Kalimat kedua Archen membuat Athena langsung duduk tegak di tempat tidur.
"Tapi ada masalah besar."
Archen menjelaskan amplop, foto rumah, dan pesan tentang Teriyanto. Athena ingin datang bersama papanya, tetapi polisi meminta semua orang yang tidak tinggal di sana menjauh sampai pemeriksaan selesai.
"Gue takut, Na," kata Archen melalui telepon.
Itu pertama kalinya ia mengucapkan ketakutan tanpa menutupinya dengan marah.
"Gue dengerin," jawab Athena. "Lo sekarang sama siapa?"
"Tante Tira, Bi Ijah, Hendra, sama polisi."
"Pintu sudah dikunci?"
"Sudah."
Athena membantu Archen menyebutkan fakta yang ada. Belum ada orang masuk ke rumah. Teriyanto masih berada dalam pengawasan. Polisi sedang bekerja. Ancaman itu nyata, tetapi tidak berarti penyerang berada di dalam ruangan.
Pagi hari, petugas menemukan sebagian sidik jari pada amplop, namun belum cocok dengan basis data. Rekaman kios tempat foto dicetak menunjukkan seorang lelaki bertopi. Wajahnya tidak terlihat jelas.
Syarif mengenali satu kemungkinan dari bentuk tubuh dan cara berjalan lelaki tersebut. Ia pernah melihat seorang mantan staf kampanye Teriyanto bernama Damar. Namun pengenalan dari video buram bukan bukti.
"Damar dulu mengurus banyak urusan yang tidak masuk laporan resmi," jelas Tira. "Setelah kasus kakak, dia menghilang."
Archen mengingat Damar sebagai om yang sering membawa hadiah. Kenangan itu membuatnya mual. Orang-orang berbahaya tidak selalu muncul dengan wajah menyeramkan.
Polisi meningkatkan patroli dan meminta keluarga tidak mengunggah kegiatan. Archen pindah sementara ke rumah Syarif karena lokasi mereka lebih terjaga. Keputusan itu terasa aneh. Ia akan tinggal di rumah hakim yang menghukum papanya sekaligus rumah pacarnya.
"Kamar tamu di bawah," kata Syarif. "Athena tetap di lantai atas. Aturan rumah berlaku."
"Pa!" protes Athena.
"Papa menjelaskan supaya semua jelas."
Archen hampir tertawa meski sedang takut.
Hari pertama ia sulit merasa nyaman. Bunda Athena menyiapkan makanan terlalu banyak. Athena dilarang terus menemaninya karena masih harus belajar. Archen justru terbantu oleh rutinitas keluarga itu: suara televisi, aroma masakan, dan perdebatan kecil tentang siapa yang lupa mematikan lampu.
Di sekolah, hanya kepala sekolah dan wali kelas yang mengetahui ancaman. Kheanu menyadari Archen dijemput kendaraan berbeda, tetapi tidak bertanya di depan orang lain.
Jessie menawarkan kenalannya untuk mencari Damar. Archen menolak.
"Gue gak mau lo masuk ke jaringan itu," katanya. "Kalau punya informasi, kasih polisi."
Jessie menerima batas tersebut. Ia menyerahkan nama akun yang pernah berhubungan dengan orang suruhan politik kepada petugas melalui guru pendamping.
Pada malam ketiga, polisi menemukan Damar tinggal di rumah kontrakan pinggiran kota. Namun ketika didatangi, rumah itu kosong. Di dalamnya terdapat koran lama tentang perkara Teriyanto dan salinan jadwal pemindahan.
Ada pula foto Archen di sekolah, Tira di toko, dan Hendra ketika mengantar mereka.
Ancaman itu bukan perbuatan spontan.
Archen membaca ringkasan dari pengacara di ruang tamu rumah Athena. Tangannya bergetar.
"Dia mau apa?"
"Belum diketahui," jawab Syarif. "Bisa jadi ingin menekan keluarga, mendapatkan uang, atau melindungi sesuatu dari perkara lama."
"Kalau dia punya bukti papa gak bekerja sendiri?"
"Maka bukti harus diserahkan melalui hukum, bukan ancaman."
Archen teringat kalimat dalam amplop. Selama ini ia menganggap kematian mamanya merupakan ledakan kekerasan Teriyanto setelah kalah pilkada. Bagaimana jika ada orang lain yang ikut menutupi kejadian? Bagaimana jika Damar mengetahui sesuatu yang tidak pernah muncul di persidangan?
Malam itu Archen tidak bisa tidur. Athena duduk di luar kamar tamu, bersandar pada pintu yang tertutup.
"Gue di sini," katanya.
"Lo seharusnya tidur."
"Lima menit lagi."
Mereka berbicara melalui pintu, menjaga aturan rumah sekaligus kedekatan. Archen akhirnya mengakui bahwa ia ingin mencari Damar sendiri.
"Jangan," kata Athena tegas. "Keberanian bukan berarti datang ke orang yang mungkin bersenjata."
"Kalau polisi gagal?"
"Kita cari cara resmi lain. Tapi lo gak boleh menjadikan hidup lo umpan."
Lima menit berubah menjadi dua puluh. Athena kemudian kembali ke kamar. Archen tetap terjaga, tetapi keinginan bertindak gegabah berkurang.
Keesokan paginya, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Kalau mau tahu kenapa mamamu mati, datang sendiri."
Archen tidak membalas pesan tersebut. Ia mengambil tangkapan layar, mematikan pratinjau notifikasi, dan menyerahkan ponselnya kepada Syarif. Semua langkah itu bertentangan dengan dorongan pertama di kepalanya.
Polisi melacak nomor, tetapi kartu itu dibeli memakai identitas palsu. Pesan mencantumkan lokasi sebuah gudang kosong dan waktu pertemuan malam berikutnya.
"Mereka jelas mengharapkan kamu bertindak sendiri," kata petugas.
"Kalau saya gak datang, bukti tentang mama bisa hilang."
"Kalau kamu datang, keselamatanmu bisa hilang."
Archen membenci bahwa jawaban tersebut benar.
Polisi menyusun operasi tanpa melibatkan Archen. Gudang diawasi sejak sore. Tidak ada Damar. Hanya seorang pengantar barang yang dibayar lewat pesan anonim untuk meletakkan flashdisk di bawah batu.
Isi flashdisk membuat perkara semakin rumit. Ada rekaman suara Teriyanto dan Damar beberapa hari sebelum kematian Sita. Mereka membahas uang kampanye, pengkhianatan kolega, serta kebutuhan membuat Sita diam karena mengetahui aliran dana ilegal.
Rekaman berhenti sebelum ada perintah kekerasan. Polisi harus menguji keasliannya.
Archen mendengar bagian yang boleh diperdengarkan bersama Tira dan pengacara. Suara papanya membuat tubuhnya kembali seperti anak lima belas tahun yang mendengar pertengkaran dari kamar.
"Mama tahu soal uang itu?" tanyanya.
Tira mengangguk pelan. "Kakak pernah bilang ada dokumen yang dia simpan. Tante pikir itu cuma urusan kampanye."
"Kenapa Tante gak cerita waktu sidang?"
"Karena tante takut dan gak tahu dokumennya di mana."
Archen marah. Tira menerima kemarahannya tanpa membela diri. Ia dahulu masih muda, bergantung secara ekonomi, dan takut pada jaringan Teriyanto. Semua itu menjelaskan, tetapi tidak menghapus akibat diamnya.
"Kalau Tante bicara, mungkin semuanya beda."
"Mungkin," jawab Tira dengan mata basah. "Tante menyesal setiap hari."
Archen meninggalkan ruangan. Athena tidak mengejarnya. Ia menunggu di halaman sampai Archen sendiri datang.
"Gue marah sama Tante Tira," katanya.
"Lo boleh marah."
"Tapi dia juga yang ngerawat gue."
"Dua hal itu bisa sama-sama benar."
Kalimat yang sama kembali menyelamatkan Archen dari kebutuhan memilih satu perasaan saja.
Di sekolah, ketidakhadiran Archen mulai memengaruhi persiapan ujian. Rafi mengirim catatan, Celine membantu materi debat, dan Kheanu membawa kue dari Ratih ke rumah Syarif. Archen menyadari bantuan tidak selalu datang dalam bentuk percakapan serius.
Jessie juga menghadapi tekanan. Damar mengirim pesan kepadanya setelah polisi memeriksa kontak lama.
"Anak baik baru seharusnya jangan ikut urusan orang dewasa."
Jessie langsung melapor. Ia gemetar karena ancaman itu membuktikan dirinya telah diperhatikan.
Kheanu marah ketika tahu. "Lo berhenti bantu penyelidikan."
"Gue cuma kasih informasi ke polisi."
"Sekarang dia tahu nama lo!"
"Jadi gue harus diam?"
Pertengkaran mereka membesar. Kheanu sebenarnya takut, tetapi ketakutan keluar sebagai perintah. Jessie menolak dikendalikan.
"Lo boleh khawatir, Nu. Tapi keputusan gue bukan punya lo."
Kheanu terdiam. Kalimat itu serupa dengan pelajaran yang dijalani Athena dan Archen.
"Maaf," katanya akhirnya. "Gue takut lo kenapa-napa."
"Gue juga takut."
Mereka sepakat Jessie tidak melakukan pencarian sendiri dan semua pesan diserahkan kepada polisi. Kheanu tidak dapat menjamin keselamatannya, tetapi dapat menemani tanpa mengambil pilihan.
Uji forensik awal menyatakan rekaman kemungkinan asli. Polisi membuka penyelidikan baru mengenai aliran dana dan dugaan pihak lain yang membantu menutupi kekerasan. Putusan Teriyanto tidak otomatis berubah; bukti baru justru dapat memperluas perkara.
Archen merasa bersalah karena penyelidikan dapat menyeret nama mamanya ke media lagi. Syarif mengingatkan bahwa rahasia kampanye bukan kesalahan Sita.
Malamnya, Tira mengetuk kamar tamu.
"Tante menemukan sesuatu," katanya.
Ia membawa buku resep lama milik Sita. Pada sampul belakang terdapat rangkaian angka yang dahulu dianggap nomor belanja. Setelah dicocokkan, angka itu menyerupai kode loker penyimpanan bank.
Sita mungkin benar-benar meninggalkan dokumen.