“Tumben mengetuk pintu,” cemooh Laura dalam hati.
“Masuk….” Laura menyahut dari dalam kamar mandi.
Pria setengah bule itu kembali dengan nampan berisi nasi putih dan ayam goreng beserta segelas air putih hangat.
“Neng?” Arsen mengetuk pintu kamar mandi ketika mendengar suara gemericik air dari dalam.
“Bentar. Lagi ganti pembalut.” Laura menyahut ketus.
Tak berapa lama, Laura sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
“Sudah enakan, Neng?”
“Eh?”
“Perutnya?”
“Ah iya, u—udah mendingan kok. He…hehe…,” jawab Laura, wajahnya cengengesan seraya mengelus perutnya takjub. Ia pun baru menyadari perutnya terasa lebih baik sekarang.
Laura mendudukan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur, di samping Arsen duduk. Tak menunggu permintaan, Arsen yang peka langsung membantu menaikkan kaki Laura untuk selonjoran. “Mas, eng….”
“Kenapa? Nih dipake dulu. Mas sudah ganti airnya,” terang Arsen dengan senyum yang merekah membuat ketampanannya meningkat 80%. Arsen lalu meletakkan water bag di atas perut Laura yang terbalut dengan piyama dengan hati-hati. “Terlalu panas tidak, Neng?”
Laura menggeleng, “Enggak kok, pas. Makasih ya Mas.” Aliran hangat dari water bag sangat membantu menjaga perutnya agar tetap terasa hangat dan itu bisa mengurangi nyeri. Ditambah lagi teh herbal buatan Arsen yang ia minum beberapa saat lalu. Ia sangat menyukai aroma segar dan wangi yang menguar dari kepulan asapnya. Ia akui, racikan teh herbal itu benar-benar memberikan khasiat nyata. Perutnya yang biasanya kram selama berjam-jam sekarang terasa lebih baik hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja.
Laura menatap Arsen yang sudah begitu baik dan telaten mengurusnya.
“Iya, ini kan sudah kewajiban Mas jagain kamu.” Arsen berkata seraya mengambil nampan yang ia letakan di atas nakas. “Sambil makan ya Neng, biar tidak masuk angin. Mas suapin.” Tanpa menunggu jawaban dari Laura, Arsen mengangkat sendok dan memisahkan daging dari tulang sebelum akhirnya menyuapkan ke mulut Laura.
“Makan dulu ya … pinter…,” puji Arsen. “Eh iya, tadi sepertinya Neng mau ngomong ya? Pengin apa?”
Laura menggeleng cepat.
“Kamu selain suka ngelipet jidat ternyata suka geleng-geleng ya? Lucu.”
Apanya yang lucu? “Mas, aku boleh minta tolong dibikinin teh herbalnya lagi nggak? Soalnya, enakan di perut.”
“Boleh dong, nanti Mas bikinin lagi ya. Sekarang habisin dulu makanannya biar perut kamu nggak kosong. Oke?”
“Em.” Laura menjawab dengan anggukan. Perut kosong gimana? Kan ada jantung, hati, ginjal, usus, ish…, protes Laura dalam hati saja karena ia sedang malas mendebat. Toh maksud Arsen juga bukan kosong secara harfiah.
Laura pun makan dengan lahap suapan demi suapan yang Arsen sodorkan padanya hingga tak ia sadari sepiring nasi yang teraca cukup keras di mulut itu sudah tandas tak bersisa. Alhasil dietnya gagal, target menurunkan 10 kg berat badannya dalam dua bulan terancam gagal.
“Lain kali jangan pake bumbu instan,” ujar Laura merujuk pada ayam goreng yang Arsen buat.
Arsen mengangguk, ia mengambilkan tisu dan mengelap bibir Laura–tanpa seijinnya. “Biar praktis ini tuh, kan ribet kalau mesti ngeracik bumbunya. Hehee…. Mas kan tidak bakat masak. Ini aja nasinya terlalu keras deh.” Arsen terkekeh sendiri mengomentari masakan buatannya yang jauh dari kata layak—menurut standar restoran Kendra Pranata, sang sepupu yang menjadi chef terkenal.
Laura mengekeh menjengar alibi Arsen. Sebenarnya ia juga ingin memprotes tekstur nasinya, tetapi ia tak sampai hati. Masih untung Arsen mau membuatkannya makan malam. “Iya, kayaknya juga belum mateng nasinya.. Haha….”
“Gitu dong Neng, ketawa. Mas seneng denger kamu ketawa begitu.”
“Tapi masih bisa dimakan kok.”
“Enak kan? Mau nambah? Mas ambilin nasi lagi, mau?”
“Enggak!” Laura menggeleng. Matanya melirik bekas piring di atas nakas. Padahal lagi diet! Pipinya menggembung persis ikan buntal.
“Dietnya besok lagi aja ya?”
“Eh?”
“Mas tinggal bentar ya.” Tak menggubris ekspresi kaget Laura, Arsen kembali mengambil nampan itu.
***
Setelah selesai makan malam di lantai bawah, Arsen berinisiatif mengecek keadaan Laura sebelum ia sendiri tidur. Kali ini ia menerobos pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, sepertinya Laura harus membiasakan diri dengan kebiasaan Arsen yang satu itu, atau ia harus selalu mengunci pintu kamar saat dirinya di dalam supaya Arsen tidak masuk seenaknya.
“Apa lagi?” tanya Laura jutek. Gadis itu terlihat masih terjaga sambil membaca novel karya Lara VB.
“Belum tidur?” Arsen masih berdiri di ambang pintu, ia ingat Laura sudah mewanti-wanti tidak ingin sekamar dengannya.
“Keliatannya?”
“Hehe… cuma mau mastiin keadaan kamu aja, sudah baikkan?” Laura mengangguk, sekilas matanya melirik sofa ragu-ragu. “Mau dibuatkan teh lagi?”
“Enggak, ini masih kok.”
“Ya sudah. Mas, em—” Arsen menunjuk ruang sebelah dengan ibu jarinya.
“Masuk aja,” putusnya.
“Hah?”
“Nggak ada siaran ulang,” ketusnya sambil menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi lehernya.
“Oh oke.”
“Lampunya jangan dimatiin!” Gerakan tangan Arsen yang akan menyentuh saklar lampu berhenti seketika. “Awas loh kalo macem-macem!” ancamnya.
“Siap nyonya bos!” jawab Arsen diiringi senyum jenaka.
“Eh mau ngapain?” Mata Laura membelalak waspada saat Arsen hendak naik ke tempat tidur di sebelahnya. “Mas tidur di sofa.” Tunjuk Laura masih dengan suara ketus. Melihat Laura yang sudah kembali ketus, Arsen yakin jika keadaan gadisnya sudah membaik.
Tanpa protes, Arsen melangkah menuju sofa. Laura sudah menyiapkan selimut dan bantal di sana. Ia melirik Laura sebelum merebahkan diri di sofa, tetapi gadis itu langusng membuang muka, lalu memejamkan mata pura-pura tidur membuat Arsen mengekeh pelan.
“Mas….”
“Hm apa?”
“Besok aku masuk kuliah pagi.”
“Nggak mau ambil cuti saja? Mas saja masih cuti, kalau kamu pergi kuliah terus Mas ngapain di rumah sendirian? Kesepian atuh Neng.”
“Ya terserah mau ngapain, bebersih rumah kek, ngurus kebon kek, manjat genteng atau mau koprol jungkir balik juga terserah! Bukan urusanku tuh.”
“Lah ngapain pake manjat genteng segala?”
“Ya biar ada kegiatanlah, gimana sih.”
“Ya tapi tidak manjat-manjat juga atuh Neng … kamu mah aneh-aneh wae.”
“Aduh terserah deh! Aku nggak peduli.” Laura menepiskan tangannya di udara.
“Ya, kan kita udah nikah. Masa Mas peduli sama kamu, kamunya tidak?” ucap Arsen dengan nada tenang.
Laura menaikkan sebelah alisnya, “Oh, jadi Mas lagi minta imbalan? Peduli sama akunya nggak tulus, gitu?”
“Bukan atuh Neng, tenang dulu jangan ngegas-ngegas. Marah-marah wae kamu teh.”
“Lah teruuuus? Maksud kamu minta dipeduliin itu apa?”
“Ya kalau kamu di rumah, kan kita jadi bisa saling mengenal gitu, membangun chemistry. He… hehee….”
“Jangan ngarep!” tukas Laura cepat. “Aku sudah punya pacar!”
“Ya kan baru status pacar. Kalau Mas kan sudah jelas, lah kalau sudah ada yang jelas begini—”
Laura mencebikkan bibir bawahnya sebelum akhirnya memotong ucapan Arsen, “Pernikahan ini cuman di atas kertas, aku nggak cinta sama Mas, Mas juga gitu kan? Kita tuh dua orang yang sama-sama terpaksa menjalani pernikahan bodong demi menutupi harga diri keluarga. Mas nggak akan bisa nerima aku apa adanya, begitu juga aku. Pernikahan kita ini bukan macam sinetron yang nikah karena terpaksa lalu saling jatuh cinta dan berakhir bahagia. Nggak sesimpel itu.”
Arsen yang tadinya sudah akan istirahat dibuat terbelalak mendengar rentetan kata-kata Laura yang seperti petasan rentengan. Arsen menghela napas panjang berusaha memaklumi sikap Laura yang masih labil.
“Aku masih muda, masih mau seneng-seneng sama teman-temanku, masih pengin ngejar karir. Wujudin cita-cita. Aku nggak pernah kepikiran buat nikah muda tau,” lanjutnya. Matanya melirik jam dinding, sudah hampir pukul sebelas. Nyeri perutnya juga sudah mereda, tetapi entah karena hormon atau memang masih memendam unek-unek, ia pun kembali meluapkan amarahnya. “Sedangkan Mas, Mas sudah berumur. Pasti Mas ngarepin anak, iya kan? Dari pada Mas pertahanin pernikahan ini ‘sendirian’ dan membuang-buang waktu, lebih baik Mas segera cari kak Lidya.”
Sadar emosinya kembali naik, Laura kemudian menarik napas panjang.
“Untuk sementara ini oke, kita jalani pernikahan ini, tapi inget, kita tetap jadi dua orang asing.” Laura menjeda ucapannya sejekan untuk menelan ludahnya. Bicara panjang lebar begitu tentu saja membuat kerongkongannya kering.
“Dan besok-besok kalau kita ketemu di kampus, tolong pura-pura nggak kenal ya. Mas jangan deket-deket, kalo aku pas ikut kelas Mas, Mas jangan lirik-lirik aku. Aku nggak mau teman-temanku tau soal kita. Malu aku tuh, masa punya suami om-om, ih…. Apalagi aku kan mahasiswi Mas, ntar orang-orang ngira aku lagi nyari nilai deket-deket sama kamu. Kamu mau apa dicap dosen m***m?!”
Hoam…. Laura meguap lebar. Matanya mulai berair karena rasa kantuk, tetapi semangatnya untuk membreafing Arsen masih membara.
“Inget loh Mas, Mas harus tetap bersikap profesional di kampus. Apalagi di kampus ada pacarku. Emang Mas mau tanggungjawab kalo sampai dia tahu hubungan kita terus jadi patah hati, terus bunuh d1r1. Ih amit-amit, jangan samp—” Laura menghentikan kata-katanya ketika merasakan suasana kamar yang tiba-tiba terasa senyap. Ia melongok memeriksa Arsen yang sudah meringkuk di atas sofa.
“Mas….” Tidak ada sahutan. “Mas Arseeeeen!”
“Om! Om om om ommmmmm!!! Issssh! Untung ganteng lo!”
Dengkuran halus Arsen sudah cukup mewakili jawaban atas unek-uneknya. “Jadi dari tadi aku ditinggal tidur? Sialan!” umpatnya.
***
Kenyataannya, Arsen belum tidur. Ia mendengar semua yang Laura ucapkan. Semua kekesalannya, dan juga pujian untuknya.
Arsen tidak akan menyerah pada Laura. Ia sudah bertekad untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Mungkin jalan yang ia tempuh untuk meluluhkan hati Laura tidak akan mudah. Butuh waktu untuk meyakinkannya bahwa ia sungguh-sungguh dengan pernikahan yang telah mengikat mereka.
Dan untuk Lidya, sesekali kenangan tentangnya memang masih singgah di pikirannya, tetapi sikap egois Lidya kali ini benar-benar sudah tidak bisa ia tolerir. Lidya sudah menghancurkan kepercayaannya. Mantan tunangannya itu juga sudah berhasil menghancurkan reputasinya di depan keluarga besarnya. Beruntung pernikahan mereka digelar secara tertutup dan hanya dihadiri orang-orang terdekatnya saja.
Sampai saat ini pun Arsen tidak tahu di mana keberadaan perempuan itu. Yang Arsen tahu, Lidya ingin mewujudkan impiannya. Impian yang sudah menghancurkan hubungan mereka.
Setiap orang memiliki impiannya masing-masing.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mewujudkan impian. Justru impian memang harus diperjuangkan. Begitu juga dengan Lidya, ia berhak mengejar impiannya. Dan jika memang itu yang Lidya inginkan, Arsen bisa apa selain melepaskan kepergiannya? Mereka memang tidak ditakdirkan berjodoh.
Arsen menghembuskan napas berat seraya mengusap wajahnya. Dalam hatinya, ia percaya bahwa Tuhan sudah menetapkan jodoh setiap hambanya dengan tepat. Jodoh tak mungkin tertukar apalagi salah alamat. Jika Tuhan akhirnya mengganti Lidya dengan Laura, itu artinya Laura memang jodoh yang Tuhan pilihkan untuknya sesuai yang selalu ia minta.
Untung ganteng, Arsen kembali terngiang ucapan Laura saat sedang marah.