Laura baru saja sampai di kafe Geno tepat pukul lima sore. Beruntung hujan yang turun tidak terlalu besar dan ia mendapat pinjaman payung.
Suasana di kafe memang sedang sangat ramai. Maklum saja, kafe yang Geno bangun sejak setahun belakangan memang mengusung tema yang up to date dan i********:-able. Menu makanan yang unik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Kafe tersebut sebenarnya ditujukan untuk para pejuang diet yang kesulitan mencari tempat tongkrongan yang menawarkan makanan yang ramah untuk program diet namun memiliki cita rasa yang tak kalah lezat dengan makanan biasa.
“Hey….” Geno berjalan menyambut kedatangan Laura.
“Makin rame ya kafenya?” ucap Laura seraya menatap sekitar. Kebanyakan pengunjung kafe adalah anak-anak muda yang baru pulang dari sekolah atau kegiatan kuliah. Letak kafe Geno yang tak jauh dari pusat komplek pendidikan memang cukup menguntungkan.
“Alhamdulillah. Ini juga berkat masukan-masukan kamu. Pas banget malam ini ada live music. Ya udah masuk dulu yuk. Kamu sudah makan belum Ra?” tanya Geno yang dijawab gelengan. “Pas banget, aku baru bikin menu baru.”
“Apaan?”
“Ada deh…. Pokoknya kamu duduk cantik aja di sini. Aku tinggal ke dapur bentar ya.” Geno mengusap pelan puncak kepala Gendhis sebelum berlalu ke arah dapur.
Tak berselang lama Geno kembali dengan nampan berisi strawberry milk shake rendah gula dan, “Ini teriyaki? Aku kan dieeet Gen.” Laura lansung cemberut.
“Cicipin dulu deh.” Geno mengambil satu potongan makanan berbentuk paha ayam itu menggunakan garpu lalu menyuapkan pada Laura.
“Loh kok….” Mata Laura terbelalak mendapati makanan itu bukan berisi daging. Bahkan ia sama sekali tidak menemukan tekstur dagingnya meski rasanya sedikit mirip daging.
“Ini menu baru buat vegan.”
“Tempe? Kok kepikiran sih? Ini enak banget loh.”
“Iya tapi jangan kalap juga makannya.”
“Hehee…. Enggak dong.”
“Oiya, katanya ada yang mau diomongin, soal apa?” Satu pertanyaan Geno membuat Laura menghentikan kegiatan makannya. Wajahnya berubah sendu.
Geno tak memaksa Laura untuk langsung menjawab karena sebenarnya ia sendiri juga sudah tahu apa yang akan Laura katakan. Ia memang ingin mendengar langsung dari Laura tentang pernikahan yang mendadak Laura lakukan.
Geno menggenggam jemari Laura lembut seraya menatapnya, “Nggak cerita sekarang juga nggak papa Ra. Yuk dihabisin ayamnya.”
“Tempe!” sahut Laura tak terima.
Sekilas Geno sempat memperhatikan cincin yang melingkar di ibu jarinya yang berusaha Laura sembunyikan dengan menarik tangannya dari genggaman Geno. Laura benar-benar tidak ingat untuk melepaskan cincinnya sebelum mereka bertemu. Entah apa yang Geno pikirkan, apapun itu Laura akan berusaha mengatakan yang sejujurnya.
“Ha… hahaha…. Tapi ini udah jadi ayamnya vegan loh.” Geno menyahut diiringi tawa yang terdengar janggal. Meski begitu, melihat Laura yang terkadang cemberut, mengerucutkan bibirnya memang menjadi hiburan tersendiri baginya. Geno ingin menikmati kebersamaan dengan Laura selama yang ia bisa.
Pria berusia 20 tahun itu sadar benar bahwa tidak ada jaminan hati manusia akan setia pada satu cinta. Apalagi, ia tahu kini Laura tinggal bersama pria lain. Apapun bisa terjadi pada perasaan dua orang asing yang terbiasa bersama. Geno mengulas senyum getir menatap Laura yang dengan lahap mengunyah tempe teriyakinya. Apakah Laura bahagia?
Hari semakin gelap meninggalkan jejak hujan yang membuat halaman kafenya basah.
Sebuah minibus memasuki halaman parkir kafe, beberapa pemuda turun tergesa menghindari rintik gerimis yang tak urung pergi. Geno meminta izin untuk menyapa mereka sebentar. Sebagai pemilik kafe, Geno memang pintar melayani pengunjung.
Geno memperkenalkan teman-teman barunya yang akan mengisi live music pada Laura. Teman-teman Geno berpenampilan kasual selayaknya anak band pop. Berbeda aliran dengan Geno yang lebih menyukai genre rock, terlihat dari tato-tato yang menghiasi lengannya.
“Kamu mau request lagu nggak Ra?”
“Apa ya, ngikut aja sih, yang asik aja. Hehe…”
“Nas, cewek gue minta lagu yang asik.” Geno berkata pada sang vokalis yang tampak rapi dengan kemeja flannel kotak-kotak yang tidak dikancingkan dengan dalaman kaos oblong.
Pemuda bernama Anas yang sedang menyiapkan perlengkapan manggungnya yang akan dilakukan tepat pukul tujuh nanti. Anas menjawab dengan acungan ibu jari.
“Sudah lama kenal mereka?” tanya Laura mengalihkan kegugupannya. Sudah lebih dari dua jam ia menahan diri untuk mengatakan tujuannya. Laura masih mengulur waktu, entah sampai kapan.
“Lumayan. Mereka udah dua kali main di sini. Ini ketiga kalinya. Kalau kamu suka performancenya, aku bakal bikinin kontrak buat mereka manggung tetap di sini.”
“Loh kok kalo aku suka?” Laura pura-pura merengut.
“Iya dong. Kan aku khusus bikin live music ini buat kamu.”
“Kamu nggak cocok buat romantis tau, tapi ini sweet banget. Uuuhh Sayang….”
Cek cek cek…
Laura mengalihkan perhatiannya pada Anas yang sedang mengecek micnya. Sebentar lagi live musicnya akan dimulai.
“Lagu ini kami bawakan khusus buat kak Laura, sebuah lagu yang spesial direquest oleh mas pacarnya, bang Geno. Semoga lagu ini bisa menghibur Laura dan semua pengunjung kafe ini. Virgoun orang yang sama.”
….
Kutemukan arti cinta di waktu hidup denganmu yang tak terduga
Seperti nadimu yang selalu denyutkan setia
Aku bahagia menjadi pemiliknya
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali
Berulang kali pada orang yang sama…..
“Suaranya bagus, jadi nih dikasih kontrak eksklusifnya?” tanya Laura dengan mimik lucu.
“Menurut kamu begitu ya?”
Laura mengangguk antusias, “Ehem.”
“Oke, deal.”
Laura kembali menikmati alunan lagu yang Anas dan teman-temannya bawakan hingga tak terasa setitik air matanya jatuh. Lirik demi lirik yang terucap sungguh membuat hatinya ngilu. Bagaimana bisa lagu memberikan arti yang begitu mendalam?
Terimakasih kau tetap di sampingku
Di tengah kencang badai hidup menerpa
Saat dunia memaksamu tuk pergi
Kau tetap setia….
Kutemukan arti cinta….
Di waktu hidup denganmu yang tak terduga
Bila waktu izinkan kita menua bersama
Di mataku indahmu tetaplah sama
***
“Lora,” panggil Geno tiba-tiba. Laura mengerjap lucu menatap Geno yang mendadak menatapnya serius.
“Apa?”
“Andai, kita nggak berjodoh, gimana?” tanya Geno yang sejak beberapa saat lalu menyangga dagunya menggunakan tangan kanannya, memperhatikan wajah Laura.
Laura terkesiap lalu tanpa berpikir, ia buru-buru meneguk minumannya asal hingga membuat bajunya tersiram minuman yang diminumnya. Geno yang duduk di depannya langsung menyodorkan kotak tisu. Dengan gerakan serampangan Laura mengusap bajunya. “Kok ngomong gitu sih?” rutuknya.
Geno tersenyum tipis seraya menatap sekilas ibu jari Laura. Cincin berwarna putih itu melingkar di sana. “Ya, kita kan nggak tau dengan siapa kita akan berjodoh. Mungkin, ada orang lain yang lebih baik dari aku buat bahagiain kamu?”
Laura memilih diam dengan segala kemelut di pikirannya. Niatnya menemui Geno memang untuk membahas tentang hubungan mereka, tetapi mendengar ucapan Geno membuatnya tak sampai hati mengatakan rahasianya.
“Oke, sebenarnya aku ke sini buat ngomongin soal … Geno, aku nggak tahu gimana buat ngomongin ini. Aku bingung. Aku terpaksa, sumpah,” ucap Laura dengan bibir bergetar. Ia tak ingin menyembunyikan apapun dari Geno. Ia ingin masalahnya segera selesai.
Geno tak menyela barang sekali tarikan napas pun, ia menunggu dengan sabar hingga Laura mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa, apa yang ia lihat di rumah Laura itu bukan ilusi ataupun mimpi semata. Geno pikir ia harus menerima kenyataan itu, sepahit apapun.
Laura menghena napas, ia menunduk tak berani menatap Geno. “Geno … sebenarnya, yang waktu itu nikah bukan kak Lidya, tapi aku. Tapi aku bisa jelasin alasannya.” Laura mengatupkan kedua tangannya untuk menutup wajahnya. Sembari menangis ia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “… aku nggak tahu harus gimana waktu itu. Pernikahan itu mendadak banget. Aku nggak punya pilihan. Aku tau aku salah, salah banget. Sekarang kamu pasti berfikir kalo aku udah hianati kepercayaan kamu, tapi aku enggak kayak gitu. Aku terpaksa. Kamu percaya sama aku, ‘kan?”
Penjelasan dari Laura sudah cukup membuat Geno menyadari kenyataan. Geno mengulas senyum lebar meski hatinya sakit.
“Gen, please say something.” Laura memohon, berkali kali ia menyeka air matanya. Masalahnya, Geno juga tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Tanpa bicara, Geno mendekat dan mendekap Laura, ia percaya dengan apapun yang Laura katakan. Memang benar pernikahan itu seharusnya menjadi hari bahagia kakaknya, tetapi bukan salah Laura jika akhirnya yang menikah adalah dirinya.
“Percaya sama aku Gen, please…. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu, nggak sama sekali. Ini bukan mauku.”
“I trust you, I trust you, Laura,” ucap Geno menahan sakit.
“Geno, kamu marah?”
“Buat apa? Kamu kan nggak punya pilihan lain. Kamu nggak perlu merasa bersalah buat yang sudah terjadi. Jangan nyalahin diri sendiri lagi ya?”
“Tapi kamu nggak bakal ninggalin aku, ‘kan?”
“Aku nggak kemana-mana, Laura.”
“Geno, denger! Pernikahan ini buat sementara aja sampai kak Lidya balik. Kamu mau kan nunggu aku? Aku janji, nggak ada kontak fisik di pernikahan ini.”
Tak pernah terbayangkan untuk mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari bibir Laura. Geno hanya mengulas senyum, tanpa jawaban pasti.
“Aku belum bisa ninggalin mas Arsen, aku nggak mau bikin orangtuaku kecewa.”
Geno mengangguk kecil, pria bertato itu berusaha menarik sudut bibirnya yang kaku. “Iya … aku ngerti.”
“Maaf, maaf aku sudah nyakitin kamu….”
“Kan aku sudah bilang, jangan ngerasa bersalah begitu, Laura.”
“Kamu maafin aku kan?”
“Iya, iya nggak papa. Aku maafin. Sudah ya jangan nyalahin diri sendiri lagi. Aku bakal nungguin kamu. Aku kan sayang banget sama kamu.”
“Biarpun nanti aku jadi gendut?”
“Lah, mau kamu gendut, kurus, bawel, cerewet, nyebelin kadang aja sih, hehe…. Tapi aku tuh sayang kamunya apa adanya tau….”
“Janji bakal setia?”
“Janji dong…. Kamu?”
Laura terperanjat beberapa saat, kenapa sulit sekali menjawab pertanyaan sederhana dari Geno. Padahal pertanyaan itu mudah saja dijawab oleh Geno.
“Hehe…. Malah bengong?”
Laura menyengir salah tingkah, “Janjiiiiiiii…. Kan sayangku ke kamu lebih besar dari sayangnya kamu ke aku!” ucapnya, lalu menggembungkan pipi.
“Besaran aku dong!”
“Enggak ih, besaran aku tauuuuu!” sahut Laura tak mau kalah seraya mengangkat jari kelingkingnya, “Pinky promise dulu!”
Geno pun menyambut pinky promise yang Laura minta. “Pinky promise! Love you!”
… kau yang paling setia
Kau yang teristimewa
Kau yang aku cinta
Cuma engkau saja
Sebuah lagu dari band Naif yang dibawakan oleh Anas membuat Laura dan Geno saling melempar senyum. Lagu itu adalah lagu favorit mereka selama menjalin asmara. Mereka pun turut menyanyikan lagu itu, bahkan Geno pun ikut menyanyi di panggung bersama Anas.
… kau satu satunya dan tak ada dua apalagi tiga
Cuma engkau saja
Denganmu semua air mata menjadi tawa suka ria
Akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku
Karena kamu cuma satu … untukku
***
Sudah tiga kali smartphone Laura berdering, tetapi bukannya segera mengangkatnya Laura justru membalikkan smartphonenya. “Angkat saja siapa tahu penting,” ucap Geno yang baru saja kembali.
Melihat gelagat Laura yang justru tersenyum canggung, Geno pun menebak siapa penelepon tersebut. “Dari pak Arsen ya?”
Laura menanggukkan kepalanya, tampak sekali ia tak nyaman.
Geno hanya mendesah kecil, “Kok masih nggak diangkat sih? Angkat dong … siapa tau penting?” imbuh Geno seraya mengulas senyum. Entah terbuat dari apa hati Geno.