Seharusnya tadi ia segera keluar dari kamar sebelum ketahuan mengintip, tetapi entah mengapa Laura malah memilih menikmati pemandangan yang berakhir ia menjadi bahan ledekan Arsen. Bodoh dan betah beda tipis memang. Laura mendengus kesal.
Arsen mengkekeh, “Genit di mananya sih? Lagian siapa juga yang lagi ngegombal. Kalau genit, ya … iya sih namanya juga cowok, tapi Neng harus percaya kalau Mas tidak pintar menggombal loh.”
“Tapi itu ngapain pake buka-bukaan depan orang, ck tukang ngeles!”
“Mas kan cuma mau ganti baju doang. Biasanya juga begini.”
“Ya itu kan waktu Mas masih sendiri. Sekarang kan ada aku, nggak sopan banget sih!” rutuk Laura tak terima.
“Emang buka baju termasuk ngegombal ya?” gumam Arsen.
Laura menelan ludahnya dengan susah payah. “Ya, tapi kan. Tetep aja itu gak sopan, Mas pasti lagi mancing-mancing kan? Bikin risih tau.”
“Mancing? Mancing apa?” Arsen mengedipkan sebelah matanya genit. “Emang kalau ada kamu, terus kenapa? Kan udah mahrom juga, nggak apa-apa kali. Lagian Neng juga betah-betah aja tuh ngejogrok di sini sambul nontonin Mas?”
“A—aku kan lagi nunggu hape dicas!” kilahnya dengan terbata.
“Ck ngeles. Padahal seneng tuh liat tontonan gratis. Sampai mager.”
“Tontonan gratis apaan, yang ada jadi polusi mata!” sewot Laura sambil menggigit bibir bawahnya. Benar juga apa yang Arsen katakan. Jika keberatan seharusnya Laura lari keluar bukannya menyiksa diri berduaan dengan Arsen yang masih topless. Laura menggaruk pelipisnya sambil membuang muka.
“Ekhem. Emang situ mikirnya Mas mau ngapain huh? Orang masih jam segini juga udah mikir kemana-mana kamu tuh,” balas Arsen. Laura bisa melihat senyum jahil Arsen dari balik cermin.
“Tapi nggak perlu di depan aku juga kali ganti bajunya! Ih lagian siapa juga yang mikir mau ngapa-ngapain. Buruan kek ganti bajunya.” Dusta banget sih Laura, berasa yakin saja dengan ucapan bibirnya.
“Memangnya kenapa kalau Mas ganti baju di depan Neng? Neng nih pikirannya jorok pasti nih, hayooooo ngaku!” Melihat ketidaknyamanan yang Laura tunjukkan membuat ide jahil Arsen timbul. Arsen mengambil baju koko berlengan panjang dari lemarinya lalu membuka kancingnya satu per satu dan segera memakainya.
“Ya telanjang di depan orang lain kan nggak sopan!”
“Orang lain siapa maksud Neng? Mas kan telanjang di depan istri Mas sendiri. Ehm Neng perawan takut tergoda ya?”
Neng perawan? Ada desiran tak kasat mata yang baru-baru ini menjalar di dadanya. Setiap kali Arsen memanggilnya Neng membuat perasaannya lebih baik. Biarpun sebelum menikah Arsen memanggilnya Neng, tetapi setelah menikah sebutan itu mulai berubah rasa.
Laura memejamkan mata erat-erat, ia tak mau melihat Arsen yang masih telanjang d**a. “Mas Arsen nyebelin banget. Buruan kek pake bajunya!”
“Udah dari tadi kali.” Laura menoleh dan mendapati Arsen dengan penampilan berbeda dari sebelumnya. Baju koko lengan panjang berwarna abu-abu dipadukan dengan sarung berwarna senada membuatnya semakin terlihat tampan.
“Sudah dong terpesonanya, gih buruan ambil wudhu, kita jamaah lagi. Mas tunggu di musala bawah ya.”
Laura mengerjap-ngerjap, “Aku lagi libur,” jawab Laura sekenanya.
“Tadi pagi enggak tuh?”
“Kan dapetnya barusan, ih kenapa juga aku harus jelasin ke Mas sih!” Laura menggembungkan pipinya persis ikan buntal. Mengingat dirinya sedang menstruasi, tiba-tiba saja membuat bagian perutnya terasa tidak enak. Ia pun memilih berjalan pelan ke tempat tidur untuk istirahat sejenak.
“Ouh kok Mas mendadak patah hati ya denger kamu lagi dapet? Padahal kan….” Arsen meringis kecewa, dua tangannya menekan bagian dadanya.
Lebay! sungut Laura dalam hati. “Dasar otak mess…” Laura menarik satu bantal terdekat untuk dilemparkan pada Arsen. Yang dilempar justru hanya terkekeh lalu melempar balik bantal itu ke ranjang.
“Mes?? Maksudnya?”
“Lah itu pasti mau ngajakin … ih dasar om-om genit!”
“Ya emang mau ngajakin, tapi bukan buat begituan.” Arsen terkekeh geli.
“Ngeles mulu. Cowok kan otaknya jorok mulu, kecuali Geno.” Lagi-lagi ia tidak yakin dengan ucapannya.
“Kok jadi bawa-bawa Geno? Dia bukan laki-laki?”
Mata Laura mencelos tak terima. “Dia laki-laki tapi kan gak macem-macem, baik, perhatian ….” Arsen mengangguk-ngangguk, tak ingin mendebat lagi. “Nggak kayak Mas, masa ngajakin … iyuuuh.” Laura bergidik ngeri.
“Mas tuh mau ngajakin magrib berjamaah doang loh ini.” Kedua tangan Arsen terangkat dengan telapak tangan terbuka seolah meminta penjelasan.
“Eh? Tau ah, males ngomong sama Mas Arsen. Sst….” Laura meringis refleks memegang perutnya.
“Emang kamu pikir jam segini Mas mau ngajak ngapain? Ini kan sudah masuk waktu magrib. Tuh denger sudah iqomah.” Arsen menggeleng pelan, tatapan matanya tertuju pada gerakan tangan Laura yang menekan perutnya. “Duh kamu tuh ya dari tadi pikirannya kok jorok terus sih Neng?” Senyum jahil Arsen tak bisa dibendung lagi, Laura semakin kesal. Sambil menahan perutnya yang mulai sakit karena otot-ototnya yang semakin tegang, Laura berusaha meraih satu bantal lagi.
Tak ingin terjadi pertumpahan darah, Arsen pun mengalah dan berlari keluar. Mata Laura awas mengamati Arsen yang menghilang di balik pintu. Bantal yang dilempar Laura pun sukses mendarat di belakang pintu yang baru saja tertutup.
“Aaaargh Mas Arsen nyebelin!” Laura memekik kesal. “Tapi ganteng,” sahut hatinya menceplos seenaknya.
“Dasar om-om denial,” umpatnya pada pintu yang baru saja ditutup dari luar. “Atau aku yang mikir enggak-eggak terus ya?” Laura menggigit bibir bawahnya, merutuki kebodohannya sambil menepuk-nepuk keningnya.
***
Pandangan Laura beralih pada smartphonenya yang berdering. Ia berjalan gontai menuju meja rias dengan satu tangannya menekan perut.
“Halo?”
“Sayang, maaf lama...,” ucap Laura, suaranya tertahan.
“Kamu nangis?”
“Nggak kok, oh iya ini aku udah mau jalan.”
“Serius? Suara kamu kok kayak nahan sakit, kamu sakit?”
“Enggak kok. Ya sudah aku tutup dulu ya, see you.”
Kabur dari rumah adalah satu-satunya ide yang terlintas di pikirannya sekarang. Ide gila itu patut dicoba. Laura dengan hati-hati berjalan menuruni tangga sambil memeriksa keadaan. Di rumah itu hanya ada dia dan Arsen. Saat ini mungkin Arsen masih salat. Kesempatan bagus untuk menyelinap keluar.
Laura sengaja melepaskan sepatunya agar langkahnya tidak terdengar. Benar saja dugaannya, Arsen terlihat sedang khusuk di ruang salat. Ruangan itu ada di lantai satu, letaknya tepat di tengah-tengah antara ruang tamu, ruang televisi dan dapur yang memang hanya disekat kaca transparan dengan tirai tipis berwarna hijau yang ujung-ujungnya berumbai.
Entah ada magnet apa yang membuat Laura akhirnya melangkah mendekati musala. Ruangan itu dibuat lebih tinggi dari ruangan lainnya yang ada di lantai satu. Yang membuat Laura semakin takjub adalah, musala itu dibangun di atas kolam ikan dengan air yang sangat jernih.
Dari tempatnya berdiri, Laura bisa melihat puluhan ikan koi yang sedang berenang-renang di antara bebatuan, pemandangan yang sangat memanjakan mata. Laura dibuat takjub dengan ide sang creator yang membuat design musala itu begitu aestetic. Lantainya terbuat dari kaca yang membuat siapapun yang berdiri di atasnya seperti melayang di atas sajadah. Laura teringat film kartun favoritnya, Aladin. Laura yakin siapapun yang duduk di atasnya tidak akan bosan karena bisa menikmati pemandangan indah di bawahnya.
Tidak ada suara lain yang terdengar selain gemericik air dari kolam dan lantunan surah pendek yang keluar dari bibir Arsen. Untuk sejenak Laura terkesima memperhatikan gerakan salat yang sedang Arsen lakukan. Entah untuk berapa lama dia terbius oleh pesona suaminya dan sempat menyesalkan umpatannya tadi. Pantaskah dia menyebut Arsen jahat?
Kembali pikirannya melayang pada Geno. Prianya itu pasti sudah menunggunya. Ia harus bergegas jika tidak ingin lebih mengecewakan Geno.
Krcuuuuk....
Laura memegangi perutnya yang dengan lancang mengeluarkan bunyi aneh. Lapar iya, nyeri juga iya. Lapar disertai nyeri haid adalah definisi sakit berdarah yang sesungguhnya. Andai para pria paham.
Melihat pintu dalam keadaan tertutup dengan kuncinya menggantung tak berdaya, dia segera berjingkat menuju pintu. Pintu berhasil dia buka, untuk terakhir kalinya dia mengamati sekitar. Kepalanya menoleh ke belakang dan seketika tubuhnya membatu. Kenapa Arsen sudah ada di sini?
“Kamu nekat mau keluar? Sendirian?” tanya Arsen datar. Biasanya Arsen akan bicara datar lalu pada akhirnya ia tetap memaksakan kehendaknya juga. Memang sekeras itu kepalanya. Egois!
“Geno sudah lama nunggu. Aku nggak mau ngecewain dia.” Laura menjawab dengan gusar. Dirinya dilema, tetapi ia juga bingung harus bagaimana.
Arsen kecewa karena Laura nekat pergi tanpa seijinnya, “Kamu lagi sakit, kalau kenapa-napa di jalan gimana?”
Laura mengernyit.
“Perut kamu sakit, kan?”
Laura menggeleng. Arsen tahu gadisnya itu sedang berbohong.
“Kamu bawa obat?”
Laura menggeleng lagi. Arsen menghela napas panjang, ia juga tak punya persediaan obat-obatan. Sejak pindah ke rumah ini seminggu yang lalu, ia memang belum banyak persiapan.
“Jangan ngeyel!”
Krucuk…
“Laper?”
Laura mengangguk, tetapi sesaat kemudian ia menggeleng.
“Ayo ke dalam,” ajak Arsen.
“Mas makan aja sendiri.” Laura menepis kasar tangan Arsen. Mata mereka saling menatap tak mau kalah. Sebenarnya Laura merasa tidak nyaman dengan situasinya saat ini. “Aku mau makan di luar,” kata-kata Laura terjeda sesaat, “Sama Geno.”
Arsen berusaha mengulas senyum. “Mas antar.” Suaranya merendah, “Tunggu di sini, Mas ganti baju sebentar.” Arsen berbalik hendak menuju kamarnya.
“Nggak usah! Aku bisa—awh.”
Langkah Arsen terhenti lalu membalikkan tubuhnya. Ia melihat Laura yang tengah meringis dan memejamkan mata menahan nyeri.
“Mas tahu kamu mencintai Geno,” ucap Arsen setelah memapah Laura ke sofa.
“Bagus Mas tau, sssstt…,” sengitnya diakhiri desisan membuat siapapun yang melihat ekspresi itu prihatin.
“Tapi, Mas nggak bisa biarin kamu pergi sendirian, apalagi kamu lagi sakit begini. Terus, apa kata orang kalau liat perempuan bersuami makan malam berdua sama laki-laki lain?”
Laura memutar otaknya untuk membalas ucapan Arsen.
“Aku bukan artis Mas, jadi tenang aja nggak akan ada yang tahu statusku. Hmmmpf….”
Skak!
Tapi allah maha melihat, Neng. Arsen menyimpan argumennya dalam hati. Di saat seperti ini tidak etis rasanya jika ia terus mendebat Laura.
“Ya sudah terserah kamu kalau kamu tetap mau keluar sama dia. Lakukan saja sesuka kamu.”
Arsen kemudian meninggalkan Laura begitu saja. Kepala Laura yang biasanya ramai mendadak hening selepas kepergian Arsen.
Arsen marah? Atau cemburu?
Laura masih bergeming. Ia mulai mencerna kata-kata suaminya. Entah mengapa setelah mendengar ucapan Arsen ia mulai memikirkan nuraninya. Mungkinkah Arsen sudah menyerah terhadapnya? Secepat ini? Kenapa rasanya aneh, seperti ada rasa sesal tiba-tiba yang mengganjal di dadanya.
Setelah menimbang-nimbang, Laura kemudian mengambil smartphonenya lalu mengetik pesan untuk Geno. Ia harap Geno bisa memaklumi keadaannya saat ini.
Beberapa saat kemudian, Arsen kembali lagi. Ia sudah membawakan water bag hangat untuk mengompres perut Laura yang keram.
Dengan menurunkan gengsinya, Laura menerima water bag yang Arsen asongkan padanya. Saat seperti ini, Laura memang membutuhkan barang tersebut. Arsen memang tak seburuk yang ia pikirkan. Meskipun mungkin saat ini ia sedang marah padanya, nyatanya Arsen masih peduli dengan kesehatannya.
“Mas buatin teh herbal dulu ya,” ucap Arsen tanpa menoleh pada Laura.
Belum juga Laura menjawab, Arsen sudah terlebih dulu melangkah ke dapur. Seberkas senyum lagi-lagi muncul melihat kerepotan Arsen yang bisa ia lihat dari ruang tamu.