Hari kedua pernikahannya, Arsen memboyong Laura ke rumah yang sudah ia siapkan. Meski kesal karena kepindahannya yang mendadak, Laura toh tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Arsen karena memang sudah menjadi kewajiban istri mengikuti suami. Apalagi mengingat jarak tempat kerja Arsen yang juga menjadi tempatnya berkuliahnya memang lebih dekat dari rumah baru mereka. Mau tidak mau Laura harus mengalah.
“Pokoknya aku nggak mau ya tidur sekamar sama Mas!” sentak Laura begitu sampai di rumah baru mereka. Arsen memang sudah memiliki rumah sebelum menikah. Tidak semewah rumah orangtua Laua, tetapi rumah di kawasan elit ini tetap saja bukan rumah murahan. Harganya sangat fantastis mengingat lokasinya di tempat strategis. Laura ingat, Lidya sendiri yang memilih lokasi tersebut untuk membangun istananya.
Laura mengamati setiap sudut rumah Arsen yang sudah menjadi rumahnya juga. Ia tidak berkomentar apapun dan terkesan tak acuh. Padahal dalam hatinya ia dibuat takjub. Lantai marmer yang dia injak sangat berkilau, ia bahkan bisa bercermin di sana.
“Kamu pasti capek, duduk dulu ya, Mas ambilin minum,” ucap Arsen tanpa memedulikan protesan Laura.
Sok tau. Laura merotasikan bola matanya jengah. Sebenarnya gadis itu bergidik setiap kali mendengar Arsen menyebut dirinya dengan panggilan Mas. Mas? Mas? Apa tidak salah itu? Di mata Laura, pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu lebih pantas dipanggil ‘Om’ lantaran perbedaan usia mereka hampir dua belas tahun.
“Aku nggak mau air putih. Bikinin jus!” Laura menolak dengan tegas. Arsen mengulum senyum lalu mengangguk patuh. Laura tertawa dalam hati melihat sikap Arsen bak kerbau dicucuk hidungnya. Entah apa yang ayahnya katakan pada Arsen pagi tadi yang membuat sikap Arsen berubah drastis dari seorang yang suka nyuruh-nyuruh kini bisa sesabar itu menghadapinya.
Lihat saja, alih-alih marah karena diperlakukan kasar, Arsen justru semakin melembutkan sikapnya dan berusaha menyenangkan hati Laura. Laura semakin yakin kalau ia bisa berbuat semaunya pada Arsen. Tawa jahat membahana di dalam hatinya. Salah sendiri mau menikahinya. Demi apa? Demi gengsi keluarga. Dalam hatinya, Laura sudah bertekad untuk memperbudak suaminya itu. Orangtuanya bisa saja menumbalkannya untuk menyelamatkan reputasi keluarga, tetapi Laura juga bisa berbuat seenaknya selama orangtuanya tidak tahu.
Bagaimanapun juga, Laura masih menganggap dirinya sebagai korban. Jadi jangan salahkan jika Laura bersikap kasar. Anggap saja itu sebagai bentuk protes karena tidak bisa melawan kehendak keadaan.
“Kamu mau jus apa? Jeruk, jambu, apel, alpukat—”
“Jambu. No sugar,” potong Laura tanpa menoleh pada Arsen. Ia masih berkutat pada smartphonenya dan diam-diam, melalui ekor matanya, Laura melihat seberkas senyum terbit di bibir Arsen. Ck, dia tersenyum?
“Ya sudah, Mas buatin dulu. Kamu tunggu sebentar ya,” sahut Arsen lembut sebelum berlalu ke dapur.
“Hm,” balas Laura enggan.
Menikah di usia yang terbilang muda membuat Laura didera kekhawatiran, ia belum siap mental. Apalagi ia masih kuliah dan inginnya bersenang-senang. Namun, hanya karena akad sialan itu, keadaan hidupnya berubah drastis. Andai kakaknya tidak kabur di hari pernikahannya, tentu sekarang hidupnya masih baik-baik saja.
Laura menatap layar smartphonenya lalu mengetik satu nama di kontaknya, Geno. Sejauh ini Arsen tidak melarangnya berhubungan dengan laki-laki itu. Laura lantas mendial nomor Geno, lalu terdengar jawaban di dering kedua.
“Sayang ... I miss you,” ucap suara di seberang telepon.
“Sama, aku juga kangen banget,” balas Laura manja.
“Nanti malam jadi kan?” Setelah pagi tadi Laura terpaksa membatalkan janji temunya dengan Geno karena harus berkemas, mereka sepakat untuk bertemu malam ini.
“Ja-jadi kok,” jawab Laura terbata. Sebenarnya ia bingung karena tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Geno nanti. Ia tidak ingin mengecewakan laki-laki yang sudah membantunya saat keadaanya terpuruk, tetapi ia juga tidak ingin menyimpan kebohongan.
“Hallo, Lora? Are you okay?” tanya Geno saat mendapati Laura teriam cukup lama.
“Iya, aku baik kok. Gi—mana?” Laura membetulkan posisi duduknya. Sesekali ia menggigit bibir. Entah bagaimana cara ia menemui Geno nanti malam.
“Nanti malam aku jemput kamu di kos ya?”
“Eh em kita ketemu langsung di kafe aja gimana?”
“Malam-malam bahaya kalau kamu pergi sendiri, aku jemput aja ya Sayang….”
Masalahnya Laura sudah tidak tinggal di kos. Laura menggigit bibir bawahnya karena cemas yang menyeruak. “Gen kita ketemu di kafe saja ya, aku naik taksi online, aman kok,” keukeuh Laura. Sekali lagi Laura meyakinkan Geno.
“Serius? Aku khawatir loh ini Ra.”
“Don’t worry Sayang, kebiasaan deh kuatiran gitu. Aku bisa kok pergi sendiri. Percaya deh sama aku. Aku kan bukan anak kecil. Hehee…. Lagian kamu pasti sibuk deh ngurus kafe begitu. Nanti malam kamu manggung juga, ‘kan?”
“Aku suruh supirku jemput gimana?”
“Nggak usah!” refleks Laura, suaranya meninggi.
“Oke… oke, ya sudah nggak apa-apa, tapi inget pake jaket biar nggak masuk angin ya.” Akhirnya Geno mengalah.
“Iya, iya, sampai ketemu nanti ya.”
“Tapi pulangnya harus mau aku antar loh ya….”
“Iya, iya… bawel.”
“Kamu juga bawel Sayangku.”
“He… hehee…, kan kadang-kadang doang. Ya sudah bye bye Sayang. See ya! Love you much!”
Laura menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa sembari mengembuskan napas kasar. Bahunya sedikit merosot akibat frustasi yang dirasakan.
Sakin fokusnya, Laura sampai tidak sadar kalau suaminya sudah duduk di sebelahnya dan mungkin mendengar obrolannya tadi. Namun, mungkin saja tidak, karena Arsen tidak menanyakan apapun.
“Ehm.” Laura menoleh pada Arsen, tatapan matanya langsung mengarah pada segelas jus yang Arsen sorongkan padanya. “Jus jambu, no sugar. Ayo diminum, Mas udah ribet-ribet bikinnya loh.”
Alis Laura bertaut, “Ribet?” Laura menirukan kata yang menurutnya mengganggu.
“Eh, bukan begitu maksud Mas, Mas belum pernah bikin jus jadi rada bingung cara nyalain blandernya tadi,” jelas Arsen seraya menyengir menampakkan deretan gigi putihnya. Tampan. Laura segera mengenyahnya pikirannya. Bisa-bisanya ia malah memuji Arsen di saat seharusnya ia bersikap tak acuh.
Ck, nyalain blender saja tidak bisa! Laura mengangkat sebelah alisnya, “Bilang aja nggak mau bikinin jus. Nggak usah sok baik deh.”
Arsen hanya tersenyum kecil, tidak ada sedikitpun raut kesal yang tersirat di wajahnya. Setidaknya jika Laura melihat wajah Arsen merasa bersalah, itu akan lebih baik. Namun, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
“Oh iya, kamu pasti capek kan? Setelah minum jus, kamu istirahat ya. Nanti biar Mas yang beresin baju-baju kamu.” Suara Arsen tiba-tiba berubah tegas, tatapannya jatuh pada dua koper yang teronggok di ruang tamu.
Ck, sepertinya Arsen tidak berminat dengan perdebatan, buktinya ia justru mengalihkan topik pembicaraan mereka. Laura memutar bola matanya, lagi-lagi ia dibuat kesal kuadrat. Pantas saja kakaknya kabur di hari pernikahannya, mungkin karena sikap otoriter Arsen. Luara pun beringsut untuk menjauh dari Arsen tanpa berminat meneguk jusnya.
Arsen meletakkan gelas jus di atas meja sebelum mencekal tangan Laura ketika gadis itu hampir beringsut dari duduknya.
“Apaan sih Mas, lepasin.” Laura berusaha menghempaskan tangan Arsen yang menahannya, tetapi cekalan ditangannya justru semakin kuat.
“Sakit Mas … lepppas,” rengek Laura. Ini kenapa Arsen jadi kasar sih? sungut Laura dalam hati.
Tak mengindahkan rengekan Laura, Arsen menarik tangannya untuk kembali duduk namun di luar dugaannya, tarikan tangannya yang terlampau kencang justru membuat tubuh gadis itu terjerembab dan duduk tepat di pangkuan Arsen dengan kepala Laura berada tepat di dadanya.
Detak jantung Laura yang semula berdentum cepat karena kesal, kini berubah aneh. Ada sesuatu yang berdesir di dadanya yang perlahan menjalar ke wajah hingga membuat pipinya terasa memanas. Blushing.
Tak berbeda jauh dari Laura, Arsen pun mendadak canggung dengan posisi mereka kini. Dadanya berdebar-debar, mungkin Laura bisa mendengarkan betapa kerasnya debarannya jantungnya. Dan entah bagaimana kedua tangannya sekarang sudah melingkar di perut Laura. Sadar akan keadaannya, Arsen kemudian berdehem guna mengurangi suasana aneh diantara mereka.
“Ehm, oke Mas bakal lepasin kamu kalau kamu sudah minum jusnya,” ucap Arsen berusaha terdengar biasa saja. “Mas sudah buat dengan susah payah, setidaknya kamu bisa menghargai sedikit usaha Mas,” lanjutnya seraya mengambil gelas yang ada di meja depan sofa lalu menyorongkannya pada Laura.
Mata Laura terbelalak tidak percaya Arsen bisa berkata seperti itu dan jangan lupa, hanya karena segelas jus Arsen menahan tangannya cukup keras hingga ia berakhir di pangkuannya!
Tidak ingin terjadi keributan, Laura terpaksa meneguk setengah jusnya. “Nah begitu atuh, nurut sama suami.”
Bukannya Laura yang seharusnya menyiksa Arsen namun justru lelaki itu sudah lebih dulu bermain kasar padanya, mengintimidasi dan berlaku otoriter. Tak hanya wajahnya yang memanas, namun matanya juga terasa panas, ingin sekali ia menangis namun kalau ia lakukan, sama saja membuat dirinya semakin terlihat lemah di mata Arsen, dan laki-laki yang sekarang sedang memangkunya itu pasti akan semakin sewenang-wenang padanya.
Pantas saja kak Lidya kabur dari pernikahan sialan ini! Arsen sangat keras kepala, rutuk Laura lagi.
Laura menyorongkan gelas jusnya pada Arsen tanpa menoleh. “Aku sudah meminumnya, terimakasih,” ucap Laura menahan tangis, kemudian beringsut dari pangkuannya. Melihat Laura begitu kesal membuat Arsen merasa bersalah. Namun, siapa yang menduga hal itu akan terjadi, anggaplah itu kecelakaan.
“Dasar tukang paksa!” gumamnya masih tak terima sembari mengelus pergelangan tangannya yang terasa sedikit perih. Arsen yang mendengar gumamannya tersenyum simpul.
Baru tiga langkah berjalan, langkah Laura terhenti lalu menoleh pada Arsen yang masih duduk santai di sofa. Kembali matanya dibuat terkesiap melihat sikap Arsen, suaminya itu sedang menghabiskan jus jambunya dengan sengaja minum dari bekas bibirnya.
Merasa sedang diperhatikan, Arsen yang masih menenggak jus sedikit melirik ke arah Laura. Ia sepertinya tahu apa yang membuat Laura menatapnya horor. “Mubadzir kalau tidak dihabiskan,” ucap Arsen santai setelah menandaskan isi gelasnya.
Laura berdecak. Bisa-bisanya lelaki itu bersikap santai setelah ia melakukan ka-de-er-te padanya! “Tunjukkin kamar aku!”
Laura tidak mengerti kenapa Arsen tidak juga beranjak dari duduknya, apa perintahnya kurang jelas atau telinga Arsen perlu dibersihkan? Malah ia terkesan cuek. Arsen hanya mendongak, sepertinya tidak berniat menyahut. Lihat kan? Sekarang laki-laki yang sehari yang lalu resmi mempersuntingnya itu mulai menunjukkan sifat aslinya. Benar-benar menyebalkan! Laura menhentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang marah karena kemauannya tidak dituruti.
“Jahat!” geram Laura dalam hati. “Aku capek. Mau istirahat.” Laura menambahkan penekanan pada setiap katanya tetapi tidak juga membuat Arsen beranjak dari duduknya. Ia justru mendapat tatapan aneh yang membuat tubuhnya membeku sesaat dengan degup jantung yang semakin tak menentu. Tatapan Arsen sangat berbeda, tidak ada intimidasi, hanya tatapan datar namun sulit diartikan.
“Mas, tolong tunjukkin kamarnya, aku capek,” rengek Laura sekali lagi, kali ini air matanya sudah jatuh dari pelupuk.
Arsena Pranata. Seorang dosen psikologi yang memiliki sifat aneh. Ia bisa bersikap lembut bak malaikat, tetapi detik berikutnya sifatnya bisa berubah sejahat setan. Laura harus menangis sesunggukan sebelum akhirnya Arsen beranjak dari duduknya.