Kemarau tahun itu datang lebih garang dari biasanya. Langit memutih sepanjang siang, tanah retak-retak di sawah hilir, dan sungai yang baru saja pulih menyusut sampai memperlihatkan punggung kerikilnya. Sumur-sumur dangkal mulai kering. Dan ekonomi baru desa, yang baru belajar berdiri, terhuyung untuk pertama kalinya menghadapi ujian sebenarnya.
Kolam tambak adalah yang paling cepat terpukul. Air menyusut, suhu naik, dan ikan-ikan nila mulai mengambang. Topik datang ke kantor desa pagi-pagi dengan wajah pucat.
"Pram, kolam tiga sama lima mati hampir setengah. Airnya kurang, panasnya nggak ketulungan. Kalau kemarau ini lanjut sebulan lagi, semua kolam habis."
Sawah pun begitu. Padi yang baru pulih menguning sebelum waktunya, dan beberapa petani sudah menggerutu bahwa hasil panen tak akan menutup biaya tanam. Di warung kopi—tempat opini desa selalu dibentuk—gerutuan itu mulai mengeras, dan kali ini ia mengarah ke tempat yang Pram takutkan.
"Lha gimana, dulu zaman pasir nggak peduli kemarau atau hujan," terdengar suara seorang lelaki tua, cukup keras untuk didengar Pram yang lewat. "Tiap hari ada upah. Sekarang? Kemarau dikit, semua ribut, ikan mati, padi kering. Mana hidupnya?"
Kalimat itu seperti racun lama yang bangkit kembali: bahwa jalan tanpa tambang ini cuma mainan, rapuh, tak bisa diandalkan; bahwa pasir, betapapun kotornya, setidaknya pasti. Dan yang menyakitkan, dalam kemarau ini, gerutuan itu terdengar masuk akal.
Pram tidak panik, tapi ia juga tidak meremehkan. Ia tahu kalau ia salah menangani musim ini, seluruh kepercayaan yang ia bangun bisa runtuh dalam beberapa minggu, dan suara-suara yang merindukan tambang akan kembali menemukan telinga yang lapar.
Ia tidak menggelar pidato. Ia memanggil koperasi, para kepala dusun, dan beberapa petani paling tua yang masih ingat cara bertahan dari kemarau di zaman sebelum pasir—zaman ketika desa terpaksa pintar karena tak ada uang gampang.
"Saya nggak bisa bikin hujan," Pram memulai pertemuan itu di balai desa. "Jadi jangan ada yang berharap saya punya sulap. Yang bisa kita lakuin cuma satu: bertahan, sama-sama, sampai hujan datang lagi."
Mereka menyusun rencana yang membumi, satu per satu. Sumur bor—Pram memakai sisa anggaran pemeliharaan untuk satu sumur bor dalam yang airnya dibagi: prioritas air minum, lalu kolam yang masih bisa diselamatkan, lalu sawah yang paling kritis. Pembagiannya diatur jadwal, diawasi kepala dusun, ditempel di papan supaya tak ada yang merasa dicurangi. Gotong royong dihidupkan—pemuda koperasi membuat parit-parit kecil untuk mengalirkan sisa air sungai ke kolam, kerja yang dulu tak terbayangkan akan dilakukan oleh anak-anak muda yang dulu cuma main kartu.
Dan yang paling penting, Pram mendorong diversifikasi—kata yang tak ia mengerti dulu tapi prinsipnya ia pahami betul dari lapangan bola: jangan taruh seluruh harapan di satu pemain. Kalau kolam dan sawah sama-sama bergantung pada air, maka harus ada yang tidak. Ia mendorong sebagian anggota koperasi mulai usaha yang tak butuh banyak air—olahan tempe seperti yang dijual Mbok Surti, anyaman bambu dari rumpun yang ditanam di tepi sungai, ternak ayam kampung. Kecil-kecil. Tapi kalau yang satu kering, yang lain masih hidup.
Tidak semua mulus. Ada anggota yang keluar koperasi, putus asa, merasa lebih baik merantau cari kerja di kota daripada bertahan di desa yang kemarau. Pram tidak menahannya. Ia sudah belajar tidak memaksa orang percaya pada sesuatu yang belum terbukti.
Suatu malam, lelah setelah seharian mengatur giliran air, ia duduk di teras kantor desa bersama Topik. Bintang banyak sekali di langit kemarau yang kering.
"Capek, Pik?" tanya Pram.
"Capek banget," Topik mengaku. "Kadang aku mikir, jangan-jangan yang ngomong di warung kopi itu bener. Jangan-jangan ini emang nggak bakal pernah cukup. Kemarau aja udah hampir bikin semua ambruk."
Pram diam sebentar. "Pik, dulu zaman pasir, kemarau memang nggak ngaruh ke upah. Tapi tahu kenapa? Karena pasirnya digali terus, nggak peduli sungai mati. Kekuatan tambang itu justru karena dia nggak peduli alam. Dia kuat karena dia ngerusak." Ia menengadah ke bintang. "Yang kita bangun ini lemah justru karena dia ikut alam. Kemarau, kita susah. Hujan, kita untung. Itu bukan kelemahan, Pik. Itu artinya kita hidup sama desa, bukan ngabisin desa."
Topik memikirkannya. "Tapi orang nggak peduli filosofi pas perut kosong, Pram."
"Bener," Pram mengakui. "Makanya kita nggak boleh kasih filosofi. Kita kasih sumur bor, kasih parit, kasih jadwal air yang adil, kasih kerja sampingan. Kita buktiin bisa bertahan. Sekali kita lewatin kemarau ini tanpa ada yang kelaparan beneran, mereka bakal percaya jalan ini lebih kuat dari yang mereka kira."
Kemarau itu panjang dan berat. Ada minggu-minggu di mana Pram tidur tiga jam, berkeliling memastikan tak ada keluarga yang benar-benar kehabisan beras, menggeser bantuan dari yang berlebih ke yang kurang. Ekonomi baru desa tidak menang dengan gemilang melawan kemarau; ia hanya bertahan, terhuyung, babak belur tapi tidak roboh. Dan ketika hujan pertama akhirnya turun, membasahi tanah yang retak dan mengisi kembali kolam yang menyusut, Pram berdiri di tengah hujan itu tanpa berteduh, membiarkan air membasahi kepalanya, dan menyadari pelajaran yang akan ia bawa sampai akhir masa baktinya: kemenangan melawan tambang dulu hanya satu hari. Mempertahankan hidup desa yang baru adalah pekerjaan yang tak pernah selesai, yang harus dimenangkan lagi setiap musim, dengan kerja, bukan dengan kemenangan.