Rekaman folder SITA mengubah arah penyidikan. Tanpa memperdengarkannya kepada Archen, pengacara menjelaskan isi pentingnya.
Sita memohon Damar memanggil ambulans setelah Teriyanto menyerangnya. Damar menelepon seseorang yang disebut Pak W. Orang itu memerintahkan agar dokumen dicari lebih dahulu karena jika Sita selamat, jaringan dana dapat terbongkar.
Ambulans baru dipanggil setelah terlambat.
Analisis suara awal menunjukkan Pak W kemungkinan besar Wiratama, tetapi perlu pembanding resmi. Penyidik meminta izin pengadilan untuk mengambil sampel suara.
Archen menerima ringkasan itu di ruang konseling. Ia tidak menghantam dinding. Ia menangis, berteriak ke bantal, lalu duduk sampai napasnya kembali teratur.
"Gue gak akan pernah tahu kalau mama bisa selamat," katanya.
"Ketidakpastian itu memang menyakitkan," jawab psikolog. "Kamu tidak perlu menyelesaikannya hari ini."
Tira menyalahkan diri lagi karena tidak datang malam itu. Archen belum mampu menghibur. Mereka menjalani duka masing-masing tanpa menuntut yang lain segera menjadi kuat.
Athena menghadapi ujian praktik ketika menerima kabar. Ia ingin meninggalkan sekolah, tetapi Archen meminta dirinya menyelesaikan ujian.
"Gue sama psikolog dan Tante," katanya. "Datang sore kalau masih mau."
Athena mengikuti ujian hingga selesai. Sore harinya ia membawa makanan dan duduk bersama Archen tanpa meminta rincian rekaman.
Di sekolah, rumor baru muncul bahwa Syarif sengaja membuka kembali kasus untuk melindungi hubungan putrinya. Syarif mengundurkan diri dari segala konsultasi informal dan menyerahkan seluruh komunikasi kepada penyidik lain demi mencegah konflik kepentingan.
Athena kesal papanya kembali diserang.
"Sekarang gue ngerti sedikit rasanya nama keluarga dipakai orang," katanya kepada Archen.
"Gak enak, kan?"
"Banget."
Pengalaman itu membuat Athena lebih berhati-hati. Ia tidak menyamakan tekanan terhadap Syarif dengan trauma Archen, tetapi keduanya dapat saling memahami tanpa berlomba menentukan siapa paling menderita.
Jessie menghadapi ayahnya lagi. Ia menunjukkan informasi beasiswa dan nilai yang meningkat. Ayahnya menertawakan rencana menjadi guru.
"Kamu akan bosan hidup sederhana."
"Mungkin. Tapi aku mau mencoba hidup yang kupilih."
Ibunya yang selama ini diam akhirnya berbicara. Ia meminta suaminya memberi Jessie kesempatan mengikuti seleksi. Bukan dukungan penuh, tetapi retakan pertama dalam keputusan sepihak keluarga.
Kheanu merayakan kabar itu dengan memberikan satu kue kecil bertuliskan Calon Mahasiswa. Jessie protes karena belum diterima.
"Makanya gak gue tulis calon guru. Biar fleksibel."
"Pelit huruf."
Mereka tertawa. Saat Jessie hendak pulang, ia mencium pipi Kheanu secara spontan. Keduanya membeku.
"Sorry," kata Jessie cepat. "Gue gak seharusnya—"
"Gue kaget, bukan marah."
Kheanu jujur bahwa ia belum siap memulai hubungan. Jessie malu, tetapi menerima.
"Gue gak mau jadi pelarian lo."
"Dan gue gak mau pakai lo sebagai pelarian."
Mereka sepakat menjaga jarak beberapa hari. Kedekatan mereka tidak hancur, tetapi membutuhkan batas baru.
Hasil pembanding suara keluar. Tingkat kecocokan dengan Wiratama sangat tinggi. Bersama transaksi dan kesaksian Damar, bukti cukup untuk menetapkannya sebagai tersangka dugaan penghalangan pertolongan, perusakan bukti, dan kejahatan finansial.
Polisi mendatangi rumah Wiratama.
Ia tidak ada.
Pesawat pribadinya diketahui berangkat dua jam sebelumnya menuju negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi mudah.
Kepergian Wiratama menimbulkan kemarahan publik. Orang-orang yang sebelumnya membela mulai mempertanyakan mengapa ia melarikan diri jika merasa tidak bersalah. Pengacaranya menyebut perjalanan itu urusan bisnis yang telah dijadwalkan.
Interpol diminta menerbitkan pemberitahuan internasional. Rekening perusahaan tertentu dibekukan. Namun penyidik mengingatkan bahwa membawa Wiratama pulang bisa memakan waktu lama.
Archen merasa semua kerja mereka sia-sia.
"Dia punya uang. Dia bisa hidup nyaman di luar negeri," katanya.
"Untuk sekarang mungkin," jawab pengacara. "Tapi ruang geraknya menyempit. Proses belum berhenti."
Archen membenci kata proses. Seluruh hidupnya seperti dipenuhi proses yang tidak pernah menjanjikan hasil cepat.
Ujian akhir sekolah tiba tanpa peduli pada buronan internasional. Archen duduk di ruang ujian bersama siswa lain. Ketika pikirannya kembali kepada Wiratama, ia melihat kartu kecil yang diizinkan psikolog berada di dalam saku: Hari ini tugasmu hanya mengerjakan soal di depanmu.
Ia menyelesaikan ujian pertama. Lalu kedua. Hari demi hari, dunia mengecil menjadi lembar jawaban, makan siang, dan tidur cukup.
Athena menerima pengumuman lebih dahulu. Ia lolos tahap awal universitas di Yogyakarta dan harus mengikuti wawancara. Ia memberi tahu Archen pada hari yang sama.
"Selamat," kata Archen. Senyumnya jujur meski dadanya terasa berat.
"Kita belum tahu hasil akhir."
"Tetap harus dirayain."
Mereka membeli minuman di kedai sudut jalan. Tidak ada janji bahwa jarak akan mudah. Mereka membuat daftar pertanyaan untuk dibahas setelah ujian: biaya perjalanan, waktu komunikasi, kepercayaan, dan kemungkinan hubungan berakhir.
"Yang terakhir harus ditulis?" tanya Athena.
"Kalau gak ditulis, kemungkinannya tetap ada."
Athena menggenggam tangannya. Kejujuran menakutkan, tetapi lebih baik daripada kepastian palsu.
Archen sendiri mengirim pendaftaran fakultas hukum Jakarta dan Bandung. Esainya diterima untuk tahap wawancara. Ia tidak memakai kasus Sita sebagai kisah dramatis, melainkan membahas pentingnya prosedur hukum melindungi orang tanpa kuasa.
Jessie mengikuti seleksi beasiswa diam-diam dengan sepengetahuan ibunya. Ayahnya belum memberi izin, tetapi tidak lagi mengancam menghentikan sekolah. Dalam wawancara, Jessie jujur tentang catatan perundungan dan pelayanan sosial.
"Kenapa kami harus percaya Anda ingin menjadi pendidik?" tanya pewawancara.
"Jangan percaya dari ucapan saya hari ini," jawab Jessie. "Lihat apa yang saya kerjakan dan apakah saya konsisten."
Kheanu menunggu di luar gedung bersama Ratih. Setelah ciuman spontan, mereka belum kembali senormal sebelumnya. Kheanu tetap datang karena telah berjanji sebelum kejadian.
"Gimana?" tanyanya.
"Gue mungkin baru menghancurkan kesempatan sendiri karena ngaku pernah bully."
"Kalau mereka cuma mau cerita sempurna, tempat itu bukan buat lo."
Jessie tersenyum. Ia tidak mencium Kheanu lagi. Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang cukup.
Toko Ratih mempekerjakan seorang ibu tunggal bernama Mira. Pesanan menjadi lebih teratur, dan Ratih mendapat satu hari libur pertama dalam bertahun-tahun. Kheanu mengajak mamanya piknik sederhana bersama Kirana.
"Ternyata bisnis berkembang bukan cuma soal tambah uang," kata Ratih.
"Kadang soal punya waktu makan tanpa berdiri," jawab Kheanu.
Di rumah Archen, hubungan Tira dan Hendra mencapai pembicaraan serius. Hendra ingin menikah suatu hari nanti, tetapi tidak menetapkan waktu. Tira meminta setahun untuk melihat bagaimana mereka menyatukan kehidupan tanpa mengganggu kestabilan Archen dan Bi Ijah.
Archen menolak dijadikan alasan menunda.
"Tante boleh butuh waktu karena Tante sendiri takut. Jangan bilang karena Sen."
Tira tertawa getir. Keponakannya semakin pandai mengenali pola pengorbanan yang tidak sehat.
Pada Jumat malam, pembaruan kasus datang. Wiratama terlacak berada di sebuah negara tetangga setelah menggunakan paspor kedua. Negosiasi pemulangan sedang dilakukan.
Ada kabar lain. Teriyanto meminta bertemu Archen dan menawarkan kesaksian lengkap mengenai jaringan dana serta malam kematian Sita.
Permintaannya tidak disertai syarat hukum. Ia hanya menitipkan satu kalimat melalui dokter.
"Aku ingin mengatakan kebenaran sebelum pikiranku hilang lagi."
Archen membaca pesan itu berulang kali. Teriyanto adalah pelaku yang membunuh mamanya, seorang pasien yang kadang tidak mengenali waktu, dan satu-satunya orang hidup yang mungkin mengetahui seluruh kejadian dari dalam rumah.
Athena tidak memberi saran menerima atau menolak.
"Apa yang lo butuhin supaya bisa memilih?" tanyanya.
Archen memikirkan pengacara, psikolog, kaca pemisah, serta hak menghentikan pertemuan kapan saja.
"Gue butuh dia gak punya kendali atas ruangan," jawabnya.
Sudut ruang pertemuan itu mungkin menyimpan jawaban. Namun kali ini Archen akan menentukan sendiri pintu mana yang dibuka dan kapan ia keluar.