Panen pertama datang pada subuh akhir bulan, ketika kabut masih menggantung tipis di atas petak-petak tambak dan suara azan dari masjid desa bersaut dengan kokok ayam. Pram sudah ada di sana sebelum matahari terbit, berdiri di pematang dengan celana digulung sampai lutut, menyaksikan Topik dan Yatno menarik jaring pertama dari kolam nila yang mereka jaga berminggu-minggu dengan tidur bergantian di gubuk bambu.
Ketika jaring itu terangkat, ada saat hening di mana tidak ada yang berani bernapas. Lalu air bergolak, dan ikan-ikan nila berkilau perak menggelepar di dalam jaring—tidak banyak, tidak besar, tapi hidup, nyata, dan milik mereka. Mas Bejo mengeluarkan suara yang setengah tawa setengah sesak, seperti orang yang lama menahan napas. Yatno tertawa lepas untuk pertama kali sejak Pram mengenalnya, lumpur memercik ke wajahnya dan ia tak peduli.
"Ini... ini beneran ikan, Pak," kata Topik, dan kalimatnya yang konyol itu justru menangkap kebenaran yang dalam. Setelah berbulan-bulan benih mati diracun, setelah sabotase dan ejekan dan jaga malam yang melelahkan, mereka punya sesuatu yang bisa dipegang, ditimbang, dijual.
Panennya tipis. Pram tahu itu dan tidak berpura-pura tidak. Ketika ikan ditimbang di warung Bu Painem yang setuju jadi pengepul, total hasilnya, setelah dikurangi biaya pakan dan bibit, hanya cukup memberi upah pada belasan keluarga untuk beberapa minggu ke depan. Itu bukan kemakmuran. Bukan pula pengganti penuh dari upah tambang yang dulu mengalir deras dan harian. Ini hanya napas—tarikan napas kecil bagi dapur-dapur yang sudah lama tersengal.
Tapi napas, Pram tahu, adalah segalanya bagi orang yang nyaris tenggelam.
Ia membagi hasil itu di teras gubuk, terbuka, di depan semua orang, mencatat tiap rupiah di buku yang dipegang Topik. Ia sengaja melakukannya secara terbuka karena ia ingat tuduhan lama—bahwa koperasi cuma akal-akalan menguasai uang. Tidak ada yang disembunyikan. Setiap orang melihat berapa yang masuk, berapa yang keluar, berapa yang mereka bawa pulang. Sebagian kecil disisihkan untuk modal panen berikutnya, dan ketika Pram menjelaskan kenapa, tidak ada yang protes—karena mereka sudah melihat sendiri bahwa modal yang habis berarti tidak ada panen kedua.
Lik Darman, yang dulu paling sinis, membawa pulang bagiannya dengan tangan agak gemetar. "Ndak banyak," katanya, "tapi ini halal, Le. Ini bukan ngeruk yang bikin sungaiku jadi jurang." Ia berhenti di gerbang lahan, menatap petak-petak tambak yang berkilau di bawah matahari pagi. "Anakku nanya tadi pagi, Pak. 'Bapak kerja di mana sekarang?' Aku bilang, 'Bapak melihara ikan.' Dia ketawa. Dulu dia ndak pernah ketawa kalau aku bilang aku ngeruk pasir."
Kalimat itu menempel di kepala Pram seharian.
Kabar panen menyebar lebih cepat dari yang ia kira. Di warung kopi, di pasar, di pos ronda, orang-orang membicarakannya—sebagian meremehkan, sebagian penasaran, dan beberapa, untuk pertama kalinya, mulai bertanya bagaimana cara ikut. Itulah yang paling berharga: bukan jumlah ikannya, tapi gagasan yang dibawanya. Selama belasan tahun, desa ini hidup dengan satu keyakinan yang tak tergoyahkan—bahwa tanpa pasir, tak ada nafkah. Panen tipis ini, sekecil apa pun, adalah retakan pertama pada keyakinan itu. Ternyata ada hidup lain. Ternyata sungai bisa memberi makan tanpa harus dibunuh.
Dan justru karena itulah, Pram tahu, kabar ini akan sampai ke rumah besar dan tidak akan disambut dengan senyum.
Ia tidak salah. Beberapa hari kemudian, dari mulut Mas Bejo yang masih punya saudara di lingkaran Pak Har, sampai padanya bahwa sang mantan kepala desa menyebut koperasi itu sebagai "mainan anak muda." Sekadar mainan. Cuma akan bertahan sampai musim kemarau pertama, katanya, lalu kembali ke pasir seperti yang sudah-sudah.
Tapi Mas Bejo menambahkan sesuatu yang membuat Pram tersenyum tipis. "Tapi dia nanya, Le. Pak Har nanya berapa hasilnya, berapa yang ikut, dijual ke mana. Orang yang nyebut sesuatu mainan ndak akan nanya sedetail itu."
Pram memahaminya. Selama belasan tahun, kekuatan Pak Har bertumpu pada satu pilar tunggal: keyakinan seluruh desa bahwa tanpa tambang mereka akan lapar. Selama keyakinan itu utuh, ia tak terkalahkan, bahkan dalam kekalahan. Tapi panen tipis ini, ikan-ikan perak yang menggelepar di subuh tadi, adalah serangan pertama pada pilar itu—bukan dengan argumen, bukan dengan pidato, melainkan dengan bukti yang bisa dipegang dan dijual dan dibawa pulang. Dan Pak Har, lelaki yang membaca peta kekuasaan lebih tajam dari siapa pun, tahu persis bahwa retakan kecil di pilar yang menopang seluruh bangunan adalah hal yang paling berbahaya dari semuanya.