Jessie duduk di samping Kheanu tanpa meminta izin. Halaman belakang perpustakaan merupakan tempat yang jarang didatangi siswa. Hanya ada bangku kayu, dua pohon mangga, dan suara kendaraan dari jalan utama.
"Gara-gara Athena?" tanyanya.
Kheanu tidak menjawab.
"Berarti benar."
"Jangan sok tahu."
"Gue memang banyak salah, tapi gue gak buta." Jessie menatap lurus ke depan. "Lo suka dia sejak kapan?"
"Bukan urusan lo."
"Oke."
Jessie benar-benar berhenti bertanya. Sikap itu justru membuat Kheanu merasa bersalah.
"Lama," katanya akhirnya. "Tapi dia suka Archen."
"Terus lo pernah ngomong?"
"Buat apa? Biar dia merasa bersalah karena gak suka balik?"
Jessie mengangguk pelan. Ia terbiasa mengejar apa pun yang diinginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Cara Kheanu mencintai Athena terasa asing.
"Lo baik banget sampai nyebelin," katanya.
"Gue gak sebaik itu. Kadang gue berharap Archen bikin kesalahan besar, terus Athena menjauh."
"Pikiran jahat gak selalu bikin lo jadi orang jahat."
Kheanu menoleh. "Sejak kapan lo bijak?"
"Sejak ulang tahun gue ditemenin kurir kue yang sok galak."
Bel masuk berbunyi. Mereka kembali ke kelas tanpa menyelesaikan percakapan. Namun sejak hari itu, Jessie mulai memperhatikan Kheanu bukan sebagai salah satu teman lama yang bisa ia panggil ketika kesepian, melainkan seseorang yang juga menyimpan luka.
Masalah di sekolah segera mengalihkan perhatian mereka. Sebuah akun anonim mengunggah foto Archen dan Athena di depan rumah sakit jiwa. Keterangan fotonya menyebut Archen sebagai anak pembunuh yang berpacaran dengan putri hakim. Dalam waktu satu jam, unggahan itu menyebar ke grup sekolah.
Athena melihatnya saat pelajaran berlangsung. Tangannya langsung dingin. Archen duduk di kelas berbeda dan belum membalas pesan.
Dean merebut ponsel Athena. "Siapa yang kurang kerjaan bikin beginian?"
"Gue gak tahu."
Kheanu membaca unggahan itu dan menahan marah. Jessie tampak pucat. Ia mengenal cara kerja akun anonim semacam itu karena dulu pernah membayar seseorang untuk menyebarkan gosip tentang siswi yang dibencinya.
"Gue bisa cari tahu," kata Jessie.
"Gimana?" tanya Dean curiga.
"Karena gue tahu orang-orang yang biasa ngurus akun beginian."
Pengakuan tersebut membuat suasana hening. Jessie tidak mencoba membersihkan namanya.
"Dulu gue pernah pakai jasa mereka," lanjutnya. "Kalau kalian gak percaya sama gue, gak apa-apa. Tapi gue mau bantu."
Athena menatapnya. "Cari tahu, tapi jangan balas nyebarin data orang lain."
"Iya."
Archen tidak masuk sekolah lagi setelah jam istirahat. Tira menjemputnya setelah wali kelas menghubungi. Beberapa siswa berbisik ketika ia melewati koridor. Tidak ada yang berani bertanya langsung.
Athena ingin ikut, tetapi Archen mengirim pesan: Gue butuh sendiri dulu. Jangan datang.
Kalimat itu menyakitkan. Namun Athena mengingat kesepakatan mereka. Archen berhak meminta ruang, tetapi ia juga harus memberi kabar.
"Oke. Kasih tahu kalau lo sudah aman di rumah," balas Athena.
Setengah jam kemudian Archen mengirim foto meja kamarnya. Athena mengembuskan napas lega.
Pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua. Hakim Syarif datang bersama bunda Athena. Tira mendampingi Archen. Kepala sekolah menjelaskan bahwa penyebaran informasi keluarga dan foto di fasilitas kesehatan merupakan pelanggaran serius.
Syarif tidak menggunakan jabatannya untuk mengancam. Ia meminta sekolah menyimpan bukti digital dan membuat laporan sesuai prosedur.
Archen duduk dengan rahang tegang. Ia tidak menatap Syarif sampai sang hakim berkata, "Yang dilakukan ayahmu bukan kesalahanmu. Sekolah harus memastikan tidak ada anak yang dihukum oleh gosip atas kejahatan orangtuanya."
Untuk pertama kalinya, Archen berbicara langsung kepada orang yang dahulu menjatuhkan hukuman kepada papanya.
"Om gak benci sama keluarga saya?"
"Tugas saya waktu itu menilai perbuatan berdasarkan bukti. Bukan mewariskan hukuman kepada anaknya."
Jawaban tersebut mengangkat beban yang tidak pernah Archen sadari masih dibawanya.
Jessie menghubungi kenalan lamanya malam itu. Ia mendapat petunjuk bahwa akun tersebut dibayar melalui dompet digital milik siswa SMA Pelita Bangsa. Nama pengirim belum diketahui, tetapi orang itu meminta foto Archen dan Athena diunggah tepat setelah liburan.
Jessie mengirim seluruh percakapan kepada Athena dan kepala sekolah. Ia tidak meminta namanya dirahasiakan terkait masa lalunya menggunakan jasa yang sama.
"Kenapa lo bantu gue?" tanya Athena melalui telepon.
"Karena gue lagi belajar berhenti jadi pengecut."
"Makasih, Jes."
Itu merupakan ucapan terima kasih pertama yang diterima Jessie dari orang yang pernah disakitinya. Ia menangis setelah sambungan ditutup.
Archen kembali sekolah dua hari kemudian. Athena menunggunya di gerbang, tetapi tidak langsung memeluk. Ia hanya berjalan di sampingnya.
"Gue malu," kata Archen.
"Yang harus malu orang yang nyebarin."
"Semua orang sekarang tahu."
"Mereka tahu potongan cerita. Mereka gak berhak menentukan siapa lo."
Di sepanjang koridor, bisikan masih terdengar. Archen ingin berbalik. Athena tidak menarik tangannya. Ia hanya menyesuaikan langkah agar tetap sejajar.
Ruang yang pernah Archen minta kini tidak berubah menjadi jarak. Athena hadir tanpa mengambil kendali.
Pihak rumah sakit ikut menyelidiki bagaimana foto tersebut diambil. Kamera pengawas menunjukkan seseorang memotret dari area parkir saat Archen dan Athena berjalan menuju taman. Wajahnya tertutup masker, tetapi seragam sekolah tampak di balik jaket.
Archen merasa bersalah karena telah membawa Athena ke tempat itu. Athena menolak kesalahan tersebut diletakkan padanya.
"Yang salah orang yang ngambil dan nyebarin foto," katanya. "Bukan lo karena cerita, bukan gue karena ikut."
Malam setelah kembali sekolah, Archen mengalami mimpi tentang mamanya. Dalam mimpi itu seluruh siswa berdiri di rumah mereka ketika Teriyanto melakukan kekerasan. Tidak seorang pun membantu. Archen terbangun sambil berteriak.
Tira masuk setelah mengetuk keras. Ia duduk di lantai dan membantu Archen mengatur napas. Keesokan harinya Tira menyarankan konseling profesional.
"Sen gak gila," jawab Archen cepat.
"Tante gak bilang begitu. Orang yang terluka ke dokter bukan berarti dia lemah."
Archen belum bersedia, tetapi tidak langsung menolak seperti biasanya. Ia meminta waktu mencari psikolog yang tidak memiliki hubungan dengan kasus papanya.
Athena mendukung keputusan itu tanpa memaksa dirinya menjadi pengganti terapis. Ia menyadari kasih sayang saja tidak selalu cukup untuk merawat luka yang begitu dalam.
Sementara Jessie menyerahkan bukti digital, Dean mempertanyakan apakah semua itu jebakan baru. Jessie menerima kecurigaan tersebut.
"Gue yang bikin kalian susah percaya," katanya. "Gue cuma bisa terus kasih bukti lewat tindakan."
Kheanu menyimpan salinan percakapan untuk berjaga-jaga. Persahabatan mereka belum pulih sepenuhnya, tetapi kerja sama mulai terbentuk.
Mereka belum kembali menjadi kelompok lama. Namun hari itu, kebencian dan kesalahan masa lalu tidak menghalangi mereka melakukan hal yang benar.
Di ujung koridor, Kheanu dan Jessie berdiri menunggu. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, mereka berempat berada di sisi yang sama dalam menghadapi masalah yang bukan perkara kecil.