Berita mengenai evaluasi Teriyanto benar adanya. Tim dokter menilai gejalanya mulai terkendali setelah pengobatan rutin. Namun stabil bukan berarti bebas. Ia mungkin dipindahkan ke rumah sakit khusus di dalam lembaga pemasyarakatan dengan pengamanan lebih ketat.
Penjelasan pengacara tidak sepenuhnya menenangkan Archen. Ia takut jaringan politik lama papanya kembali bekerja.
"Sebagian orang yang dulu dekat dengannya sudah gak punya jabatan," kata Tira. "Tapi kita tetap waspada lewat prosedur."
Archen ingin mencari nama semua dokter dan petugas. Psikolog membantunya membedakan tindakan pencegahan dengan usaha mengendalikan segala hal. Mereka menyusun daftar informasi yang memang berhak diperoleh keluarga korban dan hal-hal yang berada di luar kuasa Archen.
Athena tidak ikut dalam setiap pertemuan. Ia tetap belajar untuk ujian dan mendaftar seminar psikologi. Ketika Archen bertanya mengapa ia tidak datang, Athena menjawab jujur.
"Karena lo punya Tira, pengacara, dan psikolog. Gue pacar lo, bukan seluruh tim pendukung."
Archen sempat tersinggung. Setelah memikirkannya, ia menyadari Athena sedang menjaga hubungan mereka agar tidak hanya berisi trauma.
Mereka pergi makan bakso pada akhir pekan dan sengaja tidak membahas Teriyanto selama satu jam. Percakapan tentang film dan tugas sekolah terasa canggung pada awalnya, kemudian menyenangkan.
Di toko kue, katalog digital mulai menghasilkan pesanan baru. Foto-foto Jessie disukai pelanggan. Ratih menawarkan upah, tetapi Jessie menolak.
"Saya cuma bantu."
"Kerja tetap harus dihargai," kata Ratih. "Kalau kamu gak mau uangnya, simpan untuk kegiatan sosial."
Jessie akhirnya menerima. Ia menggunakan sebagian untuk membeli buku anak bagi perpustakaan sekolah. Bukan untuk difoto, melainkan karena bagian bacaan anak memang kekurangan koleksi.
Kheanu mulai melihat perubahan Jessie bertahan bahkan ketika tidak ada yang memuji. Perasaannya terhadap Athena belum hilang, tetapi kehadiran Jessie tidak lagi hanya menjadi pengalih perhatian.
Suatu sore hujan deras membuat Jessie tertahan di toko. Listrik padam dan Ratih meminta Kheanu menyalakan lilin. Mereka duduk di dekat etalase sambil menunggu hujan reda.
"Rumah lo pasti nyariin," kata Kheanu.
"Mereka belum tentu tahu gue keluar."
"Lo masih sering sendirian?"
"Iya. Tapi sekarang gue gak selalu merasa kesepian."
Jessie bercerita tentang konseling dan rasa malu setiap kali mengingat perbuatannya. Kheanu berkata rasa malu berguna jika mendorong perbaikan, tetapi berbahaya jika membuat Jessie percaya dirinya selamanya buruk.
"Lo dapat kalimat begitu dari mana?" tanya Jessie.
"Mama."
"Pantes. Terlalu bijak buat dari lo."
Kheanu melempar tisu ke arahnya.
Hujan juga membawa perkembangan bagi Tira dan Hendra. Setelah berminggu-minggu menunda percakapan, Tira akhirnya mengajak Hendra ke kedai kopi. Ia mengakui memiliki perasaan, tetapi takut hubungan akan mengganggu tanggung jawabnya terhadap Archen.
"Saya gak mau menggantikan siapa pun di keluarga Mbak," kata Hendra. "Saya cuma mau membangun tempat saya sendiri kalau Mbak izinkan."
Tira menerima ajakan menjalani hubungan secara serius. Hendra begitu bahagia hingga salah meminum kopi Tira yang tidak memakai gula.
Di tengah kabar baik itu, surat resmi mengenai pemindahan Teriyanto datang. Pemindahan dijadwalkan dua minggu lagi. Archen tidak diwajibkan hadir, tetapi diberi kesempatan menyampaikan pernyataan dampak kepada tim evaluasi.
Ia menulis draf sepanjang enam halaman yang penuh kemarahan. Kemudian ia merobeknya. Draf kedua terlalu sopan seolah rasa sakitnya tidak penting. Ia juga membuangnya.
Athena menemani Archen di kedai teh ketika ia menulis draf ketiga. Kali ini Archen menjelaskan bahwa gangguan jiwa Teriyanto tidak menghapus akibat perbuatannya. Ia tidak meminta papanya disiksa atau kehilangan pengobatan. Ia meminta keselamatan keluarga dijaga dan akses komunikasi dibatasi.
"Gue jahat gak karena gak mau dia bebas?" tanyanya.
"Lo minta hukuman dijalankan dan keselamatan dijaga. Itu bukan balas dendam."
Archen menyerahkan pernyataan tersebut melalui pengacara. Beberapa hari kemudian, tim menyetujui pemindahan dengan pengamanan ketat dan larangan menghubungi Archen tanpa persetujuan.
Namun pada malam sebelum pemindahan, Tira menerima amplop tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat foto rumah mereka dan satu kalimat tercetak.
Teriyanto tidak pernah bekerja sendirian.
Tira segera menghubungi polisi. Archen memandangi foto itu dengan tubuh membeku. Masa lalu yang mereka kira berada di balik tembok ternyata masih memiliki tangan di luar.
Athena menerima pesan satu kata dari Archen: Aman.
Polisi datang dan mengambil amplop menggunakan sarung tangan. Kamera keamanan menunjukkan seorang pengendara meletakkannya ketika Bi Ijah pergi ke pasar. Pelat motor sengaja ditutup. Tira sempat ingin membawa Archen menginap di hotel, tetapi petugas meminta mereka menunggu pemeriksaan keamanan.
Hendra datang setelah ditelepon. Ia membantu memeriksa pintu bersama petugas tanpa mengambil alih keputusan Tira. Syarif menghubungi pengacara serta petugas perlindungan. Belum ada yang berani menyimpulkan ancaman berasal dari Teriyanto.
Athena langsung menelepon setelah menerima pesan Archen. Ia menawarkan datang, tetapi Archen menolak karena situasi belum aman.
"Gue tetap di telepon kalau lo mau," katanya.
Sambungan dibiarkan terbuka selama polisi memeriksa halaman. Mereka tidak banyak bicara. Napas Athena cukup mengingatkan Archen bahwa rumahnya sedang terancam, tetapi dirinya tidak sendirian.
Keesokan pagi, polisi menemukan foto dicetak dari kios digital menggunakan akun palsu. Gambar diambil dua hari sebelumnya. Seseorang berarti telah mengawasi rumah setelah informasi evaluasi medis mulai beredar.
Archen tidak masuk sekolah, tetapi tetap menjalani konseling melalui panggilan video. Bersama Tira ia membuat rencana keselamatan: mengganti rute, membatasi informasi jadwal, memasang kamera tambahan, dan menyerahkan semua komunikasi mencurigakan kepada polisi.
Pemindahan Teriyanto tetap berlangsung. Catatan rumah sakit menunjukkan ia tidak memiliki akses untuk mengatur ancaman. Kemungkinan besar ada orang dari jaringan politik lamanya yang masih bergerak, entah untuk membantu atau memanfaatkan nama Teriyanto.
Archen memandangi foto rumah yang kini berada dalam kantong bukti. Tempat paling aman dalam hidupnya telah dijadikan sasaran. Ketakutan lama kembali, tetapi kali ini di sekelilingnya ada prosedur, keluarga, dan orang-orang yang tidak menyuruhnya diam demi menjaga nama.
Ketika pagi datang, mereka sepakat tidak membiarkan ancaman tersebut dirahasiakan demi nama keluarga. Keselamatan akan ditempatkan lebih tinggi daripada rasa malu atau kekhawatiran terhadap gosip baru.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
"Tapi ada masalah besar."