“By the way nih Lau? Kamu sebenernya tau nggak sih di mana kakak kamu?” Gendhis masih penasaran dengan cerita Laura.
“Honestly ya Dis, aku tuh sebenernya curiga sama orangtua aku,” ucap Laura.
“Maksud kamu, kakak sama ortu kamu ada kerjasama gitu?”
“Ya aku nggak tau Dis, pikiran itu muncul gitu aja di otak aku. Aku juga kan nggak punya bukti kalau mau nuduh. Yang pasti kakak aku tuh kalau ada masalah pasti ngilang. Aku udah nanya ke pak Arsen, tapi dia kayak nggak peduli gitu Dis. Asli pak Arsen tuh nyebelin banget orangnya.” Laura mencomot satu avocado toast sekali lagi tanpa rasa bersalah. Potongan roti gandum dengan selai buah alpukat fresh dan madu memang sangat cocok untuk sarapan.
“Tapi,” Laura menghela napas sejenak, “Semalam itu pak Arsen baik bener tau nggak, kayak aku tuh kadang bingung sama sikapnya. Kayak bunglon dia tuh tiba-tiba berubah … dia bisa tiba-tiba jadi cuek banget, bisa jadi cerewet banget, bisa jadi perhatian banget. Kayak semalam. Aku kan nyeri haid, kamu tau kan aku sering banget kayak gitu kalau lagi dapet?”
Gendhis mengangguk-anggguk, “Pernah sampai pingsan di sekolah,” sahutnya. “Bagi minum dong Lau.” Laura menyodorkan botol minumnya.
“Nah pak Arsen ini–” Laura menghentikan kalimatnya ketika mendapati tatapan sahabatnya asyik mengunyah makanan.
“Kenapa?” sebelah alis Gendhis terangkat.
“Kamu dengerin curhatan aku nggak sih Dis?”
Gendhis yang sedang mengunyah berhenti dadakan, lalu mengangguk. “Lanjut aja, kan aku dengernya pake kuping bukan pake mulut Lau. By the way, sandwichnya enak banget. Pak Arsen jago masak juga ya?” Laura memutar bola matanya jengah lalu melanjutkan ceritanya.
“Itu mah bukan masak Dis, cuma bikin roti bakar dikasih selai alpukat. Gampang itu mah bikinnya.”
“Iya ya? Hehe…. Seumur-umur belum ada cowok yang bikinin makanan buat aku, Pak Arsen sweet banget ya?”
“Iya.” Laura tak memungkiri, pria yang suka masak itu memang keren.
Baik Laura maupun Gendhis saling melempar senyum.
“… jadi gimana ya, aku tuh…,” Laura menggantung kalimatnya, bingung dengan perasaannya sendiri.
“Jangan-jangan kamu….” Gendhis menyilangkan ibu jari dan telunjuknya membentuk arti love ala Korea.
“No Dis No! Apapun yang sedang bercokol di pikiran kamu, ENYAHKAN! Nggak mungkin aku jatuh cinta sama pak Arsen! Kalau mengagumi sih iya, aku nggak munafik … tapi itu dulu sebelum aku tau aslinya dia kayak gimana. Duh Dis dia itu nyebelin banget!”
“Tinggal serumah sama dia, cuma berdua aja? Kamu yakin nggak ada geter-geter apa gitu? Emang aslinya pak Arsen tuh kayak gimana?” Gendhis mengedipkan satu matanya, menggoda Laura yang semakin ketar-ketir. Menggigit bibir bawahnya
“Ayolah Dis, aku baru dua hari nikah sama dia….”
“Tapi selama 2 hari kamu jadi istrinya, kamu kayak keliatan udah kenal banget sama dia gitu loh? Ini tuh definisi benci jadi cinta tau nggak Lau? Kayak di film-film romantis gitu. Cerita kamu tuh ala-ala webseries-able. Haha….”
“Nggak! Udah ah males bahas Mas Arsen mulu!”
“Mas Arsen dooong?”
“Ya apa sih…. Lagian kan emang dari dulu manggilnya udah gitu. Aku kan orang Jawa, ya nggak tau sih aslinya orangtua aku dari suku apa tapi yang pasti orangtua angkat aku orang Jawa dan udah biasa aja kali orang Jawa manggil cowok dengan panggilan mas. Kamu kan juga orang Jawa Dis.”
“Iya sih….” Gendhis kembali menyuapkan potongan avocado toast terakhinya lalu menepuk-nepukkan tangannya. “Aneh banget emang di kota besar kayak Jakarta ini. Ini hampir sama konsepnya kayak panggilan lo-gue. Kayak udah jadi hal biasa, gaul, sedangkan kalau manggil aku-kamuan dikira sok deket dan uniknya lagi malah dianggap hal spesial, sesepesial panggilan MAS. Padahal manggil aku-kamu atau panggil mas di daerah tuh hal biasa. Eh tapi aku juga awalnya heran loh sama kamu, kok kamu manggilnya tetep aku-kamuan?”
Laura mengangguk setuju, “Nggak tau ya, aku ngerasa lebih nyaman aja pake aku-kamuan. Ya gitu deh…. Hehee…. Tapi aku sendiri mikirnya kalo manggil mas itu lebih ke … buat kesopanan sih. Bukan hal spesial atau gimana. Ngerti kan maksud aku?”
“Yap setuju banget sih. Tapi mas di sini tuh udah bergeser makna.”
***
Laura dan Gendis berjalan melewati koridor kampus menuju gedung fakultas Psikologi. Mereka sedang membahas rencana Laura yang ingin segera memberitahu perihal pernikahannya pada Geno, tetapi ia masih ragu dan takut Geno akan kecewa padanya.
“Astaga Dis. Kamu tau kan gimana perasaan aku ke Geno? Aku cinta sama dia.”
“Tapi kamu sudah menikah Lau,” tukas Gendhis santai.
“Iya, tapi kan ini pernikahan yang nggak aku mau. Kamu ngerti nggak sih rasanya tiba-tiba disuruh nikah, nikah sama orang yang nggak kamu cintai?”
Gendhis hanya mengulas senyum kecil di bibirnya, tersirat perasaan getir yang tak bisa ia ungkapkan.
“Jujur ya Dis, aku nggak munafik, mas Arsen itu emang cakep, baik juga, tapi bukan berarti aku bisa hidup sama dia. Pertama, aku belum tau alasan kakak aku ninggalin mas Arsen. Kedua dan yang paling bikin aku berat banget buat nerima pernikahan ini adalah karena aku … cinta banget sama Geno.”
Gendhis mendengarkan dengan sesekali mengangguk. “Jadi sekarang kamu maunya gimana? Pertahanin Geno … atau pernikahan kamu, semisal ya, semisal kamu bisa menerima alasan kakak kamu. Biar gimanapun tinggal bareng serumah, tiap hari ketemu bisa saja kan mengubah perasaan? Ada pepatah Jawa mengatakan—”
“Witing tresno jalaran soko kulino.” Laura menyahut tak bersemangat. Kalimat itu pernah ia dengar dari Arsen. “Tapi aku nggak bakal tresno sama dia. Nggak bisa. Aku malah kepikiran buat pisah sama mas Arsen. Aku nggak bakal kuat kali Dis nanggung rasa bersalah seumur hidup aku.”
“Hus, jangan ngomong sembarangan Lau. Gimana kalo pak Arsen beneran jodoh kamu, kita kan nggak tau siapa yang akan berjodoh sama kita.” Gendhis menjeda ucapannya sesaat, “Kamu pikir enak apa jadi janda muda? Nanti kamu bakal digunjing emak-emak komplek loh. Nggak tau aja mulut mereka pedesnya level jahanam.”
“Bodo amat deh. Bagus deh digunjingin, itung-itung ngurangin dosa aku. Haha....”
Gendhis menatap prihatin ke arah Laura. Ia tahu jika sahabatnya itu pasti sedang dilanda dilema.
Helaan napas Gendhis terdengar berat, “Kamu nggak tau sih kalau di kampung tuh, jadi janda muda itu pasti digoreng terus aibnya. Terus nanti bakal difitnah godain laki orang. Amit-amit deh Lau.”
“Sebelas dua belas sama di kota Dis. Udah ah, jangan mikir yang enggak-enggak Dis. Kalaupun aku jadi janda muda, aku jamin nggak bakal lama. Sudah ada yang nunggu jandaku. Heheee....”
“Lah kan kamu duluan yang mikir enggak-enggak Lau! Issssh ini anak. Jadi nanti kamu bakal nemuin Geno?”
“Iya, tadi aku udah chat dia, tapi belum dibales sih.”
“Mungkin Geno lagi sibuk kali Lau.”
“Iya kali ya. Sejak kafenya rame, Geno jadi sibuk terus, sampai ambil cuti kuliah segala buat fokus di bisnisnya. Oh iya, ngomongin kerjaan, sekarang kamu kerja di mana Dis? Masih di bar yang itu? Apa nggak ada pikiran buat pindah kerja aja?”
“Aku udah resign kemarin, kerja di bar gede banget resikonya,” pikir Gendhis. “Banyak orang yang ke sana karena beban hidup. Tapi di sana malah bikin ulah, bikin rusuh. Mabok, ngerepotin orang.”
“Syukurlah. Eh tapi serius ada yang sampai mabok berat gitu? Terus dia ngapain? Ngamuk?” Laura bertanya antusias, meskipun tinggal di kota besar dengan pergaulan yang terbilang bebas nyatanya Laura bahkan belum pernah mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Laura adalah anak kafe dan lebih suka melepas penat dengan berjalan-jalan di mall.
Gendhis mengulas senyum kecil, ia sedang tak ingin membahas tentang pekerjaannya. “Lau, kita udah sampai kelas aja nih. Hehe…. Aku mau lanjut baca novel ah mumpung belum ada dosennya.”
Sontak Laura merengut sampai bibirnya mengerucut lucu, “Pertanyaan aku belum dijawab.”
“Kepo! Lagian apa yang kamu harepin dari kerja di bar? Pengunjungnya pada pengajian? Tadarusan? Udah tau tempat orang-orang ngelepas stres, mabok.” Gendhis menggeleng sementara Laura menyenyir. “Udah ah aku juga lagi males bahas kerjaan. Mau ngehalu dulu sama novelnya Lara VB.”
Sebenarnya yang membuat Gendhis malas membicarakan pekerjaannya lantaran ia masih teringat kejadian buruk yang ia alami semalam.
“Jadi, kamu nggak jadi pulang kos kan?” tanya Laura seraya menepuk pundak Gendhis yang tiba-tiba terdiam.
“Eh. Enggak, kan sekarang aku juga udah di kelas. Terpaksa nih sebenernya.”
“Hehe…. Nanti aku pinjem novelnya ya?”
“Hem.”
“Eh Dis, bukannya Geno lagi butuh karyawan baru ya?” tanya Laura kemudian yang dijawab anggukan kecil. “Kamu kerja sama Geno aja,” usul Laura.
Gendhis terperanjat mendengar usul Laura. Meski mereka sudah saling mengenal, tetapi untuk saat ini Gendhis ingin menghindari pria yang menjadi kekeasih sahabatnya itu.
“Ntar aku deh yang ngomong ke Geno.”
“Nggak usah Lau, aku mau cari kerja lain aja. Kayaknya bosen juga kerja jadi pelayan, pengin juga sesekali aku yang jadi pengunjung dan dilayani. Hehee….”
“Berari kamu nggak akan cari kerja di tempat kayak gitu lagi kan? Kamu sendiri yang bilang di sana itu bahaya.”
“Laura, kerja di manapun tetap ada resiko bahayanya kali,” sahut Gendhis.
“Tapi kan seenggaknya kalo kerja di tempat Geno lebih aman, Dis.” Ucapan Laura membuat Gendhis menghentikan kegiatan membacanya lalu menatap Laura dengan tatapan aneh.
“Why?” Laura mengernyitkan keningnya.
“Nggak papa kok, yaudahlah nanti aku pikirin lagi.”
“Sip, gitu dong!” sahut Laura senang.
Mata Laura tak sengaja menangkap kedatangan kakak tingkatnya yang terkenal super playboy, Oktara. Cowok yang seharusnya sudah lulus itu tak hanya dikenal sebagai mahasiswa abadi tetapi juga mendapat julukan piktor (pikiran kotor). Ia sering kedapatan mengikuti mata kuliah semester bawah. “Eh Dis itu ada kak Okta jalan ke sini. Males aku,” bisik Laura.
“Cuekin aja Lau,” sahut Gendhis tanpa mengalihkan perhatiannya dari novel yang sedang ia baca sementara Laura pura-pura sibuk dengan gadgetnya.
“Halo gadis-gadis….”
Baik Laura maupun Gendhis sama-sama sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
“Dih sombong banget sih jadi cewek. Kalian mau tau nggak kalo semalam aku main sama tante-tante loh. Coba tebak main apaan?”
Laura dan Gendhis masih bergeming dengan kegiatannya.
“Yap, main catur, aku yang menang, ratunya langsung aku makan dong. Dih tante-tantenya hot banget.”
“Apaan sih cringe,” gumam Laura.
“Gak jelas,” sahut Gendhis.
“Kalian ini pura-pura sibuk padahal dengerin aku ngomong apaan kan?”
“Dis lihat deh ada orang cringe banget nih, videonya lagi viral.” Laura menyodorkan smartphonenya pada Gendhis. Cringe yang Laura maksud adalah video viral di aplikasi media sosial, meski sebenarnya candaan Okta juga tak kalah cringe dan tak jelas.
“Marni,” panggil Okta dengan gaya tengil. Karena tak mendapat respon dari Laura dan Gendhis, Okta pun berusaha mencari mangsa lain untuk digoda.
“Dis, buaya banget kak Okta.”
Gendhis sedikit melirik ke arah Okta yang sedang menggoda mahasiswi lain. “Itu sih jenih garangan Lau.”
“Hahaha…. Bedanya apa?”
“Sama aja sih, cuma sekarang lagi ngetren aja istilah garangan di medsos.”
“Ah aku jarang buka medsos sekarang. Banyak banget berita serem yang lewat. Itu ganggu mental health aku tau. Aku jadi sering ketrigger, apalagi kalo beritanya udah bahas masalah bullying, body shaming. Aduh, sumpah ya aku trauma.”
“Ya kan di medsos sudah ada fitur mute. Tinggal mute aja kata-kata yang bikin kamu nggak nyaman. Jadi kamu tetap bisa pake medsos tanpa kuatir ketrigger.”