Arsen merasa bersalah melihat Laura yang mulai merajuk dengan lelehan air mata di pipinya. Padahal ia hanya ingin sedikit mengajari gadis itu sopan santun. Setidaknya ia harus menyematkan kata 'tolong' jika meminta sesuatu. Tak ingin berlarut-larut apalagi melihat Laura menangis, Arsen pun segera beranjak menghampiri Laura.
“Oke, ayo ke atas, kamarnya ada di atas,” ajak Arsen. Tak lupa ia menyeret dua koper besar milik sang istri.
“Rumah ini sekarang rumah kamu juga. Besok Mas ajak kamu keliling rumah ini.” Arsen kembali bersuara. Rupanya Arsen sudah kembali menjadi Arsen yang cerewet. Laura mengusap kasar pipinya dengan perasaan yang sedikit lega. Ia lebih suka Arsen yang cerewet daripada Arsen yang kaku dan otoriter. Laura pernah mendengar tentang kepribadian ganda, tetapi ia belum pernah bertemu orang yang mengalaminya. Mungkinkah Arsen salah satu pengidap kepribadian ganda?
“Di taman belakang masih ada lahan kosong, kamu bebas mau menambahkan apapun di sana. Rumah ini memang belum sepenuhnya selesai pengerjaannya. Mas sengaja belum menyelesaikan karena menunggu pendapat nyonya rumah. Alhamdulillah sekarang sudah ada nyonya rumahnya.”
Diam-diam Laura menyimak kata terakhir yang Arsen ucapkan, ‘nyonya rumah’ yang Arsen maksud pastilah Lidya atau setidaknya seharusnya Lidya. Ada setitik perasaan sedih di hatinya, tetapi buru-buru Laura buang.
“Rumah ini sekarang jadi rumah kamu juga.” Arsen berkata seraya menatap wajah Laura. “Sudah ya, jangan nangis lagi, jangan marah lagi. Maaf ya, tadi Mas bercandanya tidak lucu.”
What? Bercanda? Laura tergelitik sekali mendengar pengakuan Arsen, suaminya itu jelas tidak memiliki bakat menjadi seorang comedian. Bercandanya… cringe!
“Rencananya sih Mas pengin bikin kolam renang di sana,” Arsen menunjuk bagian belakang rumah, “Tapi Lidya--” Arsen buru-buru menghentikan ucapannya. Ia seperti merutuki dirinya yang kelepasan bicara, tidak seharusnya ia membahas Lidya.
Laura tahu kalau kakaknya itu memang tidak suka berenang. Ia pernah hampir tenggelam saat mengajari Laura berenang. Sejak saat itu Lidya menjadi phobia air kolam, danau, sungai, apalagi laut. Ia bahkan takut pergi ke pantai. Tiba-tiba Laura merasa begitu emosional terhadap dirinya. Seharusnya ia tidak memaksa kakaknya mengajarinya berenang.
“Kak Lidya berhenti berenang karena aku. Salahku,” cicit Laura. Arsen berhenti berjalan lalu menoleh pada Laura yang ikutan berhenti.
“Maksud kamu?”
Laura terdiam, Arsen paham ia enggan menjelaskan. “Neng butuh istirahat, ayo….”
***
Bagi kebanyakan perempuan, mungkin menikah dengan pria tampan, mapan dan pengertian adalah segalanya. Namun tetap saja bagi Laura, itu tidak sebanding dengan pengorbanannya. Ia sudah terlanjur mencintai orang lain dan harga dirinya tidak bisa dibeli dengan harta yang Arsen miliki. Lagipula Arsen tidak lebih dari sebuah mainan yang harus ia kembalikan pada pemiliknya ketika sang pemilik kembali.
Laura mengikuti Arsen menaiki tangga, sesekali Arsen berhenti dan menoleh. Laura mendengus pelan. Matanya melirik sebal.
“Ini kamar kita.” Arsen membuka pintu kayu mahoni itu dengan antusias. Belum banyak ornament yang ia pasang di dinding kamarnya, hanya sebuah jam dinding yang bertengger di dinding berukuran lebar enam meter.
“Kamar kita? Sudah aku bilang aku nggak mau tidur sekamar sama Mas. Mas ngerti nggak sih, aku mau kamar lain.” Mata Laura menatap pintu ruangan di sebelah ‘kamar mereka’. “Aku mau tidur di kamar itu saja,” tunjuk Laura yang diakhiri gerakan menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap. Matanya sudah setengah mengantuk.
“Kamu yakin? Itu bukan kamar loh. Itu ruang kerja.”
“Masa?” Laura mendecakkan lidahnya, “Pasti akal-akalan Mas aja biar kita tidur sekamar. Ngaku!”
“Buka aja kalau tidak percaya.” Arsen memberi kode dengan menggerakan dagunya ke kamar sebelah mempersilakan Laura untuk memeriksanya.
Benar saja ruangan itu adalah ruang kerjanya. Tidak ada apapun selain meja kerja yang di atasnya tidak ada barang apapun bahkan mungkin setitik debu pun enggan bertengger, satu set sofa dan beberapa lemari penuh buku. Mungkin Arsen memang suka membaca, pikir Laura.
Begitu menoleh pada Arsen yang menungguinya di depan pintu ‘kamar kita’, gadis itu menekuk wajahnya, hidung mungilnya kembang kempis menahan kekesalan.
“Kamar lainnya?”
“Ada di bawah.” Arsen memberi tanda menggunakan ibu jarinya.
“Ya sudah aku tidur di bawah saja.”
“Hm oke, tapi tidur di lantai ya soalnya ruangan itu masih berantakan. Belum ada tempat tidurnya juga. Masih dipesan, paling adanya bulan depan soalnya custom,” beber Arsen.
“Banyak alasan,” desis Laura dengan wajah yang semakin ditekuk. Sekali lagi ia menutup mulutnya.
“Mas bukannya banyak alasan, memang kamar lainnya masih tahap renovasi Neng. Kalau nggak percaya Neng bisa cek sendiri. Ada tiga kamar di bawah. Neng pilih saja mana yang mau ditempati. Tapi nanti Neng tidurnya di lantai, pake karpet, terus ACnya juga belum dipasang, mau?” Arsen bersiap mengantar Laura ke bawah.
Lelah dan mengantuk membuat moodnya semakin merosot. Ditambah harus turun tangga dan mengecek kamar ke lantai bawah? Akan semakin membuatnya lelah. Laura mengucek matanya yang sudah sangat mengantuk.
“Sudah dong jangan manyun terus. Yuk istirahat aja.” Arsen menggiring tubuh Laura masuk ke ‘kamar kita’. Tidak ada pilihan lain selain menurut. Ia butuh istirahat supaya wajahnya segar saat bertemu dengan Geno nanti.
Laura sempat menilik jam tangannya sebelum masuk dan mendapati sudah pukul dua sore, ia harap tidak akan ketiduran dan bangun pukul empat supaya bisa bersiap-siap. Urusan kamar bisa dibicarakan lagi besok, pikir Laura.
“Awas kalau Mas macam-macam!” acam Laura sambil menatap Arsen sengit lengkap dengan tatapan membunuhnya. Arsen pernah melihat jenis tatapan seperti itu sebelumnya, itu artinya Laura serius dalam ucapannya.
“Iya Mas tidak akan macam-macam kok, pokoknya dijamin aman.”
Laura mengangguk, ia berharap jawaban Arsen bisa dipertanggungjawabkan.
Mata Laura langsung berbinar begitu melihat tempat tidur berukuran king size dengan sprei putih yang nyaman, Laura langsung menghambur ke atasnya tanpa memedulikan Arsen yang melongo melihat tingkahnya. Kepala Laura memang terasa berat lantaran mengantuk ditambah tekstur kasur Arsen yang lembut membuatnya semakin jatuh ke alam mimpi. Sebut saja Laura pelor (nempel langsung molor).
Sekilas Arsen memperhatikan Laura yang sudah tidur tengkurap di kasur. Hanya butuh kurang dari satu menit bibir Arsen tersenyum kecil mendengar dengkuran halus sang istri.
“Dasar pelor,” gumam Arsen seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Arsen membuka satu per satu koper Laura. Dengan telaten ia mulai menyusun satu persatu baju Laura ke lemari. Ia memisahkan antara baju atasan dan koleksi celana jeansnya. Sedikit heran melihat koleksi pakaian Laura. Meskipun ia berasal dari keluarga kaya, tetapi Arsen tidak menemukan satupun pakaian bermerk. Berbeda sekali dengan Lidya yang selalu tampil fashionable mengenakan berbagai brand kenamaan dari luar negeri. Dibanding Lidya, selera fashion Laura terbilang sangat biasa.
Mata Arsen menelisik satu box plastik transparan berisi pakaian dalam milik Laura. Tingkahnya kini berubah seperti maling jemuran yang takut ketahuan mencuri. Arsen menoleh pada Laura, gadis itu tampak terlelap masih dalam posisi tengkurap dan hampir tidak ada pergerakan berarti darinya. Perlahan Arsen membuka resleting box tersebut sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik. Isinya cukup banyak dengan underwear berbagai model dan warna. Dengan hati-hati ia meletakkan barang-barang keramat itu ke dalam laci lemarinya. Sengaja ia pisahkan supaya lebih mudah mencarinya.
Pikiran pria normal seperti Arsen sudah tentu mengawang ke hal yang iya iya. Iseng, Arsen sengaja mengecek ukuran bra milik istrinya. Ukurannya membuat jakunnya bergerak naik-turun. Tak mau berlarut-larut dalam pikiran nakalnya, Arsen memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang menguji imannya itu dan bergegas keluar dari kamar.
Sekilas ia memperhatikan Laura yang entah kapan sudah tidur terlentang. Pandangannya tertuju pada pemandangan indah di mana kaos yang Laura kenakan sedikit tersingkap hingga memamerkan perut ratanya.
Arsen langsung menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran apapun yang sempat melintas di benaknya.
“Tidak Arsen, jangan mengacau sekarang,” ingatnya pada diri sendiri.
Gadis yang dua tahun lalu itu ia kenal sudah bertransformasi menjadi gadis cantik dengan tubuh ramping. Ia ingat saat pertama kali Lidya mengenalkannya pada Laura, gadis itu memiliki tumpukan lemak di mana-mana dan sangat pemalu. Sifat pemalunya memang masih melekat padanya, tetapi perubahan fisiknya sangat menakjubkan.
***
Mengingat persediaan makanan di kulkas sudah menipis, Arsen berinisiatif pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang mudah ia olah.
Jarak dari perumahannya menuju supermarket hanya membutuhkan waktu sepuluh menit menggunakan mobil. Setelah memarkirkan mobilnya, Arsen bergegas mengambil troli belanjaan yang telah berjejer rapi di depan supermarket sebelum langkah kakinya terhenti karena melihat seseorang juga mengambil troli yang sama. Tangan mereka nyaris saling bertubrukan.
“Sorry, er … Arsen?” Perempuan berusia sekitar 30an terlihat terkejut sekaligus sumringah saat bertemu Arsen. Demikian juga dengan Arsen, ia begitu senang bertemu dengan perempuan berkulit kuning langsat khas Indonesia.
Meskipun perempuan di hadapan Arsen mengenakan masker, ia masih tetap bisa mengenalinya. “Ika? Wow kamu apa kabar? Udah lama ya kita nggak ketemu. Gila sih, gue perhatiin di infotainment kamu sibuk banget kayaknya, tiap bulan ngeluarin film baru.”
Perempuan manis yang Arsen sapa dengan nama Ika tersebut menjabat tangannya. Ada sedikit rasa canggung ketika hendak menjabat tangan Arsen, tetapi ia segera mengubah ekspresi wajahnya. “Lebay lo, nggak tiap bulan juga kali. Bisa tipes gue syuting mulu. Itu film syutingnya udah lama kok. Lagian lo sih sibuk pacaran mulu, lupa sama temen sendiri, tega lo. Lo sendiri gimana kabar?”
“Ya masih hidup, alhamdulillah.” Arsen menjawab seadanya.
Ika memutar bola matanya, ia sudah hafal dengan jawaban nyeleneh Arsen. “Ya nggak salah sih, lo emang masih hidup. By the way, lo sendirian aja Sen? Majikan lo mana?” tembak Ika seraya memperhatikan sekitar dan tak menemukan siapapun.
Arsen hanya mengedikan bahu tak menjawab pertanyaan Ika. Wajah Ika pun berubah cemberut karena rasa penasarannya tak terpenuhi. “Bukannya kemarin lo abis kawin ya?” tanya Ika seraya tersenyum tipis, nyaris seperti dipaksakan.
“Aishhhh kata-kata kamu vulgar banget. Ya gimana ya, males juga gue ceritanya. Kapan-kapan ajalah gue ceritain. Ini gue lagi buru-buru mesti belanja,” terang Arsen berusaha mengalihkan pembicaraan tersebut.
Senyum terpaksa di bibir Ika semakin lebar, “Ah elah, pengantin baru mah harusnya honey moon, ini satu aneh bener dah. Segala pake belanja, sendirian pula. He … hehe ….” Ika setengah mencibir seraya menarik satu troli yang kemudian disusul Arsen yang terdengar mengekeh di belakangnya, canggung.
Bagi Arsen, candaan yang Ika lontarkan dengan spontan adalah hal biasa. Mereka memang sudah kenal sejak bangku SMA.
“Ka, gue liat di infotainment kamu katanya abis sakit ya?” Arsen kembali membuka obrolan di tengah-tengah mereka memilih buah.
Ika menoleh sesaat sebelum kemudian meletakkan sebuah melon berukuran sedang ke dalam troli belanjaan. “Cuma kecapean aja Sen. Kan gue sehabis pulang dari Singapur langsung lanjut syuting lagi, nah karena kurang istirahat makanya ngedrop deh. Ya gitulah, infotainment kita suka melebih-lebihkan berita. Oh iya, ini kita dari tadi barengan mulu. Ntar ada yang maraaaah … gue males berurusan sama bini lo ya Sen.”
“Apaan sih Ka, santai aja. Kamu kali yang takut Ugo marah tuh,” ledek Arsen. “Eh gimana kabar Ugo?” tanya Arsen seraya mengikuti Ika menuju produk makanan kaleng.
Ika melirik Arsen penuh arti, sesaat kemudian mengalihkan pandangan. “Hem…. Lo kayaknya udah jadi mas-mas pecinta gosip deh Sen. Cocok jadi host insert tau.”
“Lah kok? Kan aku nanya sebagai sahabat. Emang nggak boleh ya?” tanya Arsen.
Ika tampak canggung, hingga membuatnya salah tingkah sampai memasukkan banyak kaleng sarden ke trolinya.
Melihat ulah sahabatnya yang terlihat janggal, Arsen pun berkomentar, “Kamu beli sarden segitu banyak buat apa? Kamu kan nggak suka ikan?”
Sadar aksinya mengundang tanya, Ika pun tersenyum kecil. “Ih siapa bilang, sekarang gue suka ikan tau. Hehe… he….” Ika tertawa canggung. “Fyi, gue sama Ugo udah lama putus, sekarang gue jomlo he… hehehe…. Udah ah, gue mau belanja sendiri aja. Lama-lama bareng lo berasa kayak lagi diintrogasi wartawan gosip! Duluan ya, bye!”
“Eh enggak gitu juga Ka … tungg—” Ucapan Arsen terhenti begitu saja saat melihat Ika melambaikan tangan pertanda ia tak ingin diganggu. Saat itulah tiba-tiba terbersit rasa bersalah di hati Arsen. Ia menyadari sesuatu, wajah Ika tampak pucat dan selalu menghindari tatapan matanya ketika bicara.
Arsen mau tak mau ikut melambaikan tangan namun yang ia rasakan seperti sedang melakukan ritual perpisahan, perpisahan untuk selamanya. Apakah status begitu mengubah arti persahabatan?