Manggung di kafe Sudut Kopi seharusnya biasa saja. Penonton sekitar dua puluh orang, panggung kecil di pojok, bayaran cukup untuk makan bersama setelahnya. Mereka sudah hafal tempat ini, sudah dua kali manggung di sini.
Tapi malam itu, gitar ayah Arka memilih untuk mati.
Mereka sampai di lagu ketiga, Gang Sempit. Arka memetik dengan keras di bagian klimaks—dan bukan hanya satu senar yang putus. Tiga senar putus hampir bersamaan, dengan bunyi yang melengking lalu mati. Tapi yang lebih buruk: ada bunyi krak dari leher gitar. Arka menunduk, dan jantungnya tenggelam. Leher gitar itu retak. Garis halus tapi jelas, memanjang dari fret tengah.
"Ka?" Senja melihat dari keyboard.
Arka berusaha menyelesaikan lagu dengan senar sisa, tapi gitar itu sudah tidak bisa diandalkan. Fals di mana-mana, nada bergeser. Mereka menutup set lebih cepat dari rencana. Penonton bertepuk sopan, tidak tahu apa yang baru saja hancur di tangan Arka.
Di belakang kafe, di bawah lampu temaram, Arka memeriksa gitarnya. Tangannya gemetar saat meraba retakan di leher gitar.
"Parah nggak?" tanya Damar.
"Parah," kata Arka pelan. "Lehernya retak. Bukan cuma senar."
Bima mengintip. "Bisa dilem nggak?"
"Lem doang nggak cukup buat leher gitar. Harus dibawa ke tukang reparasi. Mahal." Arka menutup matanya. Gitar ini bukan gitar biasa. Ini gitar ayahnya. Satu-satunya barang dari ayahnya yang punya nyawa, yang menemani sejak hari pertama di garasi, yang ia bawa ke alun-alun kota saat festival.
Senja duduk di sampingnya. "Berapa kira-kira reparasinya?"
"Nggak tahu pasti. Tapi mahal. Mungkin... mungkin lebih murah beli gitar baru yang lumayan, daripada benerin yang ini."
Kata-kata itu terasa salah begitu keluar dari mulutnya.
Esoknya mereka membawa gitar itu ke Pak Hendra, tukang reparasi alat musik di pasar. Lelaki tua itu memeriksa dengan kaca pembesar, mengetuk-ngetuk badan gitar, meraba retakan.
"Bisa dibenerin," katanya akhirnya. "Tapi nggak gampang. Lehernya harus dibongkar, dilem khusus, di-press, terus disetel ulang. Butuh waktu, butuh ketelatenan." Ia menyebut angka. Angka yang membuat Bima menarik napas.
"Pak," kata Bima pelan, "duit segitu bisa beli gitar baru yang bagus, lho."
Pak Hendra mengangkat alis, menatap Arka. "Mau beli baru aja?"
Arka memandang gitar tua itu di atas meja. Catnya sudah pudar, badannya penuh goresan, ada bekas stiker yang dikelupas entah kapan. Secara logika, Bima benar. Beli baru lebih masuk akal. Gitar baru pasti lebih nyaman dimainkan, suaranya lebih jernih, lebih awet.
Tapi gitar baru tidak akan punya tangan ayahnya di lehernya. Tidak akan punya kenangan garasi bocor. Tidak akan punya senar yang dulu putus saat Arka pertama menyanyikan rumah itu cuma dinding.
"Benerin, Pak," kata Arka.
Bima membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Yakin, Ka?" tanya Damar. "Itu... lumayan ngabisin tabungan kita."
"Yakin." Arka mengusap badan gitar. "Ini gitar ayahku. Ayah dulu mau jadi sopir, tapi nggak kesampaian. Satu-satunya yang dia kasih ke aku selain nama, ya gitar ini. Aku nggak bisa beli baru, terus buang yang ini kayak nggak ada artinya."
Hening sebentar di toko Pak Hendra. Lalu lelaki tua itu tersenyum, dan ada sesuatu yang teduh di matanya.
"Nak," katanya, "tukang reparasi kayak Bapak ini ketemu banyak orang. Yang bawa gitar mahal minta dibenerin secepatnya biar bisa pamer. Sama yang bawa gitar butut kayak ini, milih benerin walaupun lebih mahal." Ia mengetuk badan gitar pelan. "Yang kayak kamu ini jarang. Bapak kasih diskon. Bukan karena kasian. Karena Bapak hormat sama orang yang tahu nilai sesuatu."
Arka menelan sesuatu di tenggorokannya.
Mereka meninggalkan gitar itu di toko Pak Hendra, dengan janji akan diambil dua minggu lagi. Di perjalanan pulang, Bima berkata pelan, "Maaf, Ka. Gue tadi mikirnya duit doang."
"Nggak apa-apa," kata Arka. "Lu nggak salah. Mikir duit itu wajar. Kita emang nggak banyak duit."
"Tapi lu bener," kata Bima. "Ada barang yang nilainya bukan dari harganya."
Selama dua minggu itu, Arka manggung memakai gitar pinjaman Damar. Suaranya bagus, nyaman dimainkan. Tapi setiap kali ia memetiknya, ada yang terasa asing, seperti memakai sepatu orang lain. Ia menghitung hari sampai gitar ayahnya kembali.