EP-nya selesai. Tapi mereka belum bisa merilisnya, karena ada satu hal yang membuat empat orang itu bertengkar lebih sengit dari soal apa pun selama ini: namanya.
"Tangan Kasar," kata Bima mantap, di garasi pinjaman. "Itu lagu terkuat kita. Yang bikin festival hening. Judul EP-nya Tangan Kasar. Selesai."
"Terlalu suram," kata Senja. "Orang yang belum kenal kita, denger judul Tangan Kasar, mikirnya apa? Album keras? Album marah? Padahal isinya lembut."
"Terus lu usul apa?"
Senja menggigit bibir. "Aku mikir sesuatu yang lebih ngegambarin kita semua. Bukan cuma satu lagu. Mungkin... Suara dari Garasi? Atau Senja Terakhir aja, kayak nama band?"
"Self-titled EP pertama," kata Damar, mengangguk. "Itu lazim. Aman."
"Aman tapi nggak ada artinya," potong Bima. "Lu pengen aman atau pengen orang inget kita?"
Suasana mulai panas. Reza, yang dulu mereka kira akan memaksakan pilihan label, justru mundur. "Ini keputusan kalian," katanya lewat telepon. "Judul itu identitas. Label bisa kasih saran soal yang gampang dijual, tapi gue nggak mau maksa. Yang penting kalian sepakat."
Tapi mereka tidak sepakat. Selama tiga hari, judul itu jadi medan perang kecil.
Bima ngotot Tangan Kasar—lagu yang paling personal, yang mengubah segalanya. Senja mau sesuatu yang lebih luas, yang mewakili semua, bukan cuma ayah Arka. Damar condong ke yang aman dan profesional. Dan Arka—Arka diam.
"Lu kenapa diem aja, Ka?" tanya Bima akhirnya, frustrasi. "Ini lagu lu semua. Lu yang paling berhak nentuin."
Arka memandang ember biru di atas amplifier. "Justru karena ini soal kita semua, aku nggak mau mutusin sendiri." Ia menarik napas. "Tapi aku mikir gini. Tangan Kasar itu tentang ayahku. Suara di Dasar Panci tentang ibuku. Lampu Jalan tentang anak pulang sendiri. Gang Sempit tentang mimpi kegedean buat tempat sempit. Hujan Bulan Tiga tentang atap bocor. Coba pikir—apa benang yang nyambungin semua itu?"
Garasi hening, berpikir.
"Orang-orang yang nanggung diem-diem," kata Senja pelan.
"Tempat yang kecil tapi penuh," kata Damar.
"Rumah," kata Bima tiba-tiba, dan ia sendiri kaget mengucapkannya. "Semua lagu kita tentang rumah. Rumah yang susah, rumah yang berat, tapi tetep rumah."
Arka tersenyum. "Inget lirik pertama yang aku tulis, yang bikin Senja dulu nengok di garasi? Rumah itu cuma dinding, bukan tempat pulang." Ia memandang mereka. "Dulu aku mikir gitu. Rumahku cuma dinding. Tapi sekarang—setelah Tangan Kasar, setelah ayahku berdamai, setelah Suara di Dasar Panci, setelah kalian—aku nggak mikir gitu lagi."
"Jadi judulnya apa?" tanya Bima, sudah tidak ngotot lagi, hanya penasaran.
Arka mengambil buku liriknya, membuka halaman pertama, halaman dengan tulisan yang sudah pudar. Lalu ia menulis sesuatu di kertas baru, dan menunjukkannya.
Bukan Tempat Pulang. Lalu di bawahnya, dicoret, dan ditulis ulang: Tempat Pulang.
"Dulu rumah itu bukan tempat pulang," kata Arka. "Sekarang udah. Itu perjalanan kita. Dari ngumpet jadi bersuara, dari dinding jadi rumah. Judulnya: Tempat Pulang."
Hening. Lalu Senja tersenyum, dan matanya berkaca. "Aku suka."
Damar mengangguk. "Itu... itu nyambungin semua lagu. Aman tapi punya arti. Gue setuju."
Mereka semua menatap Bima, yang tadi paling keras membela Tangan Kasar. Bima mengembuskan napas, lalu nyengir. "Ya udah. Tangan Kasar tetep jadi lagu andalan, kan? Cuma judul EP-nya Tempat Pulang. Oke, gue terima. Lagian, kalau gue jujur—" ia menggaruk kepala, "—Tempat Pulang emang lebih kena. Sialan, kalian bener lagi."
Mereka tertawa, ketegangan tiga hari cair seketika. Tempat Pulang. Lima lagu, satu rumah, satu perjalanan dari garasi bocor sampai studio. Arka menatap nama itu di kertas, lalu ke ember biru, lalu ke teman-temannya.
Dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka pergi—keduanya ada di dua kata itu.