“Selamat pagi Neng….” Arsen menyapa Laura lebih dulu saat melihat gadis itu sibuk di dapur. Ia baru saja pulang dari rutinitas jogingnya bersama bapak-bapak komplek.
Laura menoleh melihat Arsen yang sedang mengisi air di depan dispenser tak jauh dari tempatnya berdiri. Arsen mengelap keringat yang membanjiri keningnya dengan hancuk kecil yang ia sampirkan kembali di pundaknya. Arsen benar-benar melakukan orahraga terlihat dari keringat yang membasahi sebagian kaosnya, tetapi aroma keringat dan parfum yang Arsen pakai justru membuatnya tampak lebih … macho. Menarik saja di mata Laura hingga tak sadar ia masih memperhatikan Arsen mengenggak habis segelas air putih di tangannya.
Kelakuan Arsen itu tak urung membuat Laura yang melihatnya ikut menelan ludah.
“Neng?”
“Hah? Pagi,” balas Laura sedikit salah tingkah dan langsung kembali melanjutkan menggoreng telur. Ia tak mau ketahuan sedang memperhatikan Arsen.
Arsen menghirup aroma harum masakan Laura. “Harum banget. Kamu bikin omurice?”
“Bukan, cuma nasi goreng biasa kok. Sayang aja nasi sisa semalam.”
Nasi kering yang Arsen masak semalam memang paling cocok dijadikan nasi goreng. “Mas Arsen mending mandi dulu deh, biar lebih seger.”
“Oke, terimakasih ya Neng.”
“Sama-sama,” jawab Laura tanpa memperhatikan lagi raut Arsen yang sedang sumringah.
Arsen merasa sedikit heran dengan sikap Laura pagi ini. Baru saja semalam istrinya itu marah-marah padanya. Namun, Arsen tak mau ambil pusing dengan alasan dibalik sikap Laura yang tiba-tiba berubah. Ia juga tidak berharap Laura akan bersikap seperti itu seterusnya, toh Laura masih dalam kondisi menyesuaikan diri.
Selesai mandi Arsen langsung menuju meja makan. Di sana sudah tersaji segelas s**u dan sepiring nasi goreng dengan toping telur dadar, lengkap dengan kerupuk, dan irisan timun dan tomat. Aromanya begitu menggoda dan menggelitik lambung. Kalori yang terbakar akibat jogging langsung terisi kembali dengan karbo.
“Neng?”
“Iya?” Laura yang sedang mencuci peralatan masak menoleh.
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Ini nasi gorengnya cuma satu aja?”
“Iya, aku buatin khusus buat Mas Arsen karena semalam Mas udah repot karena aku. Itu nggak pedes kok, kata kak Lidya Mas Arsen nggak suka pedes, ‘kan?” Laura bertanya meyakinkan dan ditanggapi dengan anggukan oleh Arsen. Arsen tak perlu tahu dari mana Laura mengetahui makanan apa yang tidak disukainya.
Meskipun Laura tak begitu dekat dengan Lidya, tetapi kakak angkatnya itu sering membicarakan tentang Arsen padanya. Tentang kebiasaan Arsen, makanan kesukaannya, hobi dan rutinitasnya. Setidaknya Laura sudah cukup mengenal Arsen dari cerita-cerita Lidya.
“Kamu bener-bener diet? Sama sekali nggak sarapan? Diet macam apa itu?” ucap Arsen yang kemudian kembali menyuapkan sesendok penuh nasi goreng. Nasi goreng buatan Laura memang lezat.
“Aku nggak laper kok. Ya sudah aku mau siap-siap ke kampus dulu.”
“Nggak nemenin Mas sarapan nih?”
“Enggak!” Laura menyahut seraya berjalan menaiki tangga.
***
“Neng, udah mau berangkat? Apa nggak kepagian?” tanya Arsen saat melihat Laura turun dari tangga. Ruangan di lantai satu memang tidak ada penyekatnya kecuali musala, itu pun disekat dengan dinding kaca transparan, sehingga Arsen bisa melihat seluruh ruangan.
“Aku ada praktikum psiko faal hari ini.”
“Sepagi ini?” tanya Arsen dengan kening berkerut. Sebagai dosen mata kuliah psikologi Klinis, Arsen belum pernah mendengar ada praktikum yang dilakukan sepagi ini. “Neng mau mampir-mampir dulu nih pasti?”
Laura mendengus.
“Sarapan dulu ya? Mas sudah bikinin avocado toast nih, rotinya full gandum jadi rendah gluten.”
“Aku nggak biasa sarapan, lagi diet juga,” tukas Laura cepat.
“Loh kok gitu… kebiasaan anak kos nih. Ntar bukannya kurus malah kena magh loh.”
“Biarin,” sahut Laura tak acuh tanpa menoleh dan langsung bergegas menuju pintu depan.
“Tunggu bentaran atuh Neng.” Arsen cepat-cepat mendekat dan mencekal tangan Laura. Gadis itu mendengus menatap laki-laki yang sudah berdiri di depannya.
“Aku udah telat ini,” gerutunya.
“Ya sudah rotinya buat bekal aja ya? Mas bungkusin.”
“Nggak mau! Kayak anak TK aja.”
“Mas antar ke kampus.”
“Udah pesen ojol.” Laura mengecek aplikasi ojek online di smartphonenya.
Sial!
Wajah Laura berubah cemberut. Di saat sedang buru-buru begini lagi-lagi ada saja kendalanya.
“Kenapa?”
“Dicancel.”
“Emang kamu berangkat pagi-pagi gini mau ngapain di kampus, nggak mungkin praktikum dong? Seingat Mas, Praktikum faal itu agak siang loh. Sama pak Dipo, ‘kan?”
Laura menggaruk pelipisnya, percuma ia berbohong pada Arsen soal perkuliahannya. Sebagai dosen di tempatnya kuliah, tentu saja Arsen lebih tahu darinya.
“Aku mau ke kos Gendhis dulu. Nggak boleh?”
“Boleh kok, Mas anterin tapi.”
“Aku nggak mau!”
“Kenapa? Jangan-jangan kamu mau ketemu sama Geno ya?”
“Bukan urusan Mas.”
“Sekarang jadi urusan Mas karena Mas kan suami kamu.”
“Suamiku?” Laura mengbalik tubuhnya menghadap Arsen sambil menengadahkan kepalanya. “Jangan mentang-mentang Mas sudah jadi suamiku terus Mas bisa seenaknya saja ngekang aku.”
“Mas cuma mau jagain kamu, apa itu salah?”
“Salah. Aku nggak perlu dijagain sama Mas, sudah ada Geno.” Laura menarik satu ujung bibirnya ke atas mencibir.
“Mas biarin aku jalanin masa mudaku. Aku pengin have fun. Nggak dikekang, nggak diposesifin. Aku pengin masa mudaku bebas!” Ada kemarahan yang lagi-lagi meluap di mata gadis itu. Laura memalingkan wajahnya ke samping, keningnya mengernyit memikirkan sesuatu. Sejenak dia mengambil napas lalu kembali menatap Arsen yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari wajah Laura. “Oh iya, mas pernah bilang kalau aku berhak ngajuin pembatalan pernikahan, ‘kan?”
Arsen hanya menatapnya datar, tidak ada ekspresi kaget ataupun marah. “Kalau itu bisa membuat kamu bahagia, silahkan.”
Di luar dugaan Laura, Arsen tampak tidak peduli dengan ucapannya. Parahnya lagi, Laura tidak tau menapa hatinya tiba-tiba terasa nyeri mendengar ucapan Arsen, bukannya seharusnya ia senang? Gadis itu memalingkan pandangannya lagi, menatap ujung sepatu ketsnya. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Ancamannya tidak lagi berarti.
Arsen menarik dagu Laura perlahan untuk menatap wajahnya. Laura gugup, lidahnya mendadak kelu. “Bagi Mas, ikrar pernikahan bukanlah permainan. Mas hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Mas sudah memilih untuk hidup sama kamu. Sampai kapanpun Mas tidak akan menceraikan kamu. Mas sayang sama kamu, tulus. Tapi … Mas tidak akan memaksa kamu untuk menerima Mas.”
“Aku nggak pernah milih Mas,” lirihnya pilu. Arsen mengangguk. “Aku cuma nggak mau nyakiti banyak orang. Kak Lidya, Geno.”
“Orangtua kamu?”
Lagi-lagi Laura dibuat dilema dengan keadaannya. Menikah dengan Arsen adalah bayaran atas kebaikan orangtua angkatnya yang selama ini sudah membiayai hidupnya. Seperti hutang, Laura harus membayar mahal segala yang sudah ia nikmati selama 19 tahun ia hidup.
“Memang bukan kamu yang milih Mas, tapi Allah yang berkehendak kalau Mas yang jadi jodoh kamu.”
“Aku nggak yakin kalau Mas jodohku.”
Arsen menghela napas, “Makanya Mas juga tidak mau memaksa kamu. Dengerin Mas, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu tapi, kalau kamu mau batalin pernikahan ini, silahkan. Itu keputusan kamu … Mas akan coba belajar menerima.”
Laura memainkan ujung kemejanya. Ia bingung dengan maksud Arsen. Tidak mau menceraikan, tapi tidak keberatan Laura membatalkan pernikahan mereka. Bukan seperti itu yang Laura ingin dengar. Andai Arsen mau membujuknya lebih keras. Cewek tuh sukanya dibujuk kalau perlu pakai sujud di bawah kakinya. Biar greget.
Mereka saling terdiam beberapa saat hingga Arsen kembali bersuara. “Sebenarnya sih, Mas pengin kamu kasih kesempatan buat kita lebih saling mengenal. Siapa tahu kamu mau berubah pikiran. Di Jawa ada pepatah yang mengatakan witing trisno jalaran soko kulino, ‘kan?”
“Emang ya, susah ngomong sama cowok kayak Mas! Minggir.” Laura mendorong tubuh tinggi Arsen tapi laki-laki itu tidak membiarkannya pergi. Arsen bergeming di tempatnya berdiri meski Laura sudah berusaha mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya menangis dan memukul-mukul d**a bidang suaminya.
Arsen sama sekali tak menghindar, ia membiarkan Laura meluapkan kekesalannya. Seraya perlahan menahan tangan Laura di dadanya lalu dengan perlahan ia menarik Laura ke dalam pelukannya. Membiarkan perasaannya melakukan tugasnya.
Tangis Laura mereda. Dua hari ini perasaannya memang mudah berubah, mungkin karena ia sedang PMS sehingga emosinya menjadi labil? Namun, sebelum-sebelumnya ia tak pernah selabil ini. Mungkinkah ia mengalami stres?
Masa anak psikologi stres sih? Ah iya, dokter aja bisa sakit, guman Laura dalam hati.
Yang Laura bingung adalah, ia menjadi mudah marah tanpa sebab pada Arsen hingga rasanya ubun-ubunnya terasa hampir meledak namun kemudian, hatinya kembali luluh hanya karena perhatian yang Arsen berikan. Seperti saat ini, usapan lembut tangan Arsen di punggungnya berhasil membuat perasaannya membaik.
***
“It’s okay, it’s okay,” bisik Arsen setelah tangis Laura mereda dan ajaibnya Laura mengangguk di dalam rengkuhannya. Arsen merenggangkan pelukannya, kedua tangannya beranjak menyeka pipi istrinya dengan kedua ibu jarinya.
Laura tidak berani menatap mata Arsen, pandangannya tertuju ke bawah entah apa yang diperhatikannya. Laura tahu Arsen menunduk mencoba menyejajarkan wajahnya, embusan napas Arsen terasa begitu dekat dan Laura tahu akan ada sesuatu yang terjadi selanjutnya. Ia tidak ingin menebak apa itu karena degup dadanya lebih dulu mengacaukan pikirannya.
Laura ingin menghindar–dari sesuatu yang entah apa–andai bisa. Namun, kenyataannya tubuhnya malah membatu hingga satu kecupan lembut mendarat di keningnya tanpa bisa dia antisipasi. Cukup lama hingga rasanya Laura dibawa melayang ke udara. Tubuhnya terasa seringan kapas. Tanpa sadar ia menutup mata menikmati kecupan lama dari suaminya .
Arsen berdehem diringin kekehan kecil.
Sontak saja Laura membuka matanya, ia tidak sadar sudah berapa lama berdiri dengan mata terpejam layaknya orang bodoh sedangkan Arsen sudah lebih dulu berjalan menuju meja makan.
“Baru juga dicium keningnya udah melayang. Gimana, lebih enak sama yang halal, ‘kan?” godanya.
Inginnya berkata kotor, mengumpat kalau perlu! Sayang, lidahnya mendadak kelu. Hanya hidung mungilnya yang bergerak kembang kempis.
Bibirnya bergetar, dipaksanya bicara. “Mas Arseeen ... Jahat! Nyebelin banget jadi orang!” Laura menghentak-hentakkan kakinya, geregetan sendiri.
Arsen menoleh, “Hahaa.... Jahat gimana coba? Emang Mas ngelakuin tindakan kriminal apa sih?”
“Mas nyium keningku tanpa ijin!”
“Oh, jadi harus ijin dulu ya? Kirain nggak keberatan soalnya diem aja tadi, lagian kalo ijin emang diijinin gitu?” jawab Arsen sekenanya. Ia menyentuh dagunya sendiri, matanya menatap ke langit-langit pura-pura berpikir, “Baiklah, lain kali Mas ingat-ingat buat minta ijin dulu,” kata Arsen dengan satu matanya mengerling nakal.
Sontak satu bantal sofa melayang ke arahnya, tetapi Arsen sigap menangkapnya.
“Mau main lempar-lemparan bantal nih? Boleh yuk, tapi mainnya di atas kasur,” ucapnya santai dengan seringaian jahil yang sudah pasti mengarah ke hal yang iya-iya.
“Mesuuuuuuuum!” pekik Laura sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
“Genit sama istri sendiri inih. Udah yuk sarapan takutnya Mas jadi nekat buaaat ....” Arsen terkekeh sendiri seraya mengaik turunkan alisnya, sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan Luara menebak-nebak.
Kenapa Arsen jadi genit sih, masih pagi padahal, rutuknya.
“Jangan ngeliatin aku kayak gitu. Aku nggak suka!” hardik Laura penuh ancaman.
“Ya ampun, ngeliatin istri sendiri masa nggak boleh? Nggak suka atau malu-malu tuh?”
Malu Mas! Inginnya menjawab jujur, tetapi “Ya ngeliatinnya biasa aja dong Mas. Jangan buas-buas! Serem tau.”
Arsen terkekeh mendengar ucapan istrinya yang mengatakan dia buas. “Astaga Sayang, Mas kan ganteng begini. Masa sih buas? … Tapi kamu suka kan?” Arsen bertanya menggoda sementara kedua tangannya sibuk memasukan avocado toast ke dalam tupperware.
Laura membuat ekspresi pura-pura muntah yang membuat Arsen semakin senang menggodanya. “Buruan! Udah keburu siang ini. Aku mau mampi ke kost Gendhis dulu tau….”
“Neng perawan mah maunya buru-buru, belum tahu aja sebuas apa suamimu ini kalau di ranjang. Kamu pasti makin suka. Aarrr...” Giliran Arsen membuat gerakan tangan seperti macan.
“Nggak lucu, yang ada aku jijik!” sentak Laura lalu memberikan ekspresi menyeringai jijik.
“Oke, maaf bercandanya keterlaluan. Em habis ini Mas antar kamu ke kampus? Please ... mau ya? Mas tidak mau debat-debatan lagi, capek. Lagian jam segini ojol mah jarang yang lewat komplek sini.” Arsen menangkupkan kedua tangannya di depan d**a memohon dengan puppy eyes yang sulit ditolak.
Laura melirik sekilas, kok manis banget sih. “Ya udah aku maafin!” ucap Laura sambil membuka smartphonenya dan mengetik sesuatu lalu menatap Arsen yang masih mengatupkan tangannya di d**a.
“Tapi jangan sampai di depan kampus nganternya. Agak jauhan aja. Aku nggak mau teman-temanku liat. Satu lagi, aku nggak mau duduk di depan.”
“Lah, kamu anggap Mas ini supirmu apa?”
“Ah iya, hampir aja lupa. Selama di kampus kita adalah dua orang nggak saling kenal. Awas kalau deket-deket aku.”
“Kan Mas dosen kamu, masa kita mau cuek-cuekan?”
“Lah situ oke banget apa? Oh jadi kamu modelan dosen yang haus hormat, gitu?”
“Ya bukan begitu atuh Neng sayang … misal, kalau kita tidak sengaja papasan di kampus, boleh senyum?” tanya Arsen jenaka.
“Senyum aja sendiri! Ini Mas jadi nganter aku nggak? Kalau Mas nggak mau, aku jalan kaki aja sampai halte.” Laura berkata tak sabaran. Kesabarannya memang sangat diuji pagi ini.
“Mau mau. Mas Ambil kunci mobil bentar.” Arsen menukas cepat, dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengantar istrinya.
“Ck, dikasih hati minta jantung. Ngelunjak kamu Mas!” rutuk Laura yang segera berjalan keluar untuk menunggu Arsen sekaligus membukakan pintu gerbang.