Kedai teh di sudut jalan belum terlalu ramai ketika Athena datang. Ia memilih meja yang biasa ditempati Archen, lalu memesan teh hijau untuk lelaki itu dan cokelat panas untuk dirinya sendiri. Lima menit kemudian Archen muncul dengan jaket hitam dan wajah yang kurang tidur.
"Lo gak tidur semalam?" tanya Athena.
"Tidur."
"Berapa jam?"
"Dua."
"Itu bukan tidur, Sen. Itu merem sebentar."
Archen tersenyum tipis. Omelan Athena justru membuat suasana yang tegang menjadi sedikit lebih ringan.
Setelah minuman datang, Archen tidak langsung berbicara. Ia memandangi uap dari cangkir. Athena membiarkan keheningan tinggal di antara mereka tanpa buru-buru mengisinya.
"Lo takut sama gue setelah tahu semuanya?" tanya Archen akhirnya.
"Gue takut waktu motor lo hampir keserempet."
"Maksud gue, soal keluarga gue."
Athena menggeleng. "Gue sedih karena lo harus ngalamin itu. Tapi gue gak takut sama lo."
"Bokap gue pembunuh."
"Kesalahan papa lo bukan identitas lo."
"Orang-orang gak selalu mikir begitu."
"Gue bukan orang-orang."
Jawaban itu sederhana, tetapi berhasil menembus pertahanan Archen. Selama ini ia selalu mengira seluruh dunia akan menilai dirinya dari nama Teriyanto. Padahal Athena duduk di hadapannya dan tetap memandang Archen sebagai Archen.
"Gue juga mau minta maaf," lanjut Athena. "Kemarin gue bilang bakal selalu ada. Kedengarannya kayak janji besar banget. Gue gak tahu masa depan bakal gimana, tapi sekarang kalau lo butuh teman cerita, gue mau dengerin."
Archen menghargai perubahan kalimat itu. Athena tidak menjanjikan sesuatu yang mustahil. Ia menawarkan kehadiran yang nyata hari ini.
"Makasih, Na."
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Kalau naik motor jangan melamun lagi. Gue masih mau hidup panjang."
Archen tertawa. Itu tawa pertamanya setelah berhari-hari.
Percakapan mereka kemudian beralih pada hubungan yang selama ini menggantung. Athena teringat perkataan Dean. Ia ingin kejelasan, tetapi tidak mau memanfaatkan kerentanan Archen untuk mendapat jawaban.
"Sen, gue boleh tanya satu hal? Lo gak harus jawab sekarang."
"Tanya aja."
"Kita ini apa?"
Archen terdiam. Pertanyaan tersebut sudah ia duga, tetapi tetap sulit dijawab. Ia menyukai Athena, bahkan mungkin lebih dari kata suka. Namun pacaran berarti membuka pintu bagi kemungkinan kehilangan.
"Gue sayang sama lo," kata Archen pelan. "Tapi gue belum tahu apa gue bisa jadi pacar yang baik."
Pipi Athena memanas mendengar pengakuan pertama itu. "Gue juga sayang sama lo. Tapi gue gak minta lo jadi sempurna."
"Gue perlu waktu."
"Oke."
"Lo gak marah?"
"Kecewa sedikit boleh?"
"Boleh."
"Yaudah, gue kecewa sedikit. Tapi setidaknya sekarang gue tahu perasaan lo."
Mereka sepakat untuk saling mengenal dengan jujur tanpa memberi status terburu-buru. Archen berjanji tidak memperlakukan Athena seperti pasangan saat nyaman lalu menjauh tanpa penjelasan ketika takut. Athena juga berjanji mengatakan jika ketidakjelasan itu mulai menyakitinya.
Saat keluar dari kedai, mereka bertemu Sarah yang sedang membeli teh untuk dibawa pulang. Sarah langsung menangkap perubahan suasana di antara keduanya.
"Wah, gue ganggu kencan nih?" godanya.
"Bukan kencan," jawab Athena terlalu cepat.
Archen justru berkata, "Hampir."
Athena menoleh tajam, sedangkan Sarah tertawa keras. Archen tampak puas berhasil membuat Athena salah tingkah.
Di sekolah setelah liburan, perubahan lain menunggu. Jessie datang tanpa dua gadis yang biasanya mengikutinya. Ia menghampiri meja seorang siswi kelas sebelas yang pernah dipermalukan karena seragamnya kusam. Jessie meminta bicara secara pribadi.
"Gue mau minta maaf soal waktu itu," katanya. "Gue gak punya alasan buat ngomong begitu."
Siswi itu menatapnya curiga. "Ini konten? Temen lo lagi rekam?"
"Enggak." Jessie menunjukkan kedua tangannya dan saku kosong. "Lo gak harus maafin gue."
Permintaan maaf tersebut tidak diterima. Siswi itu pergi begitu saja. Jessie menahan malu dan tidak mengejarnya.
Kheanu yang melihat dari kejauhan menghampiri saat bel berbunyi. "Gimana?"
"Dia gak maafin gue."
"Ya memang hak dia."
"Gue tahu. Tapi sakit juga."
"Bagus. Berarti lo belajar kalau perbuatan punya akibat."
Jessie mendelik. "Lo selalu begini kalau menghibur orang?"
"Gue bukan badut."
Hari-hari berikutnya Jessie meminta maaf kepada beberapa orang. Ada yang menerima, ada yang mencibir, dan ada yang menuduhnya mencari perhatian. Perubahannya tidak langsung dipercaya. Dua teman yang selama ini menjadi dayang-dayangnya juga menjauh ketika Jessie berhenti membelikan makan siang.
Di sisi lain, Athena menceritakan percakapannya dengan Archen kepada Dean. Dean tidak sepenuhnya puas.
"Jadi kalian saling sayang tapi belum pacaran? Ribet banget."
"Setidaknya kami jujur."
"Asal jangan lo doang yang nunggu."
Athena memahami kekhawatiran sahabatnya. Ia juga tidak berniat menunggu tanpa batas. Namun untuk sekarang, pengakuan Archen cukup memberinya arah.
Kheanu mendengar bagian akhir percakapan mereka ketika datang ke kelas. Kata saling sayang terasa seperti benda berat yang jatuh tepat ke dadanya. Ia tersenyum seperti biasa, melempar lelucon, lalu duduk di bangkunya.
Kheanu sudah lama tahu Athena menyukai Archen. Mengetahui tidak sama dengan siap mendengar kepastiannya.
Hari itu Archen juga menceritakan percakapan di kedai kepada Tira. Sang tante menahan diri agar tidak bersorak ketika mendengar Archen dan Athena saling mengakui perasaan.
"Jadi kalian pacaran?" tanyanya.
"Belum."
"Kenapa?"
"Sen belum siap."
Tira ingin menasihati, tetapi Archen lebih dahulu menjelaskan bahwa ia sudah jujur kepada Athena dan mereka membuat kesepakatan. Tira akhirnya mengangguk. Ia sadar Archen tidak membutuhkan orang dewasa yang mengambil keputusan, melainkan tempat pulang jika keputusannya keliru.
"Yang penting jangan bikin Athena menunggu sambil menebak-nebak," kata Tira.
"Iya."
"Dan jangan karena trauma terus kamu merasa boleh menyakiti orang."
Archen terdiam, lalu menyetujui. Luka dapat menjelaskan sikap, tetapi tidak selalu membenarkannya.
Di sekolah, perubahan Jessie mulai memengaruhi kelompok lamanya. Veren dan Lala mengejek permintaan maaf Jessie sebagai pencitraan. Mereka menyebarkan kabar bahwa Kheanu menyuruh Jessie berubah karena jatuh cinta kepadanya.
Jessie hampir membalas dengan membuka rahasia mereka. Jarinya sudah berada di atas tombol kirim ketika ia teringat nasihat Kheanu. Berhenti menyakiti orang harus dimulai bahkan ketika ia memiliki alasan untuk marah.
Ia menyimpan ponsel dan melaporkan ejekan tersebut kepada guru, sesuatu yang dahulu dianggapnya sebagai tindakan pengecut. Ternyata meminta bantuan tidak sama dengan lemah.
Kheanu mengetahui gosip itu dari Panji. Ia membantah bahwa dirinya dan Jessie memiliki hubungan khusus, tetapi tidak ikut menertawakan Jessie.
"Dia lagi berusaha berubah," katanya. "Kalau mau nilai, lihat tindakannya nanti."
Namun ketika ia mendengar Athena dan Archen telah saling mengakui perasaan, seluruh kebijaksanaannya mendadak terasa tidak berguna. Kheanu membutuhkan tempat sepi agar tidak ada yang melihat ekspresi wajahnya.
Ketika jam istirahat, Jessie menemukannya sendirian di belakang perpustakaan.
"Lo kenapa?" tanyanya.
"Gak kenapa-napa."
"Kalau bohong jangan sambil muka kayak habis ditinggal nikah."
Kheanu tertawa hambar. Untuk pertama kalinya, Jessie menjadi orang yang melihat kesedihannya sebelum orang lain.