenapa? Karena gue nggak mau lihat lagu kayak Tangan Kasar mati di laci. Lagu kayak gitu harus didenger orang. Walaupun yang denger cuma seratus orang, asal seratus orang itu nangis pas dengernya, itu udah lebih berharga daripada sejuta penonton yang joget terus lupa."
Mereka semua menatap Bima sekarang.
Bima menggaruk kepalanya, dan sudut bibirnya naik sedikit. "Anjir. Gue nanya buat apa, malah kalian bikin gue baper." Ia mengambil stiknya lagi. "Ya udah. Gue jawab sendiri, deh. Gue ngeband karena... karena pas gue mukul drum bareng kalian, gue ngerasa gue ada. Gue penting. Di rumah gue cuma anak nomor tiga yang sering dilupain. Di sini gue jantungnya lagu."
Damar tertawa. "Jantung lagu. Pede banget."
"Emang bener, kan!"
Mereka tertawa, dan tawa itu—untuk pertama kalinya sejak audisi—terasa lepas. Penolakan TV tidak hilang. Pertanyaan soal masa depan masih ada, menggantung, belum terjawab. Tapi mereka sudah pulang ke alasannya. Bukan menang. Bukan terkenal. Tapi bersuara, dan ditemani saat bersuara.
"Yuk lanjut," kata Arka, dan ketika ia mulai menyanyi lagi, suara juri itu sudah tidak terdengar. Yang ada hanya empat orang di garasi pinjaman, dengan ember biru di atas amplifier, mengingat dari mana mereka berasal.