Laura baru saja terbangun dari tidurnya, tak terasa ia sudah tidur selama tiga jam. Ia merenggangkan tangannya sejenak sebelum matanya mengerjap menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima lewat dua belas. Matanya mencelos, lalu bergegas mengecek smartphonenya.
Sudah ada banyak chat masuk dari Geno. Ada juga panggilan video call darinya. Baru saja akan menghubungi Geno, lelaki itu sudah lebih dulu menghubunginya lagi.
“Hallo?”
“Iya, maaf aku ketiduran.” Laura buru-buru minta maaf setelah mendengar sapaan hangat dari Geno.
“Iya nggak apa-apa kok, santai saja.” Meskipun Geno tidak marah padanya, tetap saja Laura merasa tidak enak. Ia menggigit bibir bawahnya lantaran dirundung cemas. Ia tak iningin membuat Geno kecewa. “Hei, nggak usah pake gigit bibir segala kali Yang, it’s okay, aku nggak marah kok.”
Kening Laura mengernyit bingung, “Kok tau?”
“Tahu dong, apa sih yang nggak aku tahu dari kamu,” jawab Geno santai.
Kata-kata Geno barusan bukan merujuk ke pernikahannya, ‘kan? Laura merasa lebih cemas dari sebelumnya. Keningnya mulai terasa lembab. Refleks ia mengusapnya sekali.
“Kok diem?”
“Kamu tau semua tentang aku?” Ragu-ragu Laura bertanya.
“He’em.”
“Se-semuanya?”
“Ya enggak semuanya juga, aku bahkan masih nggak tahu ukuran beha kamu loh. Hahaha.…”
Tadinya Laura mau marah mendengar candaan Geno, tetapi kemudian ia ikut tertawa, sedikit lega. “Ih Geno kok nakal sih.”
“Bercanda Sayang, ih gemes deh. Jadi makan malam kan? Aku tunggu ya? Eh atau mau aku jemput saja?”
“Ha? Kamu tau aku tinggal di mana emang?” Lagi-lagi Laura dibuat syok.
Ada jeda sejenak dari seberang telepon, sepertinya ada kesalah pahaman. “Ya tahulah, di kos kan? Atau kamu sudah pindah kos? Kok nggak bilang-bilang?”
Laura terpekur sejenak, ia takut jika Geno sudah mengetahui perihal kepindahannya. “Ng—nggak usah … aku kan sudah bilang, aku bisa pergi sendiri. Jangan perlakuin aku kayak anak kecil lagi, plis.”
“Hahaa … iya iya….ya sudah aku tunggu ya.”
Laura beringsut dari tempat tidur sambil mengapit smartphonenya di antara kepala dan pundak sementara tangannya yang bebas mengambil wadah sabun yang sudah tergeletak di atas meja rias. Tanpa membuang waktu lagi ia meraih salah satu handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Ia mengambil handuk berwarna pink karena sudah pasti yang biru milik Arsen, ‘kan? Tidak mungkin Arsen memakai barang berwarna pink, terlalu feminim untuknya.
“Oke aku siap-siap dulu ya.”
“Nggak usah dandan ya, ntar kalo kamu tambah cantik aku takut makin banyak yang naksir. Love you.” Geno mengekeh di ujung ucapannya membuat Laura tersipu. Kekasihnya itu selalu membuatnya merasa diistimewakan.
“Iya, siap bos! Love you too.”
Laura tersenyum menatap layar smartphonenya, ada wajah mereka berdua yang sedang tersenyum lebar terpasang sebagai wallpaper. “Love you,” gumam Laura sebelum melempar smartphonenya di atas tempat tidur, beruntung lemparannya tepat sasaran.
***
Seusai mandi, Laura keluar hanya dengan mengenakan handuk. Ia memang tidak pernah membawa baju ganti ke kamar mandi.
Laura membuka lemari pakaian dan mendapati pakaiannya telah tertata rapi di sana. Bahkan ia sendiri tidak pernah bisa menata baju serapi itu. Ia sempat bertanya-tanya, benarkah Arsen yang melakukannya? Kok bisa serapi ini?
Pakaiannya tertata sangat rapi bahkan warnanya membentuk gradasi yang indah dan presisi.
Got it! Laura menemukan apa yang ia cari. Pakaian dalamnya juga tertata rapi sesuai warna di laci terpisah. Ia mendesah lesu, sudah pasti Arsen telah menyentuh semua barang keramatnya itu, rasanya ia tidak sanggup mengenakan barang yang sudah dipegang oleh pria itu. Ia merutuki dirinya kenapa tadi membiarkan Arsen menata pakaiannya. Atau setidaknya ia memperingatkan Arsen supaya tidak menyentuh barang-barang keramatnya. Merutuki kecerobohannya tidak akan mengembalikan waktu. Lagipula kenapa penyakit ngantukannya harus muncul segala sih!
Tidak ada pilihan lain selain memakainya bukan? Lagipula sudah terlanjur juga. Tidak apalah toh yang dipegang hanya pakaian dalamnya saja bukan isinya. Sekelebat bayangan tentang Arsen yang menyeringai genit tiba-tiba merangsek ke dalam pikirannya. Laura lantas menggeleng menetralisir hal yang iya-iya. Kembali ia merutuki diri, sempat-sempatnya memikirkan hal seperti itu.
Beruntung ia sudah mengenakan pakaiannya–kaos dan celana jeans–saat Arsen tiba-tiba muncul dari balik pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu. Baru saja ia akan melayangkan protes, tetapi senyum lebar Arsen sudah lebih dulu menghalanginya. Jedag jedug. Itulah yang dirasakannya hingga kata-kata protesannya hanya berakhir di ujung lidah tanpa terucap.
Untung sudah pakai baju, batinnya. Laura menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya, “Ngapain ke sini?”
“Ayo makan malam, Mas sudah masakin buat kamu.” Arsen masih berdiri bersandar di sisi kusen, dua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana training. Meski ia hanya mengenakan kaos oblong, tetap saja memesona. Namun, hati Laura tidak boleh goyah, meski ia sendiri sulit menolak pesona pria itu.
Laura menggeleng, “Aku sudah ada janji makan malam sama Geno. Dia udah nunggu di kafe.”
Arsen mengangguk seolah tak keberatan, “Oke.”
“Oke?” keningnya mengernyit, Laura menirukan jawaban Arsen. “Mas ijinin aku ketemu Geno? Serius?” tanya Laura memastikan.
“Iya, oke, lagian kenapa mesti ngelarang?”
Senyum Laura terbit secerah bulan purnama. Benar juga, kenapa Arsen harus melarangnya? “Makasih Mas.” Eh kenapa malah berterimakasih? Laura bingung sendiri dengan jalan pikirannya.
“Eh tapi Mas siap-siap dulu ya.”
“Siap-siap buat?”
“Kamu mau berangkat naik apa emang?” Arsen balik bertanya dengan suara datar.
“Taksilah,” sungut Laura tak acuh.
“Mau berangkat sekarang?” tanya Arsen lagi masih dengan suara datar.
“Iya, ini mau pesan taksi dulu.” Laura meraih smartphone yang tergeletak di atas tempat tidur. Sial, smartphonenya lowbat. Ia harus mengisi daya dulu.
“Nanggung,” ucap Arsen seraya menoleh pada jam dinding, “Udah hampir magrib, solat dulu aja. Nanti Mas anter.”
“Aku bisa pergi sendiri.”
“Kamu sudah jadi tanggungjawab Mas.”
“Mas nggak berhak ikut campur urusan pribadiku.” Laura mencari charger di tasnya lalu menyambungkan ke stop kontak tak jauh dari meja riasnya.
“Kenapa enggak?”
“Mas orang asing.”
“Mas suami kamu, kali aja lupa, mulai saat ini kemanapun kamu pergi Mas yang akan antar,” sahut Arsen tidak mau kalah.
“Aku nggak suka dikekang.”
“Bukan mengekang, tapi ini kewajiban Mas buat jagain kamu.”
“Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga.”
“Benar. Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Sekarang kamu sudah jadi istri Mas, jadi—”
“Asal Mas tau, aku masih nggak terima sama pernikahan ini ya, Mas nggak perlu merasa bertanggungjawab. Nanti kalau kak Lidya balik, Mas harus cerein aku dan balikan sama kak Lidya.”
“Maksudnya? Kamu anggap Mas ini barang?” Laura menunduk mendapati suara Arsen berubah dingin.
“Mas ini suami kamu, sah dimata agama dan hukum negara, dan tugas Mas sebagai suami adalah mengingatkan istrinya untuk bersikap sebagaimana seharusnya seorang istri. Hidup kamu sekarang menjadi tanggungjawab Mas, dosa kamu sekarang Mas yang nanggung. Sebagai seorang istri kamu harus bisa menjaga sikap. Kehormatan Mas ada sama kamu, begitu sebaliknya.”
Bersikap sebagaimana seorang istri? Bla bla bla. Laura memutar bola matanya malas. Kata-kata Arsen jelas membuatnya geram. “Nggak usah ceramahin aku, kalau Mas mau ceramah sana ke masjid saja! Aku nggak terima ya Mas kekang-kekang kebebasanku begini,” pungkasnya.
“Mas nggak mengekang kebebasan kamu, sialahkan ketemuan sama Geno. Tapi ketemuan dengan pria bukan mahrom … hanya berdua saja? Itu jelas bukan hal yang baik dan rawan timbul fitnah. Status kamu sekarang istri Mas, dan Mas tidak akan membiarkan kamu menemui laki-laki itu sendirian titik.”
“Laki-laki itu punya nama, namanya Geno Abitama!” jelas Laura dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Mas jahat!” Laura meninggikan suaranya, kakinya menghentak-hentak lantai saking kesalnya. Persis seperti anak kecil yang merajuk karena tidak mendapatkan mainan yang diinginkan.
Arsen menghela napas lalu bersistighfar. Pria bertubuh tinggi itu memilih duduk di tepi tempat tidur menunggu kumandang azan selesai. Melihat Arsen terdiam, Laura pun ikut terdiam.
“Silahkan kamu bilang Mas jahat, yang Mas lakukan ini memang demi kebaikanmu kok karena Mas sayang sama kamu. Sekarang ambil wudhu dulu, terus kita solat magrib jamaah. Nanti Mas antar ketemu sama Geno. Mas nggak bakal ikut nimbrung, anggap saja kita nggak kenal di depan Geno. Atau … anggap saja Mas supir kamu malam ini.”
Arsen berjalan melewatinya ke kamar mandi. Mata Laura dan Arsen sempat bertumbuk, dari jarak yang kurang dari satu meter itu Laura bisa menghirup aroma harum dari Arsen hingga kepalanya mengikuti gerakan Arsen, beruntung kakinya masih terpaku di lantai.
Laura menggeleng mengingatkan dirinya untuk tidak terpesona. “Mas jahat, raja tega, tukang paksa, kejam!” Laura mengumpat dengan serentetan julukan untuk Arsen.
“Katanya sayang, tapi ngekang. Suami macam apa dia,” gerutunya tak jelas.
“Kamu ngomong apa barusan, Neng?” Arsen menoleh, ia memang tak mendengar jelas gerutuannya.
“Nggak ngomong apa-apa tuh,” elaknya dengan kedua mata memicing.
Arsen tersenyum geli melihat sikap istrinya yang merajuk apalagi tadi Arsen sempat mendengar samar kalau Laura menyebutnya suami. Tak ingin ribut lebih lama, Arsen memilih masuk ke kamar mandi meninggalkan Laura yang mematung di luar dengan tatapan horor dan hidung kembang-kempis.
Neng? Laura menirukan panggilan khusus dari Arsen, bibirnya yang tadi mengerucut kesal perlahan membentuk senyuman.
Laura menatap punggung Arsen hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Sesaat kemudian terdengar suara gemericik air. Sepertinya Arsen sedang mengambil wudhu.
Sementara itu, desahan pelan keluar dari bibir Laura. Dia duduk lesu di kursi meja rias sambil menunggu smartphonenya terisi daya. Seharusnya ia marah dengan sikap keras kepala Arsen, tetapi di sisi lain, yang Arsen tunjukkan justru membuat hatinya jedag jedug.
Dengan santainya Arsen keluar dari kamar mandi diikuti oleh tatapan heran Laura yang terus mengekor hingga Arsen berhenti di depan lemari pakaian mereka. Arsen melirik ekspresi Laura tanpa menoleh, seolah tidak peduli akan keberadaan Laura. Tanpa risi, dia mulai melepaskan kaosnya hingga membiarkan dirinya bertelanjang d**a. Laura yang masih duduk mengikuti pergerakan Arsen dari cermin di meja rias sontak terkesiap, mulutnya setengah terbuka, matanya mencelos hampir melompat dari tempatnya.
Gerakan Arsen yang melepaskan kaos terlihat seperti gerakan slow motion di mata Laura hingga mengakibatkan napasnya tercekat. Seksi. Begitu tersadar akan apa yang dilihatnya, ia pun segera mengalihkan pandangannya ke ujung jari-jari mungilnya. Dan tanpa sepengetahuannya, Arsen tengah tersenyum kecil menatapnya yang salah tingkah.
Laura mengetuk keningnya pelan saking salah tingkahnya. Fiks, matanya ternoda, pikirannya kotor! Arsen sialan! Laura membatin sambil terus merutuki kebodohannya.
Namun, tidak dipungkiri jika suaminya itu memang memiliki apa yang sering teman-temannya bicarakan. Roti sobek, dan Laura menyukai pemandangan itu.
Boleh gigit nggak sih, dikit aja, astaghfirullah Laura…. Laura menepuk-nepuk kedua pipinya. Istighotsah Lau, eh istighfar Lau, ini otak kenapa sih?! Laura dongkol dengan pikirannya sendiri.
Sadar dirinya sedang menjadi objek pemandangan, Arsen melirik istrinya yang semakin menunduk berpura-pura menghitung jari-jarinya. “Jangankan ngeliatin, pelukin Mas juga boleh kok Neng. Nggak perlu sungkan apalagi harus curi-curi pandang begitu. Mas punyanya Neng Laura seorang loh.” Arsen mengekeh penuh kemenangan sementara wajah Laura sudah serupa udang rebus, amboy merahnya.
Sudah genit, tukang gombal pula! sengit Laura dalam hati, ia masih tidak berani menoleh lantaran wajahnya yang sedang tak bersahabat.