Laura merebahkan tubuhnya di sofa, nyeri di perutnya belum juga reda, malah semakin menjadi. Biasanya tidak sesakit itu. Laura mendesis sambil menekan-nekan perutnya yang teramat nyeri menggunakan water bag. Biasanya itu bisa mengurangi sedikit nyerinya, dengan catatan ia tak banyak bergerak.
Arsen yang sedianya mau makan malam pun mau tak mau harus menunda kegiatannya. Pria jangkung itu sibuk membuat racikan teh herbal berbahan chamomile tea dan lavender yang diseduh dengan campuran s**u segar. Racikan itu sering ia buat untuk membantunya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik selain itu, setelah ia browsing di internet, chamomile tea ternyata baik juga untuk meredakan nyeri menstruasi. Arsen harap, racikan teh herbalnya juga bisa membantu Laura agar keadaannya menjadi lebih baik.
Sembari menunggu racikannya selesai, Arsen menyempatkan diri duduk sejenak di ruang makan yang menyatu dengan dapur. Ia menatap nasi dan ayam goreng yang telah susah payah ia buat untuk menyenangkan istrinya. Arsen menarik kedua sudut bibirnya, bahkan ia membiarkan tangannya terkena cipratan minyak saat menggoreng ayam. Namun Laura justru lebih senang memilih makan malam bersama Geno.
“Ah iya, Laura pasti lapar.” Arsen berguman. Pria blasteran Sunda dan Belanda itu pun mengambil secetok nasi dengan sepotong paha ayam. Ia sengaja tak menambahkan sambal karena menurut artikel kesehatan yang ia baca, kandungan yang ada pada cabai tidak disarankan untuk penderita nyeri menstruasi.
Sudah hampir lima menit dan dia tidak juga mendengar decitan pintu dibuka maupun ditutup kembali, itu artinya Laura benar-benar tidak jadi pergi. Arsen segera mengambil chamomile tea dan meletakkannya di atas nampan bersamaan dengan sepiring nasi hangat dan sepotong ayam untuk Laura.
Setelahnya, Arsen bergegas menemui Laura yang masih menekan-nekan perutnya menggunakan water bag di ruang tamu. Gadis itu pasti sangat kesakitan, pikir Arsen.
Laura berbaring sambil memegangi perutnya yang keram. Dahinya mengernyit dengan mata terpejam erat hingga terlihat kerutan di ujung mata, pipinya basah karena ia diam-diam menangis, sementara itu bibirnya juga mengatup rapat dengan rahang mengetat, dia benar-benar kesakitan. Arsen menyeka keringat sebesar biji jagung yang menguar di kening Laura.
Gadis bersurai panjang itu akhirnya membuka matanya perlahan saat merasakan sentuhan jemari Arsen di dahinya. “Minum teh anget dulu ya. Ini teh herbal, bagus buat ngurangin nyeri menstruasi.” Tanpa menunggu respon Laura, ia membantunya duduk lalu menyorongkan gelas di genggamannya itu ke tangan laura. “Dihabisin ya. Good girl.” Arsen berkata seraya mengelus perlahan puncak kepala Laura.
“Wait, I’m gonna do something,” bisik Arsen .
Laura tidak berdaya menyahut, ia tak peduli pada apa yang Arsen lakukan karena fokusnya masih terpaku pada rasa nyeri di perutnya semakin menyiksa. Setelah membantu merebahkan tubuh Laura dan mengganjal kepalanya dengan cushion, Arsen membetulkan letak water bag di perut Laura dengan hati-hati.
Laura masih menggenggam gelas teh herbal buatan Arsen. Ia menghirup dalam-dalam aroma segar dan wangi yang menguar dari kepulan asap tipis yang berlarian di atas gelas. Sedikit demi sedikit ia menyeruput tehnya. Aliran air hangat yang berpadu dengan racikan herbal berkhasiat sangat memanjakan tenggorokannya. Rasa hangat itu terus menjalar memenuhi lambung Laura. rasanya nyaman.
“Gimana, sudah mendingan?” tanya Arsen setelah kurang lebih lima menit mereka saling terdiam. Arsen sengaja duduk di lantai, bersimpuh dengan kedua lututnya untuk menyesuaikan diri dengan posisi Laura untuk memijat sendi lututnya. Cara itu juga ia dapatkan setelah browsing di internet.
Laura menggeleng, “Masih sakit. Stttts…,” jawab Laura dengan suara manja dan wajah memelas. Padahal nyerinya sudah berkurang.
Wajah Arsen menjadi semakin tak tenang. “Em biasanya kalau nyeri gini diapain?” tanya Arsen penasaran juga khawatir.
Laura menggeleng pelan lagi. “Biasanya nggak sesakit ini sih.”
Dari artikel yang Arsen baca tadi, disebutkan jika nyeri menstruasi bisa juga disebabkan karena stres tinggi. Mungkinkah Laura stres karena pernikahan mereka? Jika itu penyebabnya maka Arsen harus bertanggung jawab atas keadaan Laura.
“Ehm Geno gimana?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arsen.
“Nggak papa,” lirih Laura. “Dia ngerti kok,” lanjutnya. Arsen tersenyum samar, di satu sisi dia senang karena nyeri menstruasi yang dialami Laura membuat gadis itu batal ‘kencan’ dengan Geno, tetapi di lain sisi ia prihatin karena Laura harus mengalami nyeri yang menurut artikel yang sempat ia baca kilat dari internet, nyeri yang dialami perempuan saat menstruasi itu setara dengan sakit yang dialami penderita jantung koroner. Arsen yakin, para pria di luar sana belum tentu mampu merasakan sakit yang perempuan alami, termasuk dirinya.
“Oh, Neng, makan dulu ya?”
Laura menggeleng, “Ntaran aja Mas, aku nggak bisa makan. Lemes banget, tulang-tulangku kek dilepasin satu-satu. Nyeri, ngilu--”
“Oke-oke, em gimana ya.” Arsen segera memotong ucapan Laura. “Ekhm … Neng mau pindah ke kamar aja? Biar lebih nyaman?” tawar Arsen.
Laura tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali meringis seraya memegangi perutnya, “Adduh…duh Mas, sakit banget! Huhuu…. Nggak bisa jalan. Udah, aku tidur di sini aja.”
Arsen jadi merasa serba salah melihat keadaan Laura.
“Kita ke rumah sakit saja gimana?” cetus Arsen, ia beringsut dari duduknya lalu mengusap pipi Laura. Mata hitam Arsen langsung bertumbukan dengan milik Laura membuat gadis itu langsung mengalihkan pandangan ke perutnya yang sedang dikompres. Tangannya yang sedikit tremor membetulkan posisi water bag.
Laura mencoba beringsut duduk, gadis itu berubah pikiran. “Ng—ngak usah Mas. I-ini su-sudah akan mendingan, kok, cuma perlu istirahat aja. Aku mau ke kamar aja.”
“Bisa jalan?” Laura tak menjawab ia ragu, jika menjawab tidak bisa berjalan apakah Arsen akan menggendongnya? Laura melirik sejenak raut wajah Arsen yang tampak cemas.
Laura memutuskan untuk menggeleng sebagai jawaban.
“Mas gendong ya?”
Seberkas senyum kecil terbit di bibirnya, sesuai dugaan, Arsen tidak mungkin tega membiarkan ia kesakitan. Laura merasa sedang di atas angin. Kali ini ia ingin mengerjai Arsen. “Nggak usah, aku jalan aja,” ucapnya sok jaim.
“Serius?”
“He’em.”
“Ya sudah, ayo berdiri.”
Hah? Jawaban Arsen benar-benar di luar dugaannya. Arsen langsung membantunya berdiri. Kenapa Arsen tidak membujuk atau memaksa menggendongnya jika perlu? Laura mendengus. Niatnya gagal.
“Awh, sakit Mas,” rutuk Laura. Kali ini tidak sepenuhnya akting.
“Sabar ya Sayang….”
Sayang? “Mas, kayaknya aku nggak sanggup jalan deh, sakit banget…huh, awsh…,” Laura mendongak menatap wajah Arsen, tetapi wajah Arsen sudah berubah, dia tampak datar. Apa dia sudah tau kalau Laura hanya akting belaka? Sial! Bermain-main dengan psikolog memang bukan hal yang mudah. Arsen pasti sudah bisa membaca isi pikirannya.
“Awwwh sakit banget…,” tangis Laura kembali membuncah, untung stok air matanya masih tersisa, tubuhnya mendadak seperti jeli, tetapi Arsen sigap menyisipkan tangannya di punggung Laura. Lagi-lagi gadis itu jatuh tepat di pelukan Arsen.
Tinggi Laura hanya 155 cm, tetapi berat badannya 60 kg, cukup berat. Bobot itu sudah jauh berkurang dari sebelumnya yang mencapai 100 kg. Beruntung Arsen rajin olah raga sehingga tidak sampai membuat otot pinggangnya putus saat menggendong Laura. Meski begitu, tetap saja menggendong Laura ala bridal style cukup menguras tenaganya.
“Pegangang,” perintah Arsen, kedua tangan Laura pun langsung bergelayut manja di lehernya. Laura menyandarkan kepalanya pada pundak Arsen. Di sana ia bisa menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arsen. Wanginya menenangkan sekali. Laura yakin ia akan betah berlama-lama digendong.
Jangan, jangan sadarkan aku! jerit Laura dalam hati.
Hosh hosh hosh….
Napas Arsen terasa semakin menipis dan berat. Menggendong Laura memang bukan perkara mudah. “Tahan bentar ya, ini udah mau nyampe kamar kok,” ucap Arsen yang ditanggapi senyum kecil di balik punggung Arsen.
Sementara itu kepala Laura semakin tenggelam di ceruk leher Arsen.
Aaaaargh!
Arsen refleks mengerang begitu merasakan pundaknya terasa perih. Hampir saja ia menjatuhkan Laura saking kagetnya. “Maaf, habisnya perutku sakit banget Mas,” cicit Laura.
Sakit kok ngajak-ngajak, protes Arsen dalam hati. “Nggak apa-apa kok Sayang, gigit aja kalau itu bisa ngurangin nyeri kamu.” Meskipun sudah mengantongi lampu hijau dari Arsen, Laura jelas tidak akan mengulangi keisengannya lagi.
Bagi Laura, gigitannya tadi merupakan ajang balas dendam karena cekalan tangan Arsen siang tadi.
Perlahan Arsen merebahkan tubuh Laura di atas tempat tidur. Tanpa sadar tangan Laura tetap memeluk leher Arsen, “Lepasin atuh Neng…. Betah amat gelantungan, kayak nyonyet aja. Hehe…,” tegur Arsen dengan cengiran jenaka membuat wajah Laura cemberut. “Nyonya monyet makin gemesin kalau kamu manyun gitu tau….”
Masa disamain sama monyet sih, berarti situ Tuan monyetnya dong?! Laura mendengus tak terima.
Laura segera melepaskan tangannya dari leher Arsen, tetapi gerakan refleksnya itu justru hampir membuat kepalanya membentur bantal. Beruntung Arsen sigap menahan kepala Laura agar tidak membentur bantal. Namun, gerakannya itu justru menyisakan jarak beberapa senti dengan wajah saling berhadapan.
Rasa jedag-jedug di d**a Laura mendadak semakin bergemuruh. Ia refleks membelalakan mata saking kagetnya.
Untuk sepersekian detik, Arsen bisa merasakan napas hangat Laura menyapu wajahnya membuat mata mereka bergerak gelisah mencari pemandangan lain. “K-kamu ganti baju dulu ya, M-Mas ambilin,” ucap Arsen sedikit terbata seraya melepaskan kepala Laura perlahan.
Belum sempat membalas, Arsen sudah lebih dulu bergegas menuju lemari. Ia memilihkan setelan piyama lalu meletakkannya di samping Laura sebelum meraih water bag dari atas perutnya. Tanpa bicara Arsen mengeloyor keluar menyisakan Laura yang tercenung di tempatnya.
Aneh.
Airnya masih panas padahal, batin Laura. Dengan gerakan pelan Laura mengganti pakaiannya lalu melempar pakaian yang dia pakai sebelumnya ke ranjang cucian yang ada di depan kamar mandi, sayangnya tenaganya yang lemah membuat baju itu malah berserak di lantai. Mengabaikan itu, Laura kembali ke posisinya berbaring di tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut. Bersiap tidur.
***
Ada apa Laura?
Laura menghela napas panjang, sementara hatinya bertanya gelisah. Untuk kedua kalinya ia harus mengingkari janji bertemu dengan Geno. Kekasihnya itu pasti kecewa padanya. Kenapa sulit sekali menemui Geno? Sebelumnya ia bisa bertemu dengan Geno kapanpun dan di manapun tanpa ada halangan.
Sakit perut sialan! Laura merutuk kesal. Arsen sialan, sayangnya ia memiliki wajah tampan dan bersikap romantis, kenapa?
Laura bertanya-tanya mengapa ia harus terjebak di antara kemelut hidup yang semakin rumit. Belum 2X24 jam tinggal bersama dengan Arsen, ia sudah dibuat kesal sekaligus takjub dengan sikap romantis Arsen. Laura dilema.
Ada apa Laura?
Laura mengedarkan pandangan di ruangan berukuran enam kali enam meter itu dengan teliti. Ruangan itu terasa begitu polos, seperti kosong. Selain jam dinding, tidak ada hiasan atau pajangan lain di sana.
Tiba-tiba Laura teringat kesibukan kakaknya berbelanja beberapa waktu yang lalu. Lidya sudah menyiapkan berbagai barang yang rencananya akan ia letakkan di rumah barunya kelak. Mungkin … itulah alasan mengapa Arsen belum mendekor kamarnya. Bahkan, di lantai satu juga belum ada pajangan apapun.
Laura menarik kedua sudut bibirnya hingga lesung pipit sebelah kanannya terlihat jelas. Ucapan Arsen siang tadi terngiang kembali, pria yang sekarang bersatus sebagai suaminya itu sempat berkata jika ia menunggu nyonya rumah untuk membantu mendekor rumahnya. Senyum Laura berubah getir, ia tak mungkin menggantikan nyonya rumah yang sudah Arsen pilih sejak awal, ‘kan?
Di saat Laura semakin over-thinking, suara langkah kaki yang semakin mendekat mengingatkan Laura pada pesan Arsen beberapa saat lalu. Ia harus segera mengganti pakaiannya. Laura yang panik pun segera beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
Lantaran dilanda kepanikan, ia bahkan sampai tidak menyadari jika ada sesuatu telah terjadi pada tubuhnya; rasa sakit di perutnya yang sudah mereda.