Arsen berjalan tergesa di sepanjang koridor rumah sakit. Ia baru saja mendapat kabar jika Ika, sahabatnya dilarikan ke rumah sakit. Baru saja kemarin ia bertemu dengan sang aktris. Memang keadaannya tidak sebaik sebelumnya, tetapi Arsen tak menyangka kondisinya kembali drop.
Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu, yang pasti sebagai sahabat ia ingin mendampinginya.
“Arsen?”
Seseorang mencegat langkahnya untuk memasuki ruang ICU. Arsen pun menghentikan langkahnya yang tergesa. Seorang pria berperawakan tinggi sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU.
“Ugo? Gimana keadaan Ika?”
Ugo mempersilakan Arsen duduk di sampingnya. “Dia baru saja melewati masa kritisnya, baru saja istirahat.”
“Kritis?” Arsen membeo dengan raut terkejut. Ia sama sekali tidak tahu sakit apa yang diderita sahabatnya. Ika benar, sejak Arsen menjalin hubungan dengan Lidya, hubungan mereka memang semakin renggang. Mereka sibuk dengan kehidupannya masing-masing, hingga Ika bertemu dengan Ugo dan menjalin hubungan serius meski sekarang hubungan mereka telah berakhir.
Meskipun Ugo dan Ika telah mengakhiri hubungan mereka, tetapi Ugo selalu setia mendampinginya. Ugo juga yang mengabari tentang kesehatan Ika karena ia tahu, Arsen adalah cinta pertama yang tak mungkin bisa Ika lupakan. “Ika nggak mau lo sampai tahu keadaannya.”
Arsen menoleh, ia tak mampu berkata-kata.
“Sudah dua tahun belakangan Ika sakit, kanker serviks.” Ugo menerangkan kronologi kejadian yang dialami Ika karena ia yang mendampingi selama pengobatan.
“… dua bulan lalu, Ika sudah melakukan operasi pengangkatan rahim.”
Arsen mendengarkan cerita Ugo dengan seksama. Tak sekali pun ia berusaha menyela meski di kepalanya banyak sekali tanya yang ingin ia lontarkan. Apa? Bagaimana? Mengapa?
“Iya, lo nggak salah dengar Sen. Ika selalu murung setelah menjalani operasi itu. Gue sendiri bingung gimana cara menghiburnya. Gue sudah coba buat ngajak dia tinggal di luar negeri, atau melakukan apapun yang dia suka, tetapi dia keukeuh balik ke sini.
“Gue sama Ika emang udah putus. Ika nggak mau jadi beban buat gue tapi, gue nggak bisa ninggalin Ika dalam kondisi kayak gini. Gue bakal jadi laki-laki paling jahat kalo sampai ninggalin perempuan yang gue cintai dalam keadaan dia yang lagi berjuang.
“Gue harap, lo bisa bantu gue buat hibur Ika. Apapun caranya. Karena Ika … gue tau banget kalo Ika masih sayang sama lo. Gue berharap banget lo bisa balikin senyum dan semangat hidupnya.”
Arsen tampak lesu mendengar penjelasan dari Ugo. Sebegitu dalamnya cinta Ugo untuk Lidya.
“Aku bakal lakukan yang terbaik yang aku bisa. Terimakasih sudah mendampingi Ika.”
“Ini sudah tanggungjawab gue. Oya, gue denger lo baru nikah ya?”
“Iya.”
“Sen, gue nggak bermaksud bawa lo ke dalam masalah ini, jadi kamu juga jangan tutupi masalah ini dari istri lo. Kata Ika, istri lo posesif ya? Kalo perlu bantuan buat jelasin ke dia, lo bisa kontak gue.”
Arsen sedikit terkekeh, “It’s oke, istriku nggak seposesif itu kok. Dia pasti ngerti sama kondisi Ika.”
Arsen baru saja mengabari Laura jika ia akan menemui sahabat lamanya yang sedang dirawat di rumah sakit, setelah itu ia akan menjemputnya. Meski tidak ada balasan dari Laura, tetapi centang biru di aplikasi chatnya itu menandakan jika istrinya sudah membaca isi pesannya.
***
“Asik banget ketemuannya sampai Mas teleponin nggak diangkat-angkat,” sindir Arsen begitu Laura masuk ke dalam mobil.
Sudah lebih dari satu jam Arsen menunggu Laura di luar kafe.
“Apaan sih Mas Arsen. Aku capek. Mau pulang. Nggak mau ribut. Males!” sahut Laura ketus seraya memasangkan seat belt.
Namun Arsen masih juga bergeming di kursinya sambil menatap Laura dengan wajah datar.
Laura menggembungkan pipinya, ia tahu dan menyadari kesalahannya. “Maaf.”
“Oke, permintaan maafnya diterima. Lain kali kalau Mas telepon diangkat ya, Mas tuh kuatir sama kamu. Ohya, kamu sudah makan?”
“Sudah,” dusta Laura. Ia memang sudah memakan beberapa ayam goreng dos, tetapi makanan itu tidak cocok disebut sebagai makan malam.
“Padahal Mas mau masakin spageti loh. Resepnya khusus dapet dari bang Kendra. Tadi Mas baru aja ambil saos carbonaranya. Masih fresh.”
Kendra Pranata? Chef terkenal itu? Suami artis Jodie Sugandhi?
Laura memang belum banyak mengenal keluarga Arsen, tetapi ia cukup familiar dengan beberapa nama pengusaha dengan membawa nama ‘Pranata’ di belakang namanya. Apalagi Kendra Pranata, meski ia sendiri belum bertemu dengan sepupu suaminya itu, ia cukup mengenalnya dari youtube channel yang dibuatnya bersama sang istri. Aktris sekaligus model terkenal, Jodie Sugandhi.
“Aku udah kenyang. Mau pulang. Istirahat, capek!” sahut Laura tak acuh.
***
Laura terpaksa menemani Arsen membuat spageti di dapur. Melihat Arsen yang masak dengan serampangan begitu membuat Laura tersenyum. Baru lima menit Arsen menggunakan dapur, tetapi kekacauan sudah terjadi di mana-mana.
Laura berdiri tak jauh dari Arsen, dengan posisi menyandarkan pinggulnya di samping meja dapur. Kedua tangannya terlipat di d**a persis chef Juna yang sedang menjadi juri di master chef.
“Ngapain Neng? Senyum-senyum mulu, mentang-mentang tadi abis ketemu pacar. Huuu… bukannya bantuin apa kek,” seloroh Arsen yang sedang menunggu air di panci mendidih.
Perhatian Laura teralih pada raut wajah Arsen, tidak ada raut cemburu, Arsen terlihat biasa-biasa saja. Laura tidak tahu kenapa, tapi hatinya justru merasa nyeri. Ada rasa bersalah, entah pada Arsen atau Geno. Namun, yang jelas ia merasa ada yang salah pada suasana hatinya.
“Kan tadi perjanjiannya cuma minta ditemenin masak daong?” Laura balik bertanya.
“Ya ternyata masak spageti tuh susah.” Arsen mengeluh seraya memasukan spageti di air mendidih dengan takut-takut.
“Mas butuh bantuan apa?” tanya Laura berusaha bersikap biasa saja.
“Apa ya?” balas Arsen tanpa menoleh pada Laura yang menunggu perintah. “Neng siapin piring sama gelas ya.”
“Oke.” Dalam sekejap mata Laura sudah menyiapkan dua piring dengan masing-masing gelas di sisi kanannya. Ia juga sudah menuangkan air putih. Tidak ada yang salah spageti dan air putih kan? Masa harus selalu wine?
Laura kembali memperhatikan cara Arsen merebus pasta spageti. Mulanya stik spagheti itu ia genggam ujung atasnya sementara ujung bawahnya ia masukkan ke dalam air mendidih lalu diputar searah jarum jam, perlahan-lahan. Terlihat sekali jika Arsen takut terkena cipratan air panas. Pria berusia 32 tahun itu tampak meringis saat melepaskan ujung spageti.
“Itu kenapa nggak langsung di cemplungin semua sih Mas?”
“Pancinya nggak muat Sayang, jadi harus gini, biar bagian bawahnya lemes dulu baru deh dicemplungin semua,” jelas Arsen seperti seorang chef professional. Laura lagi-lagi tersenyum, remeh.
“Itu airnya di kasih minyak ya?” Laura memperhatikan air yang sedang mendidih di panci.
“Iya dikit, biar pastanya nggak ngegumpal.”
“Mas udah bikin sausnya?”
“Udah ada yang jadi, minta sama Bang Ken tadi di resto.” Arsen menunjuk toples berisi saos carbonara yang tergeletak di atas meja dapur dengan dagu.
“Yaaah…,” sahut Laura dengan mimik kecewa.
“Kenapa?”
“Sama aja bohong dong Mas!”
“Kok bohong? Kan daripada bikin saus sendiri ntar hasilnya nggak kayak di restoran. Lagian ini tuh pake bumbu rahasia yang cuma Bang Ken doang yang tau,” elak Arsen dengan bahasa yang lebih santai.
Laura sendiri tak begitu menyadari sejak kapan Arsen menggunakan bahasa sesantai itu. Yang Laura rasakan adalah, bahasa Arsen yang biasanya kaku kini terdengar lebih santai.
“Lah emang selama ini di restonya Bang Ken belajar apa aja?”
“Terakhir … ngrebus spagheti,” jawabnya enteng sambil tersenyum menatapnya. “Makanya ini mau praktek di rumah, hehehee….” Fokus Arsen kembali pada pasta yang sedang ia aduk.
Timbang ngerebus spageti aja pake kursus segala! Laura yang gregetan hanya bisa mengatupkan giginya dengan kedua tangan terkepal erat. Ekspresi Laura benar-benar menggemaskan hingga Arsen terbahak.
“Kenapa?” tanya Laura heran.
“Muka kamu itu loh Neng, nggak sabaran ya? Daripada geregeten, mending bantuin angetin sausnya.”
“Ih ogah! Sesuai perjanjian dong, aku cuma nemenin masak.” Laura mendengus, matanya menatap spageti yang sedang Arsen tiriskan.
“Neng, nggak usah pake diet-diet segala deh. Diet itu nyiksa diri tau nggak? Ya udah nggak bantuin masak nggak apa-apa, tapi bantuin ngabisin makanannya ya?”
Laura juga tahu jika diet itu memang menyiksa diri, tapi mau bagaimana lagi, dibully karena memiliki tubuh gendut itu tidak mengenakkan. Bibir Laura mengerucut, pertanda ia kesal.
“Dietnya besok aja ya. Malam ini makan enak dulu. Sayang loh … ini tuh enak banget, resepnya langsung dapat dari master chef sekelas bang Ken.” Arsen menunjukkan saus yang ia dapat gratis dari sepupunya lalu menuangkan ke dalam teflon. Tak butuh waktu lama, saus tersebut itu mendidih lalu Arsen mencampurkannya dengan spageti yang sudah ditiriskan. Dan tak butuh waktu lama spageti karbonara itu sudah siap dihidangkan.
Arsen melihat dua piring yang sudah ada di meja makan, kemudian menyunggingkan senyum. “Nah loh, katanya nggak mau makan, itu udah nyiapin dua piring?” ledek Arsen seraya menuangkan spageti di atas piring Laura.
“Eh?” Laura terkejut melihat hasil kerjanya. Itulah akibatnya jika bekerja tanpa fokus.
***
Arsen sudah menyuruh Laura untuk tidur lebih dulu, tetapi yang disuruhnya masih terjaga menunggu Arsen masuk ke kamar. Ada hal yang ingin ia tanyakan pada Arsen. Sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatinya.
“Tadi Mas ke rumah sakit?” tanya Laura begitu melihat wajah Arsen muncul dari balik pintu. yang ditanya terlihat kaget karena ia pikir Laura sudah tidur.
“Hah? Kata siapa?”
“Ih pikun.”
Seakan baru teringat ucapannya, Arsen menyengir. “Eh iya, tadi jengukin teman.”
“Cewek?” ketus Laura.
“Iyap,” jawab Arsen seraya bersiap tidur di sofa.
“Masih muda?”
“Yap.”
“Cantik?”
“Ini kamu lagi ngintrogasi nih ceritanya? Kan Mas sudah chat kamu, jelasin semuanya.” Arsen menoleh menatap wajah Laura yang berubah memerah. “Eh kamu kenapa? Itu muka kok merah gitu?”
“Tinggal jawab aja apa susahnya sih,” gerutu Laura seraya memalingkan mukanya.
“Iya, tadi jengukin teman, cewek masih muda dan dia cantik. Ada lagi yang mau ditanyakan?”
“Teman aja gitu?”
“Neng lagi cemburu ya?”
“Ck! Ge’er. Aku kan cuma nanya doang. Jaga-jaga kamu main sama cewek lain di luar. Kasian kak Lidya dihinati. Ah jangan-jangan kak Lidya pergi karena Mas Arsen selingkuh? Hayo ngakuuuuu!”
Arsen terkekeh mendengar tuduhan yang Laura layangkan. “Lah enggak dong, ngapain selingkuh? Enggak lah, Mas kan setia.”
“Terus Ika Pratiwi itu siapa? Bukan artis yang itu, ‘kan? Ah tapi nggak mungkin sih Mas kenal sama artis!” Laura menggumam.
“Iya, bener kok Ika Pratiwi yang artis itu. Pacar Mas waktu SMA dulu—” Arsen sedikit menceritakan tentang masa lalu percintaannya semasa SMA, tetapi Laura mencebik tak percaya.
“Tapi aku tetap nggak percaya sih, soalnya impossible banget gitu. Masa Ika Pratiwi yang cantik banget itu mau sama kamu?”
“Yeee dikasih tau nggak percaya. Mas kan gantengnya sudah dari SMA tau.”
“Enggak percaya!” sahut Laura yang kemudian menjulurkan lidahnya meledek.
“Enggak percaya atau takut cemburu nih?”
Aku cemburu? Laura menolak keras pertanyaan itu. “Ih ngapain cemburu, nggak penting banget!”
“Ngambek nih?” ledek Arsen.
Laura hanya membuang muka.
“Hehee… yaudah tidur yuk, Mas udah ngantuk nih.”
“Mas nggak nanyain tadi aku ngobrolin apa sama Gen?” Laura memberanikan diri untuk bertanya. Rasa penasarannya kian membuncah. Ada satu pertanyaan lain yang mengganggu dan ingin ia tanyakan, “Kamu cemburu nggak Mas?” Tapi pertanyaan itu tidak jadi ia lontarkan. Salah-salah Arsen berpikir jika Laura sendirilah yang ingin dicemburui dan ia tidak mau itu terjadi.
“Bukannya itu privasi kamu ya? Kan kamu sendiri yang bilang kalau Mas nggak boleh ikut campur, luuupa…?” jawabnya santai setengah meledek.
Laura tersenyum malu, kenapa juga ia ingin Arsen menanyakan perihal privasinya. “Au ah aku ngantuk!” Laura segera menarik selimutnya menghindari tatapan penuh selidik dari Arsen.