Reza menemukan mereka di kafe Sudut Kopi.
Arka mengenalinya begitu lelaki itu masuk—jaket kulit yang sama, rambut yang sama rapi, senyum yang sama ramah. A&R muda dari label yang dulu menawari mereka kontrak, lalu kecewa namun hormat ketika mereka memilih menunda dan tumbuh sendiri. Itu sudah lama. Mereka kira Reza sudah lupa.
Reza menonton seluruh set dari meja belakang, tanpa menyela. Ketika lagu terakhir—Suara di Dasar Panci, lagu untuk ibu Arka—selesai, ia tidak bertepuk berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, seperti orang yang mendapat jawaban atas pertanyaan lama.
Setelah set, ia mendekat. "Halo, Senja Terakhir. Masih inget gue?"
"Reza," kata Damar. "Inget banget."
"Boleh gue traktir kalian? Ada yang mau gue omongin." Reza menarik kursi. "Tenang. Kali ini gue datang beda."
Mereka duduk mengelilingi meja. Reza memesan minuman untuk semua, lalu meletakkan ponselnya menelungkup di atas meja—gestur kecil yang Arka perhatikan, seolah berkata: gue nggak buru-buru, gue dengerin kalian.
"Dua tahun lalu," mulai Reza, "gue datang ke kalian dengan kontrak yang gue sendiri sekarang malu ngeliatnya. Banyak pasal yang nggak adil. Kalian masih remaja, nggak ada yang dampingin, dan gue—gue cuma A&R baru yang dikejar target sama bos gue. Kalian nolak. Dan jujur, waktu itu gue kesel. Tapi makin ke sini, gue makin respek."
"Kenapa respek?" tanya Bima.
"Karena kalian milih tumbuh dulu. Banyak band yang gue temuin, dikasih kontrak langsung teken, terus dua tahun kemudian bubar karena nggak siap. Kalian beda. Kalian manggung dari kafe ke kafe, gagal audisi TV—iya, gue tahu soal itu—terus tetep jalan. Lagu kalian makin mateng. Yang barusan, yang tentang ibu itu, gila. Itu bukan lagu band yang ngejar viral. Itu lagu band yang punya sesuatu buat diceritain."
Arka menatap Reza, mencari jebakan di balik kata-katanya. Dulu pun Reza ramah. "Jadi sekarang gimana?"
"Sekarang gue datang bukan bawa kontrak yang ada jebakannya," kata Reza. Ia mengeluarkan map tipis, tapi tidak langsung membukanya. "Posisi gue di label udah naik. Gue punya ruang lebih buat bikin keputusan. Dan gue mau ngajak kalian bikin sesuatu yang lebih kecil dulu, lebih jujur. Bukan album besar, bukan kontrak panjang yang ngiket kalian bertahun-tahun."
"Apa?" tanya Senja.
"EP. Mini-album. Empat sampai lima lagu. Label bantu produksi, mixing, mastering yang bener—bukan rekaman ponsel lagi. Distribusi ke platform digital. Royalti dibagi adil, dan gue sertain orang yang bisa kalian percaya buat jelasin tiap pasal. Kontraknya cuma buat EP itu. Habis itu kalian bebas mau lanjut atau nggak."
Hening di meja. Bima yang biasanya langsung antusias kini menahan diri—mereka semua sudah belajar dari audisi, dari penolakan, dari pengalaman.
"Kenapa kami harus percaya?" tanya Arka. Pertanyaannya datar, tapi tidak kasar. Ia hanya ingin tahu.
Reza menatapnya, dan untuk pertama kalinya senyum profesionalnya luntur, berganti sesuatu yang lebih nyata. "Lu nggak harus percaya gue, Ka. Lu pikir, lu tanya, lu konsultasi sama orang dewasa yang lu percaya—bokap lu, atau siapa. Gue tinggalin map ini. Baca. Tanya. Kalau nggak sreg, buang. Gue nggak akan kayak dulu, ngejar-ngejar kalian." Ia berdiri, meletakkan map di tengah meja. "Tapi gue percaya satu hal. Band yang bikin lagu tentang tangan kasar bapaknya, sama suara ibunya di dasar panci—band kayak gitu pantes didenger lebih banyak orang. Bukan buat terkenal. Tapi biar yang butuh denger lagu itu, bisa nemu."
Ia pamit, meninggalkan map di meja.
Empat orang menatap map itu untuk waktu yang lama.
"Kali ini beda," kata Damar pelan. "Gue ngerasa dia jujur. Tapi tetep, kita harus baca pelan-pelan. Kita harus ajak orang yang ngerti."
Arka menyentuh map itu, tidak membukanya. Ia memikirkan ayahnya di rumah sakit, yang sekarang sudah pulang tapi masih lemah. Ayah yang dulu curiga pada janji manis, yang berkata "berapa peluang menangnya, Ka?" Ayah yang sekarang, mungkin, perlu dilibatkan lagi.
"Aku mau ajak ayahku baca ini," kata Arka. "Sebelum kita putusin apa-apa."