Ayah Arka membaca map itu di meja makan, dengan kacamata baca yang catnya sudah terkelupas di sisi kanan.
Ia membaca pelan, jarinya menyusuri setiap baris, sesekali bertanya. "Ini apa, royalti? Maksudnya kalian dibayar tiap lagu kalian diputer orang?" Arka menjelaskan sebisanya, dengan istilah yang ia sendiri baru pelajari dari mencari di internet. Ada bagian yang mereka tidak mengerti, dan untuk itu Reza mengirimkan seorang kenalannya—seorang konsultan musik independen yang menjelaskan pasal demi pasal lewat panggilan video, sabar, tanpa memihak label.
Setelah dua malam membaca, ayah Arka melepas kacamatanya.
"Ayah nggak ngerti musik," katanya. "Tapi Ayah ngerti orang. Si Reza ini... beda sama yang dulu kamu ceritain. Yang dulu maksa, yang ini ngasih kalian ruang buat mikir. Sama satu lagi—" ia mengetuk satu pasal di map, "—dia nulis kontraknya cuma buat lima lagu ini. Nggak ngiket kalian seumur hidup. Orang yang mau nipu nggak akan ngasih pintu keluar segampang ini."
"Jadi Ayah setuju?"
Ayahnya menatapnya lama. "Yang penting bukan Ayah setuju, Ka. Yang penting kamu sama temen-temen kamu yakin. Tapi kalau kamu nanya pendapat Ayah—iya, coba aja. Cuma janji satu hal." Ia menunjuk Arka dengan jari kapalannya. "Lagu yang kamu bikin, tetep lagu kamu. Jangan sampai mereka suruh kamu bikin yang nggak kamu rasain cuma biar laku. Kalau itu kejadian, mending kamu balik ke garasi."
Arka mengangguk, dan kata-kata ayahnya tertanam dalam di dadanya.
Mereka teken—berempat, dengan persetujuan orang tua, dengan konsultan yang menyaksikan. Dan mulai hari itu, hidup mereka berubah ritmenya.
Studio rekaman yang label sediakan jauh berbeda dari rekaman kamar dan ponsel yang dulu mereka kenal. Ruang kedap suara dengan busa di dinding. Mikrofon yang harganya mungkin lebih mahal dari seluruh peralatan band mereka digabung. Seorang sound engineer bernama Mas Topan yang tahu cara membuat drum Bima terdengar tebal dan vokal Arka terdengar dekat, seperti berbisik di telinga pendengar.
Tapi proses itu tidak semudah yang mereka bayangkan.
"Take lagi," kata Mas Topan dari balik kaca, untuk yang kesekian kali. "Bima, kick-nya telat seperdelapan ketukan. Sekali lagi."
Bima mengusap wajah. Mereka sudah merekam bagian drum Tangan Kasar selama tiga jam. Di garasi, lagu itu mengalir begitu saja. Di studio, setiap ketidaksempurnaan terdengar jelas, terekam abadi.
"Gue capek, Mas," kata Bima. "Di garasi mah sekali jalan langsung jadi."
"Di garasi nggak ada yang denger detailnya," kata Mas Topan, tidak kejam, hanya jujur. "Di sini, ribuan orang bakal denger. Tiap kesalahan kecil bakal keulang tiap kali mereka muter lagu kalian. Makanya kita teliti."
Ada ketegangan baru di antara mereka—ketegangan yang lahir dari standar yang lebih tinggi. Senja yang biasa improvisasi harus bermain presisi. Damar yang santai harus mengulang garis bass sampai sempurna. Dan Arka—Arka harus menyanyikan Tangan Kasar berkali-kali, dan setiap kali ia menyanyikannya, ia harus membuka luka itu lagi, tentang ayahnya yang sekarang sedang sakit di rumah.
Di take kesekian, saat menyanyikan bait tanganmu kasar bukan karena kamu keras, suara Arka pecah—bukan karena teknik, tapi karena ayahnya benar-benar terbaring lemah sekarang. Ia berhenti, menunduk.
"Mas," kata Mas Topan dari balik kaca, suaranya melembut. "Yang barusan itu... jangan diulang. Itu yang gue cari dari tadi. Itu bukan suara yang sempurna, tapi itu suara yang bener."
Mereka memakai take itu. Dan ketika Arka mendengarnya diputar ulang—suaranya yang nyaris patah, dengan ruang dan kedalaman yang tidak pernah ada di rekaman ponsel—ia merinding. Untuk pertama kalinya, ia mendengar lagunya seperti orang lain mendengarnya. Dan itu indah, dan itu menakutkan.
Lima lagu. Tangan Kasar, Suara di Dasar Panci, Lampu Jalan, Gang Sempit, dan Hujan Bulan Tiga. Seluruh perjalanan mereka, dari garasi bocor sampai sekarang, dipadatkan ke dalam satu mini-album.
Malam terakhir di studio, saat semua selesai direkam, mereka berempat duduk di sofa ruang kontrol, mendengarkan keseluruhan EP dari awal sampai akhir. Tidak ada yang bicara. Dua puluh menit musik yang berisi seluruh hidup mereka.
Saat lagu terakhir habis, Bima berkata pelan, "Anjir. Itu... itu kita?"
"Itu kita," kata Arka.
Ember biru tidak ada di studio mewah itu. Tapi di benak Arka, ia mendengar bunyinya, di balik semua lapisan suara yang baru. Tes. Tes. Tes. Dari mana mereka berasal.