Kabar itu datang saat mereka sedang menggarap aransemen baru.
Ponsel Arka bergetar. Nama ibunya di layar. Dada Arka langsung dingin—dulu, pesan dari ibunya di hari festival adalah awal dari segalanya. Ia mengangkat cepat.
"Bu?"
"Ka." Suara ibunya gemetar, berusaha tenang tapi gagal. "Ayah... ayah nggak enak badan dari kemarin. Pagi ini lemes banget, nggak bisa bangun. Ibu bawa ke puskesmas, terus dirujuk ke rumah sakit lagi. Kamu pulang dulu, ya."
Tangan Arka mendingin. "Ayah kenapa, Bu?"
"Dokter bilang ada hubungannya sama yang dulu. Jantungnya lemah. Tekanan darah. Ayah... ayah ngeyel, masih ngangkat-ngangkat barang berat padahal udah dilarang."
Arka menutup telepon dan langsung berdiri. "Aku harus ke rumah sakit. Ayahku."
Tidak ada yang bertanya. Senja sudah mengambil tas, Damar mematikan amplifier, Bima merapikan kabel. "Kita anter," kata Damar.
Di rumah sakit, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Ruang tunggu yang sama putihnya. Bau antiseptik yang sama. Ibu yang sama lelahnya, dengan Lala—kini sedikit lebih besar—menggenggam tangannya. Tapi kali ini Arka tidak terbelah antara panggung dan rumah sakit. Kali ini ia hanya di sini, di tempat yang seharusnya.
Ayahnya terbaring di balik kaca ruang observasi, dengan selang dan alat-alat. Wajahnya pucat, tapi ia sadar. Saat melihat Arka di balik kaca, ia mengangkat tangannya sedikit—tangan kasar yang penuh kapalan itu—dan tersenyum lemah.
Setelah diizinkan masuk, Arka duduk di samping ranjang. "Yah, kan udah dibilang jangan ngangkat berat."
"Cuma sekarung semen," kata ayahnya, suaranya serak. "Mandor butuh, Ayah nggak enak nolak."
"Yah." Suara Arka pecah. "Kita udah sepakat. Ayah istirahat, biar aku yang—"
"Kamu masih sekolah, Ka. Masih ngeband. Ayah nggak mau jadi beban kamu."
"Ayah bukan beban." Arka menggenggam tangan ayahnya. "Ayah itu alasan aku bikin lagu. Ayah itu alasan aku nyanyi. Gimana mungkin Ayah jadi beban?"
Ayahnya terdiam. Di sudut matanya yang lelah, ada air yang menggenang tapi tidak jatuh.
Malam itu, ayahnya harus dirawat lagi. Beberapa hari. Dan dengan rawat inap, datang lagi sesuatu yang Arka kenal dengan getir: tagihan. BPJS menanggung sebagian, tapi tidak semua. Obat-obat tertentu, kamar, pemeriksaan tambahan—semuanya menumpuk angka.
Di koridor rumah sakit, Arka berdiri bersama teman-temannya.
"Berapa kira-kira kurangnya?" tanya Damar pelan.
Arka menyebut angka yang membuat mereka semua terdiam. Tabungan band sudah tipis—sebagian besar habis untuk reparasi gitar dua minggu lalu.
"Gue ada tabungan dikit," kata Bima.
"Gue juga," kata Damar.
"Jangan," kata Arka cepat. "Itu uang kalian. Ini masalah keluargaku."
"Ka." Senja menatapnya tajam, dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Kita ini apa, sih? Band doang? Kita keluarga juga. Inget waktu kamu keluar dari band dulu, kita nggak nyerah ngajak kamu balik? Sekarang giliran kita yang nggak boleh kamu tolak."
Arka membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia ingat ayahnya yang menambal atap garasi diam-diam. Ia ingat ibunya yang berkata ibu masih bisa. Keluarganya terbiasa menanggung sendiri, menutup pintu, tidak mau merepotkan. Dan sekarang teman-temannya menawarkan untuk mendobrak pintu itu.
"Kita manggung lebih sering," kata Damar, sudah berpikir praktis seperti biasa. "Ambil semua tawaran yang masuk, bulan ini. Yang kafe, yang acara, semua. Hasilnya buat bantu ayah lu dulu. Setelah ayah lu pulih, baru kita pikirin lagi soal tabungan band."
"Setuju," kata Bima dan Senja hampir bersamaan.
Arka menunduk. Ketika ia mengangkat wajah, matanya basah. "Makasih," katanya, dan kata itu terasa kecil untuk semua yang ia rasakan. "Aku... aku nggak tahu harus bilang apa."
"Nggak usah bilang apa-apa," kata Damar, menepuk bahunya. "Cukup jagain ayah lu. Sisanya biar kita."
Di balik kaca, ayah Arka tertidur, dadanya naik turun pelan dengan bantuan alat. Tambalan di garasi sudah memperbaiki atap bocor itu. Tapi tubuh ayahnya, ternyata, tidak bisa ditambal semudah seng berkarat. Dan band kecil itu, yang dulu hanya bermimpi soal panggung, kini belajar bahwa kadang panggung terpenting adalah koridor rumah sakit, dengan satu sama lain sebagai penonton.