Ide katalog digital Kheanu langsung disambut Ratih. Selama ini pesanan dicatat dalam buku besar dan pesan yang menumpuk di ponsel. Kesalahan tanggal sering terjadi ketika toko ramai.
"Kalau bikin situs mahal gak?" tanya Ratih.
"Gue bisa mulai dari katalog sederhana dan formulir pesanan."
Kirana menawarkan diri memotret kue, sedangkan Jessie tanpa sengaja mendengar rencana itu ketika datang mengembalikan jaket Kheanu.
"Foto produk kalian kurang menarik," komentarnya.
"Baru datang udah menghina," kata Kheanu.
"Gue bisa bantu. Rumah gue punya kamera yang jarang dipakai."
Ratih tidak langsung menerima. Ia bertanya apakah Jessie serius dan bersedia mengikuti aturan toko. Jessie mengangguk.
Hari Minggu mereka mengubah ruang makan menjadi studio sederhana. Jessie ternyata memahami komposisi foto karena pernah mengikuti kursus. Ia tidak hanya memotret kue mahal, tetapi juga jajanan pasar yang menjadi produk utama Ratih.
Kirana mengedit foto, Kheanu membuat daftar harga, dan Ratih memastikan tidak ada deskripsi yang berlebihan. Suasana kerja terasa hangat. Jessie beberapa kali lupa bahwa rumah sederhana itu bukan miliknya.
Saat makan siang, Ratih bertanya tentang sekolah. Jessie menjawab jujur bahwa ia sedang menjalani konseling dan pelayanan sosial karena pernah merundung teman.
"Tante pasti gak suka saya dekat Kheanu," katanya.
"Tante gak suka perbuatanmu," jawab Ratih. "Tapi kalau kamu sungguh berubah, tunjukkan dengan waktu."
Jessie menerima jawaban tersebut. Ia tidak mendapat pengampunan instan, tetapi juga tidak ditolak selamanya.
Di tempat lain, Athena menghadapi masalah pertamanya sebagai pacar Archen. Sarah mengirim foto Archen belajar bersama seorang siswi bernama Celine di perpustakaan. Celine merupakan juara olimpiade yang membantu Archen mengejar materi hukum dasar untuk lomba debat.
Athena merasa cemburu. Ia hampir mengirim pertanyaan bernada menuduh, lalu memilih menunggu sampai perasaan lebih tenang.
"Sen, lo lagi belajar sama Celine?" tanyanya setelah sekolah.
"Iya. Gue lupa kasih tahu."
"Gue lihat dari foto Sarah."
Archen menangkap kekecewaan Athena. "Harusnya gue bilang. Tapi ini benar-benar soal lomba."
"Gue percaya. Gue cuma kaget."
"Lo mau gue berhenti belajar sama dia?"
Athena menggeleng. "Enggak. Gue gak mau jadi pacar yang ngelarang lo punya teman perempuan. Tapi kalau kalian sering ketemu di luar jadwal, kasih tahu aja."
Archen setuju. Ia juga mengakui dirinya mungkin akan cemburu jika posisi dibalik. Mereka belajar bahwa kepercayaan tidak berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan membicarakannya tanpa mengendalikan.
Syarif kemudian mengundang Archen makan malam bersama keluarga Athena. Archen gugup hingga salah memasang kancing kemeja. Tira memperbaikinya sambil tertawa.
"Ini cuma makan malam, bukan pemeriksaan saksi."
"Yang ngajak hakim."
"Hakim juga manusia dan bisa nambah nasi."
Di meja makan, Syarif menanyakan rencana kuliah dan konseling Archen tanpa meminta rincian pribadi. Bunda Athena lebih banyak membahas makanan. Suasana mulai cair sampai Syarif menyebut ada kemungkinan Teriyanto dipindahkan kembali ke fasilitas pemasyarakatan jika kondisinya stabil.
Sendok Archen berhenti.
"Om tahu dari mana?"
"Saya mendapat pemberitahuan administratif karena pernah menangani perkara. Tapi saya tidak lagi punya kewenangan."
Archen belum pernah memikirkan kemungkinan papanya keluar dari rumah sakit jiwa, meski tetap menjalani hukuman. Kata stabil terdengar seperti ancaman bahwa Teriyanto dapat kembali menjadi lelaki berkuasa.
Athena melihat perubahan wajahnya. Ia tidak menyentuh Archen di depan meja. Setelah makan, mereka berbicara di teras.
"Gue takut dia pura-pura sembuh," kata Archen.
"Penilaiannya dilakukan tim dokter, bukan satu orang."
"Dulu dia bisa beli banyak orang."
"Sekarang situasinya berbeda. Kalau lo mau, kita cari informasi lewat jalur resmi."
Archen menghubungi pengacara keluarga dan psikolognya. Ia memilih mencari fakta, bukan membiarkan ketakutan membentuk seluruh cerita.
Malam itu hubungan mereka diuji bukan oleh orang ketiga, melainkan masa lalu yang kembali membuka pintu. Athena ingin berkata semuanya akan baik-baik saja, tetapi tidak ada yang dapat menjamin.
"Apa pun hasilnya, lo gak harus menghadapi sendiri," katanya.
Archen mengangguk. Kali ini ia percaya sedikit lebih cepat.
Syarif kemudian meminta maaf karena menyampaikan berita tentang Teriyanto tanpa memastikan kesiapan Archen. Ia terbiasa menganggap informasi resmi harus diberikan secepat mungkin, padahal penerimanya tetap manusia.
"Om pikir kamu berhak tahu," katanya.
"Saya memang mau tahu. Cuma mungkin bukan di meja makan," jawab Archen.
Mereka sepakat informasi berikutnya disampaikan melalui Tira dan pengacara. Batas itu membuat Archen merasa memiliki kendali tanpa menutup fakta.
Dalam sesi konseling, Archen membuat daftar langkah menghadapi kabar tentang papanya: memastikan sumber, menghubungi orang yang dipercaya, menunda keputusan saat tubuh panik, dan tidak mencari informasi acak di internet tengah malam.
Athena belajar menjaga batas berbeda. Ia meminta satu malam untuk belajar tanpa membalas pesan panjang. Archen sempat merasa ditolak, tetapi mengingat bahwa ruang tidak sama dengan ditinggalkan.
"Besok kita ngobrol," tulis Athena.
"Oke. Semangat belajar."
Di toko Ratih, pesanan pertama dari katalog digital datang sebanyak lima puluh kotak. Kheanu menghitung kemampuan produksi dan menyarankan hanya menerima empat puluh. Ratih bangga karena anaknya tidak sekadar mengejar pemasukan.
Jessie membantu memotret proses, tetapi meminta izin para pegawai sebelum wajah mereka diunggah. Perhatian terhadap privasi itu lahir dari kasus foto Archen.
Setelah pekerjaan selesai, Jessie bertanya apakah Kheanu masih menyukai Athena.
"Masih," jawab Kheanu jujur.
Jessie menahan kecewa. "Terus kenapa lo baik sama gue?"
"Karena baik gak harus berarti jatuh cinta."
Jawaban itu menetapkan batas yang menyakitkan tetapi aman. Jessie tidak ingin dibohongi, sedangkan Kheanu tidak ingin menggunakan perhatian Jessie untuk melupakan Athena.
Malamnya Archen memutuskan akan menyampaikan pernyataan kepada tim evaluasi. Ia tidak meminta Teriyanto kehilangan perawatan. Ia hanya meminta hukum tetap dijalankan dan keluarganya dilindungi. Untuk pertama kalinya, kemarahan Archen berubah menjadi tuntutan yang jelas, bukan keinginan menghancurkan.
Masing-masing pulang membawa rencana baru. Tidak satu pun rencana itu pasti, tetapi setidaknya kini masa depan tidak hanya ditentukan oleh ketakutan lama.
Athena menyimpan surat pilihan studinya di meja. Archen menyimpan kartu pos. Jessie menyimpan dua pesan anonim, sedangkan Kheanu membawa rencana toko. Benda-benda kecil itu menjadi pengingat bahwa perjalanan telah memberi mereka arah yang berbeda.