Sama sekali tidak ada ketenangan selama perjalanan dari rumah mereka menuju kampus lantaran Arsen yang terus mengoceh. Yang Laura heran, pria di belakang kemudi itu sepertinya tidak memiliki tombol pause untuk sekadar diam sesaat. Andai ia tahu dimana letak penyimpanan baterai di tubuh Arsen, maka ia akan dengan senang hati mencabut baterainya.
“ … harusnya Neng tuh ambil cuti aja tau, kita bisa pake waktunya buat—” Arsen melirik Laura sambil menaik turunkan alisnya.
“Ih ngarep!” tukas Laura akhirnya.
“Hehee…. Oh iya nanti pulang kuliah jam berapa Neng? Mas jemput ya.”
“Nggak usah, aku mau ketemu Geno dulu. Dari kemarin cancel mulu.”
“Oke.” Arsen mengangguk sekali, matanya tetap fokus memperhatikan jalanan di depannya.
“Bagus deh, awas aja kalo Mas ikut campur urusanku!”
Kali ini Arsen tidak berusaha mendebat, ia mengikuti saja kemauan Laura. Arsen menyadari jika statusnya memang bukan siapa-siapa untuk Laura. Lagipula, ia tidak mau mengekangnya. Ibarat menggenggam pasir, jika terlalu erat digenggam maka pasir itu akan semakin mudah keluar. Arsen tidak ingin Laura merasa tidak nyaman dan akhirnya memberontak.
Di kursi belakang, Laura tampak merasa heran dengan sikap Arsen yang tiba-tiba berubah meski tak ia pungkiri, keputusan Arsen membuatnya senang. Ia akan segera bertemu dengan Geno dan menceritakan segalanya. Segalanya!
Laura tidak mau membayangkan bagaimana respon Geno setelah tahu tentang pernikahannya, tetapi itu tak menyurutkan niatnya untuk berkata jujur. Laura yakin Geno bisa bersikap bijak dan memberikan solusi untuk permasalahannya.
***
Arsen menghentikan laju mobilnya agak jauh dari pintu gerbang kampus sementara Laura buru-buru lalu membuka handle pintu.
“Neng….”
Laura memutar bola matanya lalu menghadap Arsen sambil melotot, “Apa lagi?”
“Salim dulu dong Sayang.” Arsen mengulurkan tangannya yang disambut ogah-ogahan.
“Eh!” Laura terkesiap dengan posisi tak menguntungkan.
Cup.
Laura mendecakkan lidah sebal lantaran suminya itu sengaja menarik tangannya hingga gadis itu terdorong ke depan.
“Mas Arsen! Jahat banget sih.” Laura mengusap-usap keningnya sedang Arsen tersenyum penuh kemenangan.
“Eh lupa, harus minta ijin dulu ya?” kilahnya sambil cengengesan.
“Au ah! Sebel ngomomg sama Mas. Bisa naik darah seharian kalau ngeladenin tingkah gila Mas.” Laura bergegas kembali membuka pintu mobil.
“Tunggu bentar Neng, buru-buru amat.” Laura menghentikan gerakan tangannya yang sedang mendorong pintu mobil.
“Apaan lagi sih Mas?” Laura mengamati suaminya yang sedang membuka dompetnya.
“Buat jajan.” Arsen mengangsurkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
“Nggak usah. Aku punya uang kok,” tolaknya. Namun, Arsen menarik tangan Laura dan menggenggamkan uang itu.
Enak saja dikira aku ini cewek apaan. Berasa kayak cewek murahan yang nerima bayaran setelah dipakai om-om–meski cuma dicium. Laura menatap uang di tangannya bergantian dengan wajah Arsen.
Laura tahu jika perempuan yang sudah menikah itu memang menjadi tanggung jawab suaminya, tetapi menerima uang dari Arsen sedikit melukai perasaannya.
“Buat pegangan, mulai sekarang kebutuhan kamu menjadi tanggungjawab Mas. Kamu nggak boleh lagi minta uang sama orangtua kamu. Kalau butuh apa-apa bilang sama Mas. Oh iya satu lagi, hampir aja lupa kan….” Arsen mengambil paper bag yang tadi ia bawa dari rumah. “Dimakan ya. Maaf kalau pagi ini Mas sudah bikin kamu merasa tidak nyaman.”
Jadi begini cara Arsen minta maaf? Laura mengangguk diiringi seberkas senyum kecil.
Laura tidak ingin terlalu lama berada dalam hubungan yang membuatnya dilema. Apalagi jika diperhatikan, Arsen itu masuk dalam kategori suami idaman. Wajah tampan, tubuh body goals, mapan, perhatian dan soleh. Apa lagi yang kurang dari Arsen? Seharusnya Lidya tidak meninggalkan pria sesempurna Arsen. Pasti ada sesuatu yang menjadi alasan, entah itu kesalahan ada di Lidya ataupun Arsen. Bagaimana jika sebenarnya Arsen bukan pria baik?
Begitu banyak spekulasi yang muncul di dalam kepala Laura. Keningnya sampai berkerut saking kerasnya ia berpikir.
“Ambil.” Suara Arsen menyentak lamunannya. “Malah bengong, tuh keningnya jangan dilipet terus, nambah dua lipetan loh tadi.”
“Apaan sih?”
“Ambil…,” ulangnya lagi.
Huft. “Makasih.”
“Ya sudah sekarang kamu kuliah gih. Belajar yang bener, semangat ya … love you….”
Dengan gerakan cepat Laura melompat turun. “Assalamu'alakum istriku Sayang....” Laura menoleh ia lupa mengucapkan salam.
“Wa'alaikumsalam. Mas hati-hati di jalan.” Kalimat itu terucap begitu saja dan sempat ia sesali setelahnya.
“Wah istriku ini diem-diem perhatian banget ternyata. Iya Sayang Mas pasti hati-hati. Kamu yang semangat ya kuliahnya….”
Tuh kaaaan! Ke-ge’er-en dia!
Laki-laki dengan wajah blasteran itu masih menatap punggung Laura sampai gadis itu berbelok di pintu gerbang kampusnya. Ia sudah berjanji untuk menjaga Laura. Apapun yang terjadi, ia akan selalu ada untuknya. Arsen menatap sekilas penunjuk waktu di pergelangan tangan kirinya, bibirnya membentuk segaris senyum.
Arsen baru saja akan menyalakan mesin mobilnya ketika mendengar notifikasi pesan masuk. Sebuah nama tertera di layarnya membuat bibirnya melengkungkan senyuman. Ibu jarinya mengusap ringan layar smartphonenya untuk membuka lock screen lalu membaca sekilas pesan itu.
Arsen mengemudikan mobilnya menuju salah satu kawasan rumah mewah di pusat kota.
***
“Pagi….” Laura menyapa Gendhis dengan ekspresi malas. Tangannya melambai bak Miss Universe kontras dengan bibirnya yang cemberut.
Gendhis yang sudah menunggunya di gazebo taman kampus langsung tersenyum jahil.
“Pagi juga cantik…. Lah kamu kenapa Lau? Lemes amat?” Gendhis bertanya heran. Pasalnya, sahabatnya yang biasanya ceria itu murung.
Gendhis Maheswari, gadis asal Purbalingga yang nekat merantau ke Jakarta sejak SMA. Mereka sudah berteman sejak satu tahun yang lalu saat masih SMA, tetapi langsung dekat satu sama lain sampai sekarang.
“Ck! Eh itu bawa apaan?” Gendhis menunjuk paper bag yang Laura bawa dengan gerakan mata setelah memberondongnya dengan pertanyaan tidak penting–menurut Laura.
“Dari suami aku,” jawab Laura lesu.
“Hah? Jadi kamu beneran nikah?”
“Maksudnya?” Laura mengernyitkan dahi, seingatnya ia belum pernah menceritakan perihal pernikahannya pada siapapun.
Gendhis seperti terkejut dengan ucapannya sendiri. Entah apa yang gadis itu ketahui tentang kabar pernikahan sang sahabat, tetapi Laura berpikir mungkin saja Gendhis hanya salah ucap. “Maksudnya, bukannya yang kemarin nikah itu kakak kamu? Sama pak Arsen kan kalo nggak salah?” ucap Gendhis sambil memasukkan buku tebal yang baru saja ia baca ke dalam tasnya. Bukan buku pelajaran melainkan salah satu novel milik Lara VB.
“Kamu mau kemana Dis?”
“Oh enggak, cuma aku hari ini agak kurang enak badan. Kayaknya aku mau bolos aja hari ini.”
Laura memperhatikan penampilan sahabatnya yang tidak seperti biasanya. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedang kacau, Gendhis juga tampak murung hari ini. “Kamu sakit?”
“Enggak, cuma butuh istirahat aja.”
“Tapi mata kamu keliatan sembab banget itu, kamu abis nangis? Masalah keluarga kamu lagi?”
“Hehee…. Enggaklah, nggak ada hubungannya sama keluarga. Cuma lagi nggak bisa fokus aja buat kuliah.”
“Ada masalah sama pacar kamu? Eh kamu belum cerita soal sugar daddy baru kamu tau, siapa sih?”
“Kepo…. Nggak ada hubungannya sama dia, kapan-kapan aja ya ceritanya sekarang … kamu dulu yang harus cerita, tadi kamu bilang suami? Kamu beneran udah nikah? Kok nggak cerita-cerita? Sama siapa? Geno sudah tau?” berondong Gendhis dengan rentetan pertanyaan.
“Lah kamu kepoan juga. Hehe….”
“He… hehee…. Ya habisnya kamu ngasih kabar dadakan gitu, bikin kaget tau.”
“Jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia.”
Gendhis mengangguk antusias, ia mendekatkan tubuhnya pada Laura yang bicara dengan berbisik-bisik. “Oke.”
“Aku nikah sama pak Arsen.”
“What? Jadi bener?”
“Eh?”
“Maksudku, jadi yang bener kamu nikahin pak Arsen? Bukan kakak kamu? Kok bisa?”
Laura menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, gadis itu menghela napas berat. Jika ada orang pertama yang ia beritahu, Gendhislah orangnya.
“Kakak aku kabur pas hari H nikahannya. Kebayang nggak kamu, semua orang sudah siap dengan acaranya, penghulu udah datang tapi kakakku ngilang. Kebayang nggak kamu, semua orang dibuat panik. Yang lebih bikin aku nggak habis pikir, orangtua aku ngasih ide aneh.”
“Ya?!”
“He’em, biasalah aku jadi tumbalnya. Ya kali aku yang harus gantiin kakak aku nikah sama pak Arsen, nyebelin banget tau nggak dia tuh.”
“Tapi bukannya pak Arsen itu orangnya baik ya, penyabar banget, udah gitu ganteng banget. Bukan apa-apa ya, tapi di kampus kita tuh banyak banget yang ngarepin pak Arsen tau. Which means, kamu beruntung banget bisa jadi istrinya.”
“Bukannya aku nggak bersyukur atau gimana ya, tapi…aku nggak seberuntung yang kamu pikir. Ini tuh nyesek banget. Nih ya, misal kamu di posisi aku. Kamu tiba-tiba nikah sama calon kakak ipar kamu? Pacar kakak kamu sendiri kamu nikahin? Apa nggak pusing tuh? Kami sama-sama perempuan loh. Gimana kalau ternyata kakak kamu nggak terima sama pernikahan kamu? Kesannya kayak … kamu ngerebut pacarnya gitu? Apalagi Dis, kamu kan tau kalo aku udah punya pacar.” Laura mendesah seraya memijat keningnya.
Gendhis terdiam sesaat berusaha mencerna kata-kata sahabatnya yang penuh pertanyaan berat. Pasti berat untuk menikahi orang yang sudah memiliki ikatan dengan orang lain, apalagi orang itu adalah saudara sendiri. Bahkan jika pun hanya teman, pasti sangat menyakitkan. Merebut pacar teman?
Gendhis memejamkan mata sesaat, ia pun merasa tak enak sendiri. “Tapi ya Lau, pak Arsen itu keren loh,” celetuknya berusaha mengalihkan topik karena ia sendiri tak yakin bisa menjawab pertanyaan analogi yang Laura lontarkan.
“Emang.” Laura mengangguk, tidak menampik fakta itu. “Tapi dia bukan jodoh aku. Harusnya dia sama kak Lidya, dan sekarang aku lagi nunggu kakak aku balik terus … aku bisa hidup bebas lagi. Capek banget hidup seatap sama Arsen, dikit-dikit nggak boleh ini itu. Posesif banget, mending aku balikin ke kak Lidya. Hahahaha….”
“Yakin kamu nggak sayang balikin pak Arsen, lagian kek nggak ada istilah lain deh, ‘balikin’? kek barang aja tau nggak?”
“Hehee… iya sih.” Laura nyengir, lalu tangannya sibuk membuka isi paper bag dari Arsen. Ia juga penasaran seperti apa avocado toast buatan Arsen.
“Lau, tapi kalian tetap malem pertamaan kan? Nggak mungkin nggak ngapa-ngapain dong ya? Masa iya tidurnya pisahan?” tanya Gendhis diakhiri dengan ekspresi mengerucutkan bibirnya yang langsung ditampol menggunakan buku tebal oleh Laura yang cemberut.
“Lah kamu belum j*bol? Serius?” celetuk Gendhis dengan kata-kata vulgar. Melihat mata Laura melotot Gendhis buru-buru berucap, “Canda … candaaa…,” ucapnya sambil nyengir dan mengangkat dua jari membentuk huruf V.
“Gendhis…, candaan kamu nggak lucu tauuuuu!” geram Laura dengan mulut penuh. Ia buru-buru mengambil botol minuman yang Arsen bawakan untuknya. “Kamu tuh ya, omongannya kayak pak Arsen tau nggak! Nyebelin!” protes Laura gemas lalu kembali menyuapkan potongan avocado toast ke mulutnya seraya menyorong kotak tupperware ke arah Gendhis, menawarkan.
“Hehee… Enak Lau?” tanya Gendhis sambil ikut mencomot satu potongan avocado toast.
“Gendhis….!! Kamu apaan sih? Mana aku tau malam pertama itu enak apa kagak! Pagi-pagi bahas apa kek, filem baru atau novel baru gitu, ini malah bahas gituan. Dih kamu pikirannya ngeres mulu tau nggak Dis.”
Mata Gendhis tertuju pada kotak bekal makanan berisi avocado toast di hadapan Laura dengan mulut penuh Laura. “Siapa yang ngeres sih Lau, aku cuma nanya… itu avocado toast enak?” tanya Gendhis takut-takut kena semprot lagi. “Tumben kamu sarapan roti Lau? Biasanya buah doang.”
“Aku cuma nyicip doang ini mah. Kata Mas Arsen ini roti gandum, rendah gluten, aman buat diet. Cobain deh, enak kok.”
“Mas Arsen?” ulang Gendhis.
Laura terkesiap dengan kening mengerut, apa yang salah?